
Hari ini adalah hari kelulusan Aydan dan Aurell, mereka sudah menggunakan pakaian yang sangat rapi. Namun mereka tidak mengizinkan orangtuanya untuk datang di acara ini karena mereka tidak ingin ada yang mengetahui keluarganya saat ini. Dan tentu hal itu membuat Zahra sang mommy dan Raka sang daddy merasa sangat sedih dan kecewa karena pasalnya mereka tak pernah datang ke sekolah anak-anaknya karena keinginan anak kembar itu.
" Ayolah kak, inikan hari kelulusanmu masa Mommy tidak diizinkan hadir " ucap Zahra yang terus merengek pada Aydan.
" No Mom. Plissss sekalii iniii saja mom, sekali lagi saja " jawab Aydan dengan ekspresi memohonnya.
" Daddy tolong bujuk anakmu ini!!! " ucap Zahra yang mulai kesal pada suaminya karena hanya diam mengaksikan perdebatan mereka.
" Tenang saja Mom, kita akan hadir " Raka menjawabnya dengan santai dan membuat Aydan dan Aurell membelalakkan matanya.
" Nooo!!!! " ucap Aydan dan Aurel dengan cepat.
" Cih. Dasar keras kepala " gumam Raka
" Daddyy adek mohon jangan datang ya ya " ucap Aurell dengan wajah imutnya.
* Lihatlah wajah imut itu, rasanya ingin ku pacari jika dia bukan adikku * batin Aydan
" Kamu durhaka loh dek nolak permintaan orangtua. Ya ga dad? " ucap Zahra menakut-nakuti Aurel karena memang hanya dengan cara ini Aurel bisa luluh.
" Kak Ay? " ucap Aurel menghadap kakaknya dengan wajah memelas.
Aydan mendengus mendengar itu semua " Baiklah kalian boleh datang tapi jangan sampai ada yang tau jika kita adalah anak kalian. Aku hanya belum siap jika menghadapi para penjilat Mom Dad "
" Ck. Mengerti apa kamu tentang mereka. " ucap Raka yang membuat Aydan menatapnya dengan tajamnya.
" Baiklah-baiklah yang terpenting kami bisa melihat kelulusan kalian " sambung Raka.
Mereka menuju ke sekolahnya menggunakan 2 mobil. Aydan dengan Aurel dan Raka dengan Zahra. Setelah sampai di sekolah merekapun langsung memasuki aula kelulusan. Tentunya Aydan dan Aurel terpisah dnegan orangtuanya, banyak yang membungkukkan badannya memberi hormat pada orangtua mereka. Hal itu membuat Aydan dan Aurell merasa tidak nyaman karena mereka berpikir orang-orang disekitarnya terlalu berlebihan. Bukankah derajat semua orang dihadapan Tuhan itu sama? batin Aydan dan Aurell.
Acara sudah dimulai, pembawa acara sudah membukanya dengan sambutan-sambutan hingga tiba pada pengumuman lulusan terbaik.
" Baiklah para hadirin yang saya hormati, kali ini saya akan membacakan siapa saja 3 lulusan terbaik tahun ini " ucap MC " Wawwww....Lulusan terbaik tahun ini diraih oleh si kembar Aydan Zayyan Putra dan Aurell Zhafira Putri juga, Bagas Septian Nugraha. Berikan tepuk tangannya " sambung MC yang membuat para hadirin bersorak riuh.
Ketiga siswa itu menaiki panggung dan memberikan ucapan terimakasih.
" Selamat siang teman-temanku, semoga kalian tetap dalam kondisi yang sehat baik fisik maupun hati " ucap Aurel yang langsung disambut dengan tawa para siswa " Dalam kesempatan ini saya mewakili kakak kembar dan teman saya yang dingin, mengucapkan banyak-banyak terimakasih pada orangtua kami khususnya Mommy yang telah melahirkanku. Penghargaan ini kami berikan pada kalian sebagai salah satu tanda bahwa kami benar-benar berusaha membanggakan kalian . Dan kami juga ucapkan terimakasih pada guru-guru yang telah membimbing kami selama ini hingga kami bisa mendapatkan penghargaan ini. Mungkin cukup sekian, Terimakasih " ucap Aurel sambil tersenyum manis yang membuat para siswa terpana.
" Apakah orangtua kalian ada disini? " tanya MC
" Mereka ada disini " jawab Aurel
" Bisa kalian tunjukkan? "
" Tidak "
" Mengapa? "
" Tidak apa-apa "
" Baiklah, terimakasih pada 3lulusan terbaik sekolah ini yang telah memberikan sepatah duapatah kata hari ini. Mari kita lanjutkan dengan penampilan-penampilan dari adik-adik kita yeeeee "
Mereka bertiga turun dari panggung, saat turun mereka berpapasan dengan Maheer dan Rere yang memang sengaja menunggu Aurel dibawah.
" Selamat sayang " ucap Maheer dengan memberikan buket bunga pada Aurel.
" Makasihh " jawab Aurel dengan malu.
Setelah selesai dengan acara kelulusannya Aydan, Aurel dan Bagas memasuki mobil Aydan dan menuju rumahnya, saat di perjalanan Aurel menerima pesan dari sang mommy.
" Siapa dek? " tanya Aydan
" Mommy, mereka menyuruh kita untuk datang ke restoran x sekarang " ucap Aurell dengan nada malasnya.
" Kebetulan gue laper banget ini " ucap Bagas yang masih menatap ponselnya
" Lu mah emang laper mulu kak dari orok juga makannya segentong " cetus Aurel
" Sialannn!!! " umpat Bagas karena dia kalah dari gamenya, tapi itu membuat Aurel membelalakkan matanya ia menyangka kata-kata itu ditujukan pada dirinya.
" Kakkk Tiannnnnnn !!! Gasopann. Lia salah apa sampe di bilang sialan gitu ihhh!! Gamau ah!! " teriak Aurel
" Euh...ehh...kamu salah paham de, ini kakak kalah dari gamenya mangkannya ngomong gitu. Maafin kakak ya my princess " jawab Bagas dengan cepat dia tidak mau Aurel marah karena dia tau jika Aurel sudah marah pasti Aurel akan mendiamkannya hingga berbulan-bulan. " Sumpah dee itu bukan buat adee " sambungnya. Aydan hanya terkekeh melihat itu semua
" Boong dee, mana ada ngomong ama game begitu. Dia emang dendam kayaknya ke kamu de " ucap Aydan yang mulai memprovokasi.
" Shittt... Berisik lu Ay dih tanggung jawab lu ah kalo lia ngambek ke gue! " ucap Bagas " Deee maafin kakak ya, jangan dengerin bang Ay, nih liat abang lagi maen game " sambung Bagas sambil menunjukkan layar ponselnya. Tapi Aurel mengacuhkannya dan memilih untuk diam. Dia menyalakan musik dengan kencang.
* ****** gue pujaan hati ngambek. Bodoh lu Gas ah!! * batin Bagas.
Aydan menahan tawanya melihat Bagas yang terus membujuk adiknya itu. " Kesiann nya babang Bagassss " ledek Aydan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama karena macet akhirnya mereka sampai di restoran milik keluarganya. Aurel langsung turun dan masuk ke tempat privat yang sudah orangtua mereka sediakan tanpa menunggu Aydan dan Bagas yang masih di dalam mobil. Zahra melihat putrinya yang berjalan ke arahnya sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan wajah cemberut.
" Kamu kenapa dek? " tanya Zahra.
" Mommyyy.. Kak Tiann hikss... " ucap Aurel sambil memeluk mommy nya. Tian adalah panggilan Aurel untuk Bagas.
" Kenapa sih dek, kalo cerita itu yang bener napa jan setengah-setengah gini " jawab Zahra
" Bagas bilang lia sialan mom " ucap Aydan yang tiba-tiba datang, dan itu membuat Zahra menatap Bagas dengan tatapan penuh ancaman.
" Emmm bukan gitu ceritanya mom suer dah kakak bilang itu ke game bukan ke lia. Kakak ga sengaja mom seriusan dah " jawab Bagas dengan wajah paniknya. Bagas memang memanggil Zahra dan Raka dengan sebutan yang sama dengan Aydan dan Aurel karena itu permintaan mereka meskipun terkadang ayahnya melarang Bagas untuk memanggilnya dengan seburan itu namun Raka dan Zahra selalu marah jika Bagas tisak memanggilnya Mom and Dad.
" Dekk udah ah, tuh dengerin kata kak Tian. Dia bilang itu bukan ke kamu " ucap Zahra
" Udah lulus masih aja kayak anak kecil kamu dek " sambung Raka yang dari tadi hanya menatap perdebatan keluarganya itu. " Malu ama umur oyyy " ledek Raka.
Ucapan Raka membuat Aurel melepaskan pelukannya dan menatap sang ayah dengan sangat tajam " Daddy cemburu aku meluk Mommy? "
" Hihhh siapa yang cemburu bocah! Lagian tiap hari kali Daddy meluk Mommy bahkan tiap malem kit_ " ucapannya terpotong ketika Aurel dan Aydan mengucapkan sesuatu dengan cepat.
" Daddy!!!!!! " teriak keduanya " Daddy kan udah janji ama kita gabakal bikin Mommy capek ihhhhh!!! " ucap Aurel. Aydan dan Aurel meminta agar sang Daddy tidak membuat Mommy nya hamil karena mereka tahu cerita saat Mommy nya hampir saja meninggal dunia karena melahirkan mereka.
" Gabisa dilarang orang udah jadi kok " jawab Raka dengan santainya.
" Mom? " tanya Aydan dan Aurel seakan meminta penjelasan. Dan hanya diangguki oleh Zahra dengan santainya. Aydan dan Aurel menghampiri Raka dan mencubit lengan Raka hingga membuat yang punyanya meminta ampun. " Ampunn oyyy sakit ini huhuuu.. Daddy keluarin kalian ya dari kartu keluarga mau? !!! "
" Daddyyy apa-apan ihhhh!!!! Mommy ngurus kita-kita aja udah pusing gimana kalo ada anak lagii ihh!!! " teriak Aurel.
" Daddy bener-bener ya!! " ucap Aydan yang tak kalah sengit.
" Ya mau gimana lagi. Itu udah jadi di perut mommy terus daddy harus gimana lagi?. Daddy juga mau punya anak lagi kan kalian mau kuliah di luar negeri " cetus Raka.
Aydan dan Aurel saling berpandangan dan langsung duduk dengan wajah malasnya. " Mau gimana lagi, udah jadi gabisa di apa-apain lagi " ucap Aydan dengan lesu.
" Anak itu anugerah dek, kamu harus menyayangi adik kamu juga nanti " ucap Bagas yang mencoba menenangkan Aurel dengan mengelus rambut panjang Aurel.
" Hemmm iya kak, mau gimana lagi atuh da " jawab Aurel dengan memeluk perut Bagas seperri biasanya. Kemudian dia teringat bahwa mereka sedang bertengkar, Aurel langsung melepaskan pelukannya dan menatap Bagas dengan tatapan tajam " Kak ihh!!! Kita kan lagi marahan.. "
* Dih ni cewek plinplan banget dah gue kira dia dah lupa. Untung cantik kalo kagak udah gue jitak ni bocah * batin Bagas
" Ehhhh kenapa inget lagi sih dekk.. udah napa marahnya "
" Auah aku bener-bener marah ama kakak !! " ketus Aurel dan langsung membuang muka.
Bagas berjongkok di hadapan Aurek dan menggenggam tangannya " Jangan marah dong sayangkuuu "
" Ciyeeee uhuyyy.. awas noh ada si Maher dateng dek " ledek Raka
" Ihhhhh kakak mah ah. Udahan ah galucu!! " ucap Aurel sambil menjauhkan tangannya dari genggaman Bagas.
" Kakak bakal gini terus kalo kamu ga maafin kakak dek "
" Iyaiya adek maafin kakak ihh... Sono ah maluu tau "
" Malu apa takut pacarmu liat dek? " ketus Bagas yang langsung duduk dikursinya. Raka, Zahra dan Aydan tau bahwa Bagas mencintai Aurel namun mereka tidak akan ikut campur dengan masalah itu selagi Aurel tidak tersakiti.
" Udah-udah sekarang mending kalian pesen makanan dulu " ucap Raka menengahi masalah.
Mereka mengangguk patuh pada ucapan Raka, saat sedang menunggu pesanannya Aurel kembali bertanya pada sang Mommy
" Mom? " ucap Aurel
" Ya? " Zahra menjawabnya dengan menghadap Aurel.
" Sejak kapan mom hamil??... Ehh tidak-tidak maksudku berapa usia kandungan mom? "
" Baru 7minggu dek "
" Ohhhhhh " jawab Aurel sambil menganggukkan kepalanya, dia langsung menghitung sesuatu di jarinya yang membuat yang lainnya menatap dengan bingung.
" Ngitung apaan dek? " tanya Aydan
" Nomor togel? " ucap Raka
" Jatuh tempo bayar utang? " sambung Bagas
" Heuhhhh... Kalian apaan si ngaco dah... " ucap Aurel lalu dia melanjutkan lagi hitunagn tangannya.