Twins'

Twins'
65



"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Raka setelah dokter selesai memeriksa Zahra.


"Kondisinya benar-benar lemah Tuan, Nyonya harus menerima cairan infus selama beberapa hari. Mungkin faktor umur yang sudah tidak muda dan juga karena terlalu banyak fikiran. Perawat saya akan memberikan beberapa kantong infus untuk Nyonya. Sebaiknya Nyonya dirawat dirumah, karena jika di rumah sakit akan membuat tubuhnya tidak nyaman" Ucap Dokter.


"Tidak ada masalah yang serius bukan?" Tanya Raka.


"Tuan tenang saja, Nyonya akan segera pulih jika imunnya kuat. Saya permisi undur diri Tuan, beberapa menit lagi perawat akan datang dan memasangkan jarum infusnya" Ucap Dokter.


"Baik dok terimakasih" Ucap Raka.


"Gimana Dad?" Tanya Aydan yang baru memasuki kamar tempat Zahra sempat di periksa.


"Tidak ada yang serius, Mom hanya banyak pikiran. Masalah Lia biar asisten Dad yang urus" Ucap Raka.


"Dad jangan terlalu banyak pikiran, Ay takutnya Dad sama-sama sakit. Biar urusan Lia, Ay yang urus. Daddy jaga kesehatan saja" Ucap Aydan yang dianggukki Raka.


Raka menatap wajah pucat istrinya yang masih belum membuka matanya.


Cepat sembuh sayang, bukankah kita harus mencari Lia bersama-sama?, Batin Raka.


Tak lama perawat datang dengan membawa beberapa kantong cairan infus, dan memasangkannya 1 untuk Zahra.


"Dadd" Lirih Amel yang datang dengan Neli.


Amel turun dari gendongan Neli dan menghampiri Raka. Dia memeluk Raka dengan erat. Kemudian beralih menatap wajah Zahra yang terlihat pucat. Selama ini dia tidak pernah melihat Zahra terbaring tak berdaya seperti ini, biasanya jika Zahra sakit ia tidak sampai seperti ini. Amel menangkup wajah Zahra kemudian mencium keningnya.


"Mom cepat sembuh ya, adek gamau liat Mom sakit,, hikss,," Ucap Amel sambil menangis.


Raka meraih tubuh Amel dan mendudukan di pangkuannya.


"Adek jangan nangis, Adek doain Mom supaya Mom cepet sembuh dan bisa main sama adek lagi ok" Ucap Raka.


Amel membalikkan tubuhnya dan memeluk leher Raka.


"Adek gamau kehilangan Mom" Lirihnya.


"Sutttt jangan bicara yang aneh-aneh. Mom pasti sembuh, dokter juga bilang Mom akan segera bangun" Ucap Raka seraya mengusap-usap punggung Amel.


Sementara di kamar lain, Bagas sedang menyibukkan dirinya dengan laptop dan ponselnya. Setelah melihat kekecewaan di mata keluarganya, dia segera menghubungi semua bawahannya untuk ikut andil mencari Aurel. Hingga suara ketukkan pintu dan diikuti suara Bi Ira membuat Bagas mengalihkan kefokusannya.


"Kenapa Bi?" Tanya Bagas yang masih belum membuka pintu kamarnya.


"Den makan dulu, sejak malam Den belum makan" Ucap Bi Ira.


"Bagas ga nafsu Bi. Bawa lagi aja" Ucap Bagas.


Ceklek


Pintu terbuka, bukan Bi Ira yang membukanya melainkan Raka. Raka sudah membawa nampan di tangannya. Raka berjalan mendekati Bagas dan menyimpan di atas nakas. Lalu ia duduk di sofa.


"Dad" Lirih Bagas..


"Makan dulu, kamu harus tetap sehat. Bagaimana cara kamu mencari Lia jika kamu sakit?" Ucap Raka yang sedikit menyadarkan Bagas.


Bagas bangkit dari kursinya dan meraih nampannya dan duduk di samping Raka. Ia mulai memasukkan sesendok nasin ke dalam mulutnya lalu tiba-tiba bayangan Aurel sedang menangis terlintas di pikirannya.


Bagaimana keadaan Aurel?


Apa dia sudah makan?


Apa dia dan kandungannya punya tempat tinggal?


Bagaimana jika dia mengidam dan ingin memakan ini itu?


Bagaimana jika dia kedinginan?


Itulah beberapa pertanyaan yang muncul di benak Bagas. Hingga akhirnya ia melanjutkan makannya dengan air mata yang terus mengalir. Hingga suapan terakhir membuatnya benar-benar merasa bersalah pada Aurel. Ia menelannya dengan rasa sakit di tenggorokkannya.


Raka yang mengerti keadaan Bagas ikut prihatin. Setelah Bagas benar-benar menghabisakan makanannya, Raka menyandarkan tubuhnya di sofa dan mendongakkan wajahnya ke belakang, mungkin menahan air matanya agar tidak jatuh karena ia tidak pernah sekalipun menunjukkan sisi lemahnya di hadapan anak-anaknya.


"Dia begitu kuat bukan?" Sambungnya seraya menatap Bagas.


"Dad,,," Lirih Bagas dengan wajah yang penuh penyesalan.


Raka meraih pundak Bagas dan memeluknya.


"Dad mempercayakan kamu untuk bertanggung jawab atas Lia. Dad dan Aydan juga akan ikut mencarinya" Ucap Raka lalu kemudian ia bangkit dan meninggalkan Bagas.


***


Sementara di tempat lain.


"Assalamualaikum Ibuuuu eneng pulang" Ucap seorang wanita cantik dengan balutan pashmina berwarna hitam.


"Waalaikumsallam Ais udah pulang neng??" Ucap Bu Sari.


"Ya udah atuh Bu ini sih ada di depan Ibu" Ucap Ais yang membuat Bu Sari melengos.


"Ibu eneng teh ada kabar baik" Ucap Aisyah yang tak lain adalah adik dari Bara.


"Kabar baik naon neng?" Tanya Bu Sari.


"Eneng teh udah ga perlu bulak balik ke luar kota Bu" Ucap Aisyah dengan sumringah.


"Wahhh alhamdulillah atuh kalo gitu. Kunaon kitu neng?" Ucap Bu Sari.


"Eneng teh suruh jadi perawat tetap di rumah sakit baru yang ada di kampung kita Bu" Ucap Ais.


"Alhamdulillah Ibu jadi ga kesepian lagi nanti. Udah atuh masuk dulu neng, kamu ganti baju dulu" Ucap Bu Sari.


"Okeee Bu" Ucap Ais.


"Ehh ada tamu ya Bu?" Ucap Ais saat melihat Aurel yang telah selesai melahap buburnya.


"Assalamualaikum teteh" Ais mencium punggung tangan Aurel.


"Waalaikumsallam,, Aisyah ya?" Ucap Aurel.


"Eh iya, teteh teh sudah tau?" Ucap Ais.


"Bu Sari menceritakan tentang kamu" Ucap Aurel.


"Ouh Ibu. Yaudah Ais pamit ke kamar dulu ya Teh, mau mandi dulu" Ucap Ais yang dianggukki Aurel.


Setelah Aisyah pergi, Bu Sari menghampiri Aurel dan duduk di sampingnya.


"Neng?" Ucap Bu Sari.


"Iya Bu kenapa?" Ucap Aurel.


"Ais teh udah di jadiin perawat tetap di kampung Ibu" Ucap Bu Sari.


"Itu artinya Ibu mau tinggal di kampung lagi?" Tanya Aurel.


"Iya neng" Jawab Bu Sari yang membuat raut wajah Aurel berubah menjadi murung.


"Neng teh tenang aja. Kalo eneng mau, eneng bisa ikut Ibu ke kampung" Ucap Bu Sari.


"Apa tidak merepotkan Bu?" Ucap Aurel.


"Engga atuh neng, ga ngerepotin sama sekali" Ucap Bu Sari.


"Makasih Bu" Ucap Aurel.


_______________


Wait part selanjutnya ya.. Rencananya mau up 3 part hari ini๐Ÿ˜