
Saat Rere sudah menghabiskan makanannya, Aurel memberikan obat penurun demam karena suhu badannya sangat panas.
Setelah memastikan Rere tertidur, Aurel langsung turun dan menghampiri Bagas yang sedang bermain catur dengan Om Ruli (Ayah Rere).
" Bay "
Mendengar suara Aurel, Bagas langsung menoleh ke arahnya.
" Udah?? " Tanya Baga.
Aurel mengangguk. Bagas melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 17.20, sebentar lagi memasuki waktu maghrib.
" Mau pulang? " Tanya Bagas yang di anggukki Aurel.
Setelah berpamitan pada orangtua Rere, Bagas langsung melajukan mobilnya ke masjid yang tak jauh dari sana, perjalanan menuju masjid hanya memakan waktu 10 menit. Saat sampai disana, mereka langsung mendengar adzan maghrib.
Setelah sholat Aurel meminta Bagas untuk mengantarnya ke rumah sang Mommy karena dia sangat merindukan Vyan dan Amel.
" Assalamualaikum " Ucap Aurel dan Bagas saat sudah berada di depan rumah Raka.
" Waalaikumsallam " jawab Zahra yang kebetulan dia sedang berada di taman depan dengan Amel.
" Lia??? "
" Kak Lia?? "
Mereka menatap Aurel dengan tatapan bingung sekaligus kagum. Aurel yang dulunya sangat susah untuk diajak memakai hijab tapi sekarang tiba-tiba saja sudah menggunakannya.
Aurel tersenyum dan langsung menghampiri keduanya.
" Mom " Aurel menarik tangan Zahra dan menciumnya.
" Sayang " Zahra langsung memeluknya dengan erat, dia tidak menyangka jika anaknya kini sudah berubah. Zahra sering sekali mengajak Aurel untuk mengenakan hijab, namun dia selalu menolak dengan alasan jika dia belum siap.
"Kamu cantik Nak" Ucap Zahra setelah melepaskan pelukkannya.
"Terimakasih Mommyku"
"Kak Lia?" Ucap Amel yang sedari tadi menatap kagum kakaknya.
"Apa bocah" Aurel langsung menggendong Amel.
"You're very beautiful" Celoteh Amel.
"Ohhh thank you mh princess" Jawab Aurel.
"Dimana yang lainnya Mom?" Tanya Aurel pada Zahra.
"Ada di dalem semua, cuma Ay doang yang lagi diluar, lagi sama calon istrinya"
"Jadi bucin juga ya dia"
"Heyyy menantuku sini!" Ucap Zahra pada Bagas.
"Mommy ini" Ucap Bagas yang langsung memeluk Zahra.
"Gimana? Lia ga nyusahin kamu kan?" Bisik Zahra.
Bagas melepaskan pelukkannya dan tersenyum ke arah Aurel, lalu mengusap rambutnya.
"Tenang saja Mom, dia udah jinak sama Tian" Ucapnya yang membuat Aurel mengerucutkan bibirnya.
"Dikira hewan apa jinak" Gerutu Aurel.
"Udah ayok" Zahra mengajak anak-anaknya untuk masuk ke dalam rumah.
Tidak nampak satu orang pun di ruang tengah, kemungkinan besar Raka dan Vyan sedang berada di ruang kerja Raka.
"Biar Lia yang nyamperin Mom" Ucap Aurel yang langsung melangkahkan kakinya ke ruang kerja sang Daddy.
Benar saja, disana terlihat Raka sedang mengajari Vyan salah satu berkas perusahaan.
"Ehemmm" Deheman Aurel membuat 2 orang yang sedang berkutat dengan kesibukkannya menoleh ke sumber suara.
"Bunda" ,"Lia" Ucap mereka berbarengan.
Aurel menghampiri meja kerja dan mencium punggung tangan Raka yang masih terlihat menatap Aurel.
"Awas keluar tuh Dad matanya" Ucap Aurel.
"Ini bener kamu Aurel kan? Anak Daddy?" Ucap Raka.
"Bukan Dad, anak kang sayur!!"
"Kamu ini! Orang mah bersyukur bisa jadi anak Daddy yang tampan ini!"
"Ya lagian pertanyaannya ga bermutu banget" Gerutu Aurel.
"I'm fine Bunda. Bunda kau sangat cantiikkkk!!" Ucap Vyan.
"Emmhhh thank you" Aurel langsung mencium pipi milik Vyan.
***
"Woyyyyyy kedatangan tamu nih kita" Ucap Aydan saat dirinya melihat semua keluarganya sedang berkumpul di ruang tengah.
"Waalaikumsallam Mamat" Sindir Aurel.
"Mamat, dikira tukang semprot nyamuk dbd apa ya" Gerutu Aydan.
"Assalamualaikum my perfect family" Ulang Aydan.
"Waalaikumsallam" Ucap mereka serentak.
"Apa kabar adikku yang jelita tiada tara" Aydan mecubit kedua pipi Aurel.
"Kabar baik kakak laknat, ini sakit tauuu!!" Geram Aurel.
"Lo ngasih makan adik gue apa sih Gas? Makin gede aja pipinya padahal baru beberapa hari doang tinggal sama lo" Ucap Aydan pada Bagas.
"Pur ayam negeri" Jawab Bagas yang langsung mendapat cubitan dari istrinya di perutnya.
"Awww sakit yank" Gumam Bagas.
"Ya ampun punya keluarga kayak gini amat ya" Gerutu Aurel.
"Yang mau nikah mah beda, wajahnya berseri-seri begitu" Sindir Aurel pada Aydan.
"Ya harus berseri-seri dong karena sebentar lagi mau melepas masa lajangku" Bangga Aydan.
"Niatnya mau bikin dia dibuly, lah malah begitu jawabannya" Gumam Aurel.
"Mom Dad kita gabisa lama disini, takut keburu malem dijalannya" Ucap Bagas.
"Loh gamau nginep dulu disini? semalem aja gitu" Ucap Raka.
"Engga bisa Dad!" Ucap Aurel dengan cepat.
"Daddy kayak yang gatau pengantin baru aja!, Bagas itu mau nanem bibit premiumnya " Goda Aydan.
Aurel langsung melempar bantal ke arah Aydan.
"Eitsss tidak bisa" Aydan berhasil menangkapnya dengan gerakkan yang konyol.
"Dah lah males aku ketemu dia mulu. Otaknya udah geser itu, error!!" Cerca Aurel.
"Kami pamit Mom Dad" Aurel dan Bagas langsung mencium tangan Raka dan Zahra.
"Bunda" Lirih Vyan saat melihat Aurel yang akan melangkahkan kakinya ke halaman rumah.
"Iya sayang?" Jawab Aurel.
"Aku ingin ikut dengan Bunda"
Aurel membulatkan matanya dan langsung memeluk Vyan.
"Dengan senang hati, ayok kita bereskan barang-barangmu" Ucap Aurel.
"Bawa seperlunya dulu, biar supir yang bawa sisanya nanti yank" Ucap Bagas yang dianggukki Aurel.
***
"Ini rumah kalian?" Ucap Vyan yang menatap takjub desain rumah Aurel dan Bagas. Memang tidak sebesar mansion milik Raka namun penataan rumahnya membuat bangunan itu terlihat sangat-sangat indah.
"Bukan rumah kita, tapi rumah Bundamu sayang" Ucap Bagas.
"Ohh benarkah Bunda?" Aurel hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Vyan. Karena memang rumah yang di bangun oleh suaminya ini sudah resmi menjadi rumahnya.
"Haha ngaco. Ini rumah kita, jangan dengarkan Ayahmu itu!" Ucap Aurel.
"Udah ayo masuk, udaranya semakin dingin" Sambungnya.
"Kamu mau tidur dimana kak?" Tanya Bagas.
Aurel dan Vyan saling pandang. Ada apa dengan Ayahnya? Tiba-tiba saja dia memanggil Vyan dengan sebutan 'Kakak?'
"Yeh malah bengong. Ayo mau tidur dimana" Ucap Bags lagi.
"Vyan dimana aja sih Yah. Selagi bisa untuk istirahat haha" Jawab Vyan.
"Emhh baiklah, lebih baik kamu tidur di lantai2. Kamar Bunda dan Ayah ada di lantai 3" Ucap Aurel
"Baik Bunda"