
Selama di perjalanan Aurel mengoceh dari kiri ke kanan, menceritakan kehidupannya selama ini pada Bagas. Ekspresinya berubah-ubah kadang ekspresinya sedih saat menceritakan salah satu keinginannya yang tidak bisa ia dapatkan karena keadaan ekonomi, namun ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi senang saat menceritakan ia menjadi guru TK.
25 menit di perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah Mall di pinggiran kota. Banyak pengunjung yang datang, kebanyakan anak muda yang sedang berpacaran. Mungkin karena ada film romantis yang baru rilis malam ini yang membuat Mall nampak ramai pengunjung.
Bagas langsung membawa Aurel ke butik. Di butik ia membiarkan Aurel untuk mencari pakaian yang pas untuknya karena Bagas khawatir jika dia yang mencarinya akan tidak sesuai dengan keinginan Aurel.
Setelah membeli beberapa pakaian, Bagas membawa Aurel ke supermarket di dalam Mall.
Tidak lama Aurel mengeluh ingin segera pulang karena kakinya yang sudab pegal.
"Dasar, tadi kamu yang ngerengek minta ikut" Ucap Bagas sambil tersenyum.
"Ya kan aku gak tau bakal capek gini Mas. Ini juga liat kaki aku udah bengkak" Keluh Aurel.
"Yaudah ayok pulang, gak ada yang mau dibeli lagi kan?" Bagas memastikan agar mereka tidak kembali lagi kesini.
"Gak ada. Eh gak tau. Ah pokoknya mau pulang aja sekarang mah" Ucap Aurel.
"Iyaiya ayok" Bagas menggandeng tangan Aurel ke parkiran mobil.
***
Sementara di mansion, Aydan dan Neli sedang berbincang di dalam kamarnya.
"Udah cek pake tespack?" Tanya Aydan.
"Udah sering, tapi tadi aku datang bulan" Ucap Neli.
"Hahh,, udahlah mungkin belum di kasih sama Allah" Ucap Aydan.
"Sabar ya Ay,, aku juga mau segera hamil" Ucap Neli sambil menunduk.
"Gimana kalo kita tes ke dokter?" Ucap Aydan.
"Gak" Jawab Neli dengan cepat.
"Kenapa?" Tanya Aydan.
"Aku takut" Ucap Neli.
"Takut kenapa?" Ucap Aydan.
"Aku mau aja tes tapi aku takut kalau hasilnya buruk" Ucap Neli.
Saat tengah berbincang terdengar ketukan pintu dan Aydan langsung membukakan pintunya.
"Kenapa dek?" Tanya Aydan yang ternyata Amel lah yang mengetuk pintu.
"Aku gabisa tidur kak.. Mau mommy.." Ucap Amel sambil berkaca-kaca.
"Tadi kan kamu sendiri yang mau pulang, masa sekarang mau ke rumah sakit sih. Udah malem dek" Ucap Aydan.
"Tapi aku mau Mommy!!" Teriak Amel.
"Besok aja ya, kakak capek tadi banyak kerjaan dek" Ucap Aydan.
"Gak mauu!!! mau mommy sekarang!!!!!" Amel semakin histeris.
"Kenapa Ay?" Neli menghampiri Aydan saat mendengar jeritan Amel.
"Mau Mommyy huwaaaaa!!!" Teriak Amel.
"Adek mau Mommy?? Ayok kakak anter ya, ayok Ay anterin dulu Amel" Ucap Neli.
"Aku capek yang, mau istirahat" Jawab Aydan.
"Sebentar, lagian gak terlalu jauh juga. Kamu mau Amel nangis terus disini?" Tanya Neli.
"Mangkannya lain kali kalo mau sama Mommy jangan pulang" Aydan menatap Amel dengan tajam.
"Huwaaaaaa!!!!!! Abang!!!!" Amel berlari ke kamar Vyan sambil berteriak.
"Ehh kenapa kamu dek?" Tanya Vyan saat Amel tiba-tiba masuk dan memeluknya.
"Hwaaaaaaa kak Ay jahatt!! kak Ay gak sayang sama aku!!" Jerit Amel.
"Jahat kenapa hemm?" Vyan mengangkat tubuh Amel dan di dudukan di pahanya.
"Aku mau ke Mommy!! tapi kata kak Ay gak boleh!! huwaaaa!!" Ucap Amel.
"Udah-udah jangan nangis ya, udah malem ini. Mending kamu tidur, abang temani ya" Ucap Vyan.
"Tapi aku mau Mommy Abang!!" Ucap Amel.
"Iya nanti ketemu Mommy nya besok. Lagian sekarang pasti Mom nya lagi istirahat, kalo kamu datang nanti Mom akan terganggu istirahatnya" Ucap Vyan.
"Sekarang tidur ya, Abang juga udah ngantuk ini. Besok harus sekolah, kamu juga sekolah kan?" Ucap Vyan yang mendapat anggukan dari Amel.
"Yaudah ayok tidur sekarang. Besok pulang sekolah bisa minta anterin supir ke rumah sakit" Ucap Vyan.
Amel memeluk leher Vyan dan memejamkan matanya. Rupanya Amel sudah snagat mengantuk, pantas saja dia rewel.
Vyan membawa Amel ke kamarnya dan langsung menyelimuti tubuh Amel.
Sementara di kamar lain, Neli terus mengoceh pada Aydan karena sikap Aydan benar-benar membuat Neli darah tinggi.
"Udah atuh yang, aku ngantuk ini mau tidur. Kalo kamu ngomel mulu gimana aku bisa nyenyak tidurnya" Ucap Aydan dengan wajah memelasnya.
"Lagian kamu ini udah gede juga. Gak bisa apa ngalah dikit sama adek kamu. Kasian dia" Omel Neli.
"Iyaiya aku minta maaf. Udah ah di pending dulu napa ngomel nya, buat besok lagi. Irit kata kamu tuh" Ucap Aydan.
"Aku ngomel juga karena sikap kamu yang bikin darah tinggi. Kalo istri ngomong ruh dengerin jangan tidur!!" Ucap Neli saat melihat Aydan memejamkan matanya.
"Iya kamu udah 30menit ngomel gak jelas yang, kuping aku rasanya panas. Udah tidur dulu ayok" Aydan menarik Neli dan mengecup keningnya.
"Good night. Udahan dulu ngomelnya, aku besok ada rapat" Ucap Aydan.
"Huhh!!" Neli mendengus kesal. Ia tidur sambil membelakangi Aydan.
***
Setelah sampai di rumah, Aurel memutuskan untuk langsung merebahkan diri di kamar karena tubuhnya benar-benar sudah merasa lelah.Terlihat Bagas baru memasuki kamar dengan membawa paper bag ditangannya.
"Taro aja di sofa Mas biar nanti aku yang rapihin bajunya" Ucap Aurel.
"Kamu istirahat aja, biar Mas yang beresin ini. Lagian Mas lagi nganggur juga" Bagas menjawab sambil tersenyum.
AUREL poV
Saat ini Mas Tian sedang membereskan banu yang tadi sempat aku beli. Aku menatapnya penuh haru. Aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa aku bisa memaafkannya dengan mudah? bahkan jauh di dalam lubuk hatiku aku sangat membencinya saat itu. Apalagi ketika aku mengingat saat dia menampar pipiku, menarik tanganku dengan keras, melemparku ke sofa dengan kasar. Tapi entah ada apa dengan hatiku, aku begitu luluh di hadapannya. Aku tidak bisa membencinya saat aku melihat wajah yang lesu, pipi yang menirus, dan badan yang kurus.
Awalnya aku sempat tidak mengenalinya karena brewok yang tumbuh walau tidak lebat di dagunya. Nyatanya selama ini dia tidak merawat dirinya sendiri dengan baik.
Kupikir ketika aku meninggalkannya perasaan ku akan jauh lebih baik, nyatanya tidak! saat pertama kali aku pergi darinya, rasa bersalah menggerogoti fikiranku. Aku tau bukan aku yang salah, tapi entah mengapa aku tidak bisa mengatakan jika aku membencinya. Aku bahkan memaki diriku sendiri. Mengapa aku meninggalkannya? aku dulu pernah berjanji pada Mommy untuk selalu menemaninya.
Kupandangi lekat wajahnya yang sedang sibuk dengan pakaianku. Air mataku tidak sengaja jatuh namun segera aku tepis karena tidak ingin dia melihatnya.
"Mas" Ucapku pada Mas Tian saat dia selesai membereskan pakaianku.
Dia menghampiriku, bersandar pada sandaran kasur di sampingku lalu mengelus pipiku dengan lembut.
"Kenapa?" Tanya dia dengan suara yang benar-benar lembut.
"Aku takut.." Lirihku.
"Apa yang kamu takutkan sayang?" Tanyanya.
"Aku takut kehilanganmu lagi" Kali ini amu terisak.
Dia merebahkan tubuhnya di sampingku lalu memelukku dengan erat.
"Aku yang harusnya takut sayang. Aku benar-benar bisa gila kalau kamu gak datang hari ini" Ucapnya dengan nada parau.
Aku memeluknya dengan erat. Menyembunyikan wajahku di dadanya. Aku menghirup aroma tubuhnya. Baunya tidak pernah berubah, masih bisa menenangkan pikiranku.
Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya dengan senyuman penuh di bibirku.
"Sarangheyo" Aku memberikan finger heart padanya.
"Nado" Dia menciumi wajahku lalu memelukku lagi.
"Night Darl, Night my son" Ucapnya lalu dia memejamkan mata.
AUTHOR poV
Pagi harinya Aurel terbangun karena alarm di ponsel Bagas yang ada di atas nakas. Aurel meraba nakas dan meraih ponselnya. Ia mematikan alarm tampa melihat layar ponsel karena matanya masih berat untuk terbuka. Aurel menatap Bagas yang masih memeluknya dengan erat, karena semalam baby di dalam perutnya menendang dengan keras akhirnya Bagas mengajaknya berbincang dan lama kelamaan dia tidur seraya memeluk perut Aurel.
Aurel mengelus pelan pipi Bagas.
"Mas sayang, udah shubuh. Bangunn.." Ucap Aurel. Namun nyatanya Bagas tidak bergeming sama sekali, ia terlihat asyik dengan tidurnya.
Aurel kembali menepuk pipi Bagas namun agak keras. Sampai Bagas kaget dan membuka matanya. Raut wajahnya sudah kesal, namun saat melihat Aurel yang membangunkannya ia langsung tersenyum.
"Selamat pagi Mas" Ucap Aurel.
"Pagi sayang, pagi my son" Ucap Bagas. Bukannya bangun Bagas malah semakin mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di perut Aurel.
"Mas sholat dulu, keburu terbit mataharinya" Ucap Aurel.
"5 menit lagi yang" Parau Bagas.
"Gak ada 5 menit Mas! ini udah mau pagi loh" Ucap Aurel yang tidak di dnegarkan oleh Bagas.
"Aku hitung sampe 3 kalo gak bangun, aku pergi lagi" Ucapan Aurel membuat Bagas terbelalak. Ia langsung bangkit dan duduk di kasur.
"Ini udah bangun yang" Ucapnya dengan mata yang masih terpejam.
"Buka dulu itu matanya" Ucap Aurel sambil terkekeh.
"Siap-siap, aku wudhu duluan" Aurel turun dari kasur dan memasuki kamar mandi.
Tak lama ia keluar dari kamar mandi dan mendapatkan Bagas yang meringkuk dan menyembunyikan tubuhnya di balik selimut.
Aurel tersneyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Ayah bangun dong, adek udah bangun masa Ayahnya malah tidur lagi" Ucap Aurel.
"Hemmm" Hanya terdengar suara itu di bawah selimut.
"Yaudah aku sholat sendiri aja Mas lama!" Ketus Aurel.
"Iyaiya ini bangun, tunggu" Dengan malas Bagas bangun dari kasur dan menuju kamar mandi.
Setelahnya mereka melaksanakan sholat berjamaah.
Setelah shalat Bagas memutuskan untuk kembali ke dalam selimutnya. Sedangkan Aurel, dia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur.
__________
I want you'r comment an like for my story.
(╥﹏╥)