Twins'

Twins'
53



"Bayyy..." Aurel menarik tangan Bagas saat mereka sudah sampai di dekat ruang makan.


"Kenapa sayang" Ucap Bagas.


"Aku mau bolu kukus yang ada di deket kantor kamu" Ucap Aurel.


Bagas mengerutkan keningnya.


"Bolu?" Ucap Bagas yang dianggukki Aurel.


"Sejak kapan kamu suka bolu kukus yang?" Sambungnya.


"Intinya beliin aja napa Bay!!" Ucap Aurel dengan nada kesal.


"Sayang ini udah mau maghrib, pasti toko bolu nya udah tutup" Ucap Bagas.


"Tapi aku mau bolu itu Bay!!" Ucap Aurel dengan bibir yang sudah kembali mengerucut.


"Besok aja gimana yang?" Tawar Bagas.


"Gausah tawar-tawaran ya Bay!! Aku bukan tukang baju!!" Cebik Aurel.


"Kalo kita kesana juga percuma sayang" Jelas Bagas.


"Kita kan bisa kerumahnya!" Ketus Aurel.


"Aku gatau dimana rumahnya" Ucap Bagas.


"Kamu bisa tanya kan?" Ucap Aurel.


"Tanya ke siapa coba" Eluh Bagas.


"Terserah! Pokoknya aku gamau makan kalo ga ada bolu itu!!" Aurel langsung keluar rumah dan duduk di kursi yang tersedia disana.


"Sayang jangan marah ya. Ini aku mau telfon Aji dulu" Ucap Bagas yang ikut duduk di kursi dekat Aurel.


Bagas meraih ponsel disakunya dan langsung menghubungi Aji. Tak lama sambungan telpon itu terhubung.


Panggilan Telefon..


Aji : Hallo Gas, kenapa?


Bagas : Ji, lo tau tukang bolu di samping kantor kan?


Aji : Iya tau, kenapa?


Bagas : Lo tau rumahnya?


Aji : Gak lah! Gila aja. Gue bukan fanboy nya tukang bolu ya


Bagas : Gue minta tolong cariin alamatnya ya. Istri gue mau makan bolu itu


Aji : Ya tinggal kesana aja apa susahnya Gas


Bagas : Pasti udah tutup ogeb!! Cepet cariin dalam waktu 10 menit, kalo ga nemu gue pecat!!


Aji : Ta_


Bagas langsung mematikan sambungan telfonnya dan menatap Aurel yang sibuk dengan ponsel ditangannya sehingga ia mengabaikan Bagas.


Karena sudah merasa kesal di cueki oleh Aurel, Bagas langsung merampas ponsel di tangannya dan menatap Aurel dengan tatapan tajam.


"Kenapa sih?" Ucap Aurel.


"Suami kamu ada disini tapi kamu terus aja liatin hp!" Kesal Bagas.


"Maaf" Ketus Aurel.


"Ga niat banget minta maaf nya" Gumam Bagas.


Ting


Ponsel Bagas berbunyi menandakan ada sebuah pesan masuk kedalamnya. Bagas membuka pesannya dan langsung tersenyum.


"Ayo" Bagas bangkin dan menarik tangan Aurel.


"Kemana?" Tanya Aurel.


"Beli bolu. Kamu mau bolu kan?" Tanya Bagas.


"Iya mau" Jawab Aurel dengan cepat.


Setelah kepergian Bagas dan Aurel tak lama Vyan keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar kedua orangtuanya namun sama sekali tidak ada sautan.


"Kemana perginya Ayah Bunda?" Gumam Vyan.


Vyan menuruni anak tangga dan melihat seorang wanita yang ia perkirakan masih duduk di bangku SMA. Saat berjalan di hadapannya, wanita itu menatap Vyan dan tersenyum.


"Apa kamu adik kak Aurel?" Tanya Dea. Ya, wanita yang sesang duduk di sofa ruang tengah adalah Dea.


Vyan mengerutkan keningnya.


"Siapa kamu?" Ucap Vyan dengan nada dingin.


"Kenalin aku Dea, temen deketnya kak Bagas" Dea mengulurkan tangannya.


Vyan mengabaikan uluran tangan itu dan semakin mengerutkan keningnya.


Teman dekat?, Batin Vyan.


Dea kembali menarik tangannya dan tersenyum paksa.


"Oiya kamu bener adik kak Aurel kan?" Tanya Dea.


"Jangan sotau! Aku putranya!!" Tegas Vyan.


Dea membelalakkan matanya, dia menatap tubuh Vyan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dea menebak anak di hadapannya itu berumur 15 tahun. Dia tidak tau jika sebenarnya Vyan masih berumur 11 tahun.


Cih, bukankah itu terlihat memalukan?. Bagaimana bisa seorang wanita berhijab yang berumur masih sangat muda sudah mempunyai anak sebesar ini. Bukankah itu terlihat sangat menjijikan?, Batin Dea yang masih terus menatap remeh ke arah Vyan.


Vyan yang mengerti tatapan Dea pun segera mendekatinya dan menatap lekat mata Dea yang sejajar dengan matanya itu, karena tinggi mereka hampir sama.


"Bundaku tidak seperti yang kamu pikirkan!!" Tegas Vyan.


"Jangan pernah berpikir macam-macam tentang Bundaku, karena kamu belum mengetahui yang sesungguhnya!!" Sambungnya.


Vyan langsung meninggalkan Dea di ruang tengah dan menuju tempat khusus belajar bela diri yang disiapkan Bagas beberapa minggu yang lalu.


Dor


Dor


Dor


Vyan menembak beberapa apel yang ada di atas botol dengan menggunakan tembakkan sungguhan.


"Siapa sebenarnya wanita itu?. Aku tidak menyukainya!!!" Ucap Vyan dengan masih memainkan benda berbahaya di tangannya.


***


Saat ini Aurel dan Bagas sedang dalam perjalanan kembali kerumahnya. Setelah mereka menemukan tempat tinggal pemilik toko bolu yang dimaksud Aurel, Bagas segera menuju kesana dan membeli beberapa kotak bolu kukus sesuai keinginan istrinya. Beruntung anak dari sang pemilik toko itu memiliki toko online sehingga mereka selalu menyetok bolu di rumah setiap harinya.


Selama di perjalanan, Aurel dengan lahapnya memakan 1 kotak bolu rasa coklat di dalam mobil. Bagas heran pada tingkah istrinya itu, bagaimana bisa Aurel tiba-tiba menyukai makanan yang sangat tidak disukainya sejak dulu. Pasalnya Aurel tidak menyukai sesuatu yang terlaru mendominasi rasa manis, dia lebih suka pada makanan gurih dan pedas.


Bagas turun dari mobil dan membukakan pintu disamping tempat duduk Aurel. Dia tersenyum saat melihat Aurel yang benar-benar terlelap. Dengan cepat Bagas membopong tubuh Aurel. Keningnya kembali berkerut saat merasakan tubuh Aurel yang semakin berat akhir-akhir ini.


Setelah merebahkan Aurel di ranjang, Bagas bergegas mengganti bajunya di kamar mandi. Ia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju koko berwarna putih, rupanya saat dia di kamar mandi dia sudah mengambil air wudhu.


Bagas mendekati Aurel dan mengecup keningnya.


"Sayang, bangun yuk udah maghrib ini" Bisik Bagas.


"Emhhhh...." lenguh Aurel. Dia membuka matanya, mengumpulkan kesadarannya lalu melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Mereka melakukan sholat berjamaah seperti biasanya. Namun bedanya, setelah sholat Aurel meminta Bagas untuk mengaji seraya memegang perutnya.


"Kok tiba-tiba mau gini sii yang?" Tanya Bagas.


Aurel langsung menidurkan kepalanya di pangkuan Bagas yang sudah memegang Al-Qur'an di tangannya.


"Bacain aku surat Yusuf ya Bay" Ucap Aurel seraya memejamkan matanya.


Bagas tersenyum lalu segera melantunkan ayat suci Al-Qur'an yang Aurel inginkan, dia memegang Al-Qur'an dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya mengelus-elus perut Aurel.


Karena merasa nyaman dengan sentuhan Bagas, Aurel tanpa sadar sudah menuju ke dunia mimpinya. Bagas tersenyum saat melihat Aurel yang sudah tertidur pulas di pangkuannya. Setelah selesai mengaji, Bagas membuka mukenah yang masih dipakai Aurel dan menggendong Aurel sampai ke tempat tidur.


Bagas merebahkan tubuh Aurel di ranjang dan mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu ia membuka baju dan sarung nya kemudian keluar dari kamar untuk menghampiri Vyan.


"Vyan" Ucap Bagas saat melihat Vyan yang sedang melipat sajadahnya.


Vyan menoleh kearah Bagas dan tersenyum.


"Ayah, ada apa?" Tanya Vyan.


Bagas menghampirinya dan duduk di tepi ranjang dan diikuti oleh Vyan.


"Kamu sudah makan nak?" Tanya Bagas.


"Belum Ayah. Aku belum lapar" Jawab Vyan.


"Oiya Ayah, wanita itu siapa?" Sambung Vyan.


"Wanita mana?" Bagas mengerutkan keningnya.


"Tadi aku bertemu dengan wanita dirumah ini, dan dia bilang dia teman dekat Ayah" Ucap Vyan.


"Ohh. Itu namanya kak Dea. Dia..." Bagas menceritakan semuanya pada Vyan tanpa ada yang ia rahasiakan sama sekali.


"Jadi sampai kapan wanita itu tinggal disini?" Tanya Vyan.


"Vyan kamu harus sopan pada yang lebih tua!" Tegur Bagas.


"Ya, maksudku Kak Dea" Ucap Vyan dengan nada malas.


"Dea akan tetap tinggal disini, mungkin sampai dia memiliki pendamping hidupnya" Ucap Bagas.


"Jadi akan lama?" Ucap Vyan.


"Nak, kamu harus ingat! Ayah sudah di beri amanah oleh mendiang Bapak nya. Ayah tidak mungkin mengingkarinya. Kamu tau bukan hukumnya?" Ucap Bagas memberi pengertian pada Vyan. Vyan memang seseorang yang tidak mudah bergaul dengan orang baru apalagi jika gelagat orang baru itu membuatnya merasa tidak nyaman.


"Ya Ayah Vyan mengerti" Ucap Vyan.


"Yasudah, biar Ayah menyuruh bibi untuk mengantarkan makan ke kamarmu" Ucap Bagas.


"Iya Ayah"


Bagas langsung meninggalkan kamar Vyan dan menyuruh Bi Ira untuk mengantarkan makanan ke kamar Vyan. Bagas juga membawa nampan berisi makanan untuk makan malamnya dan Aurel.


Setelah makan malam dan sholat isya, Bagas segera merebahkan dirinya di samping Aurel. Hari ini dia merasa benar-benar sangat lelah. Sedangkan Aurel, dia sedang memainkan ponselnya dan bersandar pada sandaran kasur dengan Bagas yang memeluk tubuhnya. Tak lama Aurel memejamkan matanya dan ikut tidur bersama Bagas.


Pukul 11.55 Aurel terbangun karena alarm yang sengaja ia pasang. Dia tersenyum senang memikirkan bagaimana reaksi Bagas setelah mengetahui bahwa dia sedang mengandung. Aurel melepaskan pelukan Bagas yang masih terpaut ditubuhnya dan kaluar dari kamar menuju dapur untuk mengambil kue yang ia buat sendiri.


"Vyan" Aurel terkejut saat melihat Vyan yang sedang duduk di kursi meja makan dengan ponsel ditangannya dan ditemani cemilan kotak.


"Bunda" Vyan menoleh kearah Aurel.


"Kamu ngapain disini udah malem loh" Ucap Aurel.


"Ada tugas yang harus aku kirimin malam ini Bun, biar ga ngantuk aku ngemil disini" Ucap Vyan.


"Bunda ngapain malem-malem disini?" Tanya Vyan.


Aurel membuka kulkas dan mengeluarkan sebuah kue sederhana yang ia buat khusus untuk suaminya bertuliskan "Happy Birthday Ayah" diatasnya.


Vyan menepuk keningnya pelan karena ia baru inget jika hari ini adalah hari ulang tahun Ayahnya.


"Bunda I'm forget" Lirih Vyan.


"No problem. Lets go" Vyan langsung mengerti dan mengikuti Aurel kekamarnya untuk memberikan kejutan pada Bagas.


Sebelum membangunkan Bagas, Vyan memasangkan 5 lilin diatas kue bolu itu.


Aurel mulai berhitung tanpa suara.


"HAPPY BIRTHDAYY AYAHHH!!!!" Teriak keduanya yang membuat Bagas terkejut dan langsung membuka matanya.


Aurel mendekati Bagas dan mengecup singkat bibirnya.


"Happy Birthday my husband, my life, my everything" Ucap Aurel.


Bagas tersenyum dan memeluk Aurel. Ia mengecup kening Aurel dengan sangat lembut dihadapan Vyan.


"Thank you my wife, my love, my everything" Ucapnya.


"Ayah, happy birthday. I'm sorry i don't have gift for you're birthday" Ucap Vyan yang ikut mendekat kearah Bagas.


"No problem my boy. Thank you" Bagaa mencium pipi dan kening Vyan.


"Tiup" Aurel menyodorkan kuenya. Bagas memejamkan matanya dan meniup semua lilin yang teratur diatas kue.


"Waittttt, aku punya hadiah untukmu" Aurel memberikan kue pada Bagas dan dia langsung bangkit dari posisinya. Aurel membuka laci dan meraih sebuah benda yang berbentuk persegi.


"For you" Aurel menyerahkan benda ditangannya ke Bagas.


"What is this?" Tanya Bagas.


"Bukalah" Ucap Aurel.


Bagas membuka kotak nya ia melihat sebuah benda panjang di ikat dengan sebuah pita berwarna merah. Pikirannya blank, ia tidak mengerti apa maksud Aurel. Bagas menatap Aurel seolah meminta penjelasan, Aurel hanya tersenyum dan mengangguk.


Bagas meraih benda panjang itu dan melihatnya dengan teliti.


Deg!!


Dia tersadar. Dia bangun dari mimpinya!!. Apa ini nyata!???, Begitu kiranya apa yang difikirkan Bagas saat ini. Dia terus memandangi benda ditangannya.


***


Ini kotaknya..



Ini kuenya:v