Twins'

Twins'
58



"Massss,,,," Lirih Aurel ketika ia baru membuka matanya namun ia tidak menemukan Bagas disampingnya.


"Mas..." Panggilnya lagi namun tidak ada tanda-tanda dari sang suami.


"Mass hiks,,,hikss,,"


Bagas yang baru masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan di tangannya sangat terkejut saat melihat istri tercintanya itu sedang menangis.


"Sayang heyy kamu kenapa hemm??" Ucap Bagas.


Aurel mendongak menatap Bagas dan langsung memeluknya.


"Masss,,," Lirihnya.


"Kenapa sayang? Masih pusing??" Tanya Bagas.


"Aku mau Abang" Ucap Aurel.


"Sayang ini baru 2jam keberangkatannya. Abang pasti belum nyampe. Nanti malam kita telfon ya" Ucap Bagas dengan mengelus rambut panjang Aurel.


"Tapi aku mau Abang sekarang Mas hikss,,"


"Sayang udah ya jangan nangis terus, Mas janji nanti malam Mas telfon Abangnya. Sekarang mending makan dulu ya, kamu belum makan sayang" Bagas melepaskan pelukkannya dan meraih bubur diatas nakas yang ia buat sendiri.


"Aaaaaaa...." Bagas memasukkan sesendok bubur ke mulut Aurel. Untungnya Aurel mau melahapnya dan membuat Hagas sedikit lega.


Baru beberapa sendok yang masuk ke dalam mulutnya, Aurel menghentikan tangan Bagas yang akan menyuapinya lagi.


"Aku mau sate Mas" Ucap Aurel.


"Nanti beli, sekarang habisin dulu buburnya sayang" Ucap Bagas.


"Aku mau sate Masss gamau bubur!!!" Teriak Aurel membuat Bagas menghembuskan nafasnya dengan panjang.


"Iya sayang, ayo aku bantu siap-siapnya" Bagas meletakkan buburnya di atas nakas dan membantu Aurel mengganti bajunya dengan gamis simple berwarna hitam. Setelah itu mereka langsung menuju ke penjual sate di depan komplek.


"Masss itu lucu,, aku mau gendong anak itu" Aurel menunjuk pada seorang bayi mungil yang sedang di gendong oleh seorang wanita yang masih sangat muda.


"Sayang mau ngapain gendong anak itu? Kita kan ga kenal" Ucap Bagas.


"Masss ihhhh" Rengek Aurel.


"Sayang, liat bayi nya juga lagi tidur.. Nanti dia nangis gimana?" Ucap Bagas.


Aurel menatap Bagas dengan mata yang berkaca-kaca lalu meninggalkannya begitu saja.


"Pak ini uangnya, nanti biar sodara saya yang ambil kesini" Bagas memberikan selembar uang berwarna merah lalu dengan cepat mengejar Aurel.


"Sayang,sayang.. Ayo kita samperin bayinya.. Kamu mau gendong kan?" Ucap Bagas setelah berhasil mengejar Aurel.


"Ga. Udah ga pengen!!" Ketus Aurel yang masih saja melangkahkan kakinya dengan langkah lebar dengan menghentak-hentakkan kakinya.


"Sayang,, jangan cepet-cepet jalannya, bahaya" Ucap Bagas yang tak di hiraukan oleh Aurel.


***


"AWAAAASSSSS!!!!!!" Teriak Neli saat melihat seorang anak laki-laki melintas di depan mobil yang Neli tumpangi.


Aydan dengan refleks menginjak rem dengan sangat kuat dan membuat keduanya sedikit terbentur.


"Sayang, sayang kamu gapapa kan?" Aydan memegang wajah Neli, mengamati perinci wajah istrinya itu.


"Aku gapapa Ay, anak kecilnya?" Neli menatap keluar jendela dan langsung membuka seatbeltnya. Ia turun dengan tergesa-gesa karena khawatir akan terjadi apa-apa pada anak yang hampir tertabrak.


"Nak kamu gapapa?" Tanya Neli seraya membantu anak itu bangkit dari posisinya.


"Kamu gapapa kan?" Tanya Neli untuk yang kedua kalinya.


"Gapapa tante" Ucap anak itu.


"Nak, mana orangtuamu? Mengapa kamu berkeliaran di jalan raya? Ini bahaya" Ucap Aydan.


"Mama lagi beli susu buat aku disana" Ucapnya menunjuk salah satu alfamart di pinggir jalan.


"Ayok kita ke mamah kamu ya" Ucap Neli.


Neli menuntun anak itu menuju tempat yang ditunjuk anak kecil itu.


"Mama!!!" Anak itu teriak dan langsung berlari kearah orangtuanya.


"Sayang kamu kemana aja? Mama nyariin kamu" Ucap wanita yang di akui sebagai ibunya.


"Aku dari depan Ma" Ucapnya.


"Anak mbak tadi hampir saja tertabrak di jalan raya, dia berkeliaran disana sendirian" Ucap Neli.


Wanita itu bangkit dari posisinya dan langsung membalikkan badannya menghadap Neli dan Aydan.


Deg!!!


Jantung Aydan berdegup kencang melihat wanita dihadapannya.


"Kamu!!!" Ucap Neli dan Angel bersamaan. Ya, ibu dari anak yang hampir tertabrak oleh Aydan adalah Clarissa Angela Louis, wanita penghancur kebahagiaan Aurel dulu. Inget ga?:v


"Haishhhh!!!" Neli memijit pelipisnya.


Mimpi apa gue semalem, kenapa bisa ketemu sama dedemit kek gini, Batin Neli.


Neli menatap Aydan yang sedikitpun tidak berkedip menatap wajah Angel. Hatinya panas, kepalanya ikut panas padahal hari ini cuaca sedang mendung.


"Lain kali jaga anaknya yang bener, untung ga ketabrak!!" Ketus Neli pada Angel, lalu meninggalkannya begitu saja.


"Ay..dan..??" Ucap Angel dengan terbata-bata.


"Kamu Aydan kan?" Lirihnya.


"Kamu siapa? Aku tidak mengenalmu!!" Ketus Aydan yang masih belum menyadari jika Neli sudah tidak ada disisinya.


"Tidak, aku tidak mengenalmu!!" Ketus Aydan.


"Benarkah?" Angel merogoh tas kecilnya dan meraih benda kecil didalamnya.


"Apa dengan ini kamu masih belum bisa mengenaliku? Ini pemberianmu bukan?. Mengapa dulu kamu menyuruh temanku untuk memberikan ini padaku, mengapa tidak langsung kau berikan benda ini padaku?" Ucap Angel.


"Sudah ku bilang, aku tidak mengenalmu!!!" Ucap Aydan.


"Jika kau tidak mengenalku lalu mengapa tadi kau menatapku dengan dalam? Apa cintamu padaku belum pudar, rajaku?" Ucap Angel. Dulu sejak kecil Angel sangat senang di panggil dnegan sebutan Ratu, dan dia menyebut penggemar rahasia (Aydan) dengan sebutan Raja.


Deg!!


Neli yang baru saja mau menghampiri Aydan, merasakan sesak didadanya saat mendengar ucapan bahwa Aydan pernah mencintai Angel. Aydan memang pernah menceritakan tentang cinta pertamanya, cinta pada seorang gadis seumurannya, namun ia belum sama sekali memberitahu siapa gadis itu.


Dengan langkah panjang, Neli segera meninggalkan Aydan dan Angel. Dia memberhentikan taxi yang melintas di hadapannya. Ia tidak membawa apa-apa saat itu, hanya beda pipih ditangannya lah yang menjadi pegangannya.


"Say---" Ucapan Aydan terpotong saat mengetahui Neli tidak ada disisinya.


"Neli!!!!" Teriak Aydan. Ia langsung berlari kearah mobilnya yang tak jauh dari sana.


"Kamu dimana sayang!!!" Ucap Aydan saat ia tidak melihat keberadaan Neli. Tubuhnya mondar-mandir mencari keberadaan Neli, tangannya tidak terhenti menghubungi ponselnya.


"Shitttt!!!" Gumam Aydan.


Satu ide muncul di benaknya. Ia tau kemana ia harus pergi. Rumah kedua orangtua Neli!!! Ya, itu adalah tempat yang seharusnya Neli datangi.


Dengan cepat Aydan melajukan mobilnya ke rumah mertuanya.


"Assalamualaikum" Ucap Aydan setelah sampai di rumah mertuanya.


"Waalaikumsallam, eh Aydan" Ucap Bu Rima.


Aydan mencium punggung tangan Ibu mertua di hadapannya itu.


"Emmm anu Bu, ada Neli?" Tanya Aydan.


"Loh gaada Nak, rencananya minggu depan dia mau main kesini"


"Gaada?"


"Iya gaada. Emang dia ga izin sama kamu mau keluar?"


"Emm enggak kok Bu. Yaudah kalo gitu Ay pulang dulu ya Bu" Aydan mencium kembali punggung tangan Bu Rima.


"Assalamualaikum" sambungnya.


"Waalaikumsallam"


"Kamu dimana sayang?" Gumam Aydan setelah sampai di mobilnya.


***


Malam harinya setelah Aurel berhasil terkena bujuk rayunya Bagas. Mereka menghabiskan malamnya dengan duduk di sofa ruang tengah dan menonton salah satu acara di televisi. Ketika sedang asik dengan kegiatannya, ponselnBagas berdering dan menampilkan nama Aji di layarnya. Sebelumnya, Bagas meminta izin pada Aurel untuk mengangkat telfonnya.


Sepertinya perbincangannya dengan Aji sangat serius karena raut wajah Bagas berubah 180° dari sebelumnya. Dia berulang kali menatap Aurel lalu menghembuskan nafasnya, mengacak rambutnya yang sudah tertata dengan rapi. Tak lama sambungan itu terputus. Bagas merebahkan kepalanya di paha Aurel, dia menciumi perut Aurel layaknya sedang mencium anaknya secara langsung.


"Kenapa Mas?" Aurel bertanya dengan mengelus kepala Bagas yang ada di pangkuannya.


"Ada masalah di kantor cabang sayang" Lirihnya.


"Lalu?"


"Hal itu mengharuskan untuk Mas pergi kesana"


Aurel menghela nafasnya panjang, ia mengerti keadaan Bagas saat ini karena memang ia juga berpengalaman dalam dunia bisnis.


"Berapa lama?" Tanyanya.


"2 minggu"


"Seserius itu masalahnya Mas?"


"Hemmm"


"Yasudahlah mau gimana lagi Mas. Aku ngerti kok"


"Sayang" Bagas mendongak menatap wajah Aurel.


"Tapi Mas gamau jauh dari kamu, kamu ikut aja ya kesana" sambugnya dengan wajah memelas.


"Gabisa Mas, jadwal periksa kandunganku kan 2 hari lagi"


"Kita bisa periksa disana kan sayang?"


"Mas,, kata Mommy periksa kandungan itu harus dokter yang sama"


"Terus gimana nasib Mas selama 2 minggu yang?"


"2 minggu bukan waktu yang lama kok Mas"


"Hahhhhh" Bagas kembali menenggelamkan wajahnya ke perut Aurel.


"Keberangkatanku besok pagi" Lirih Bagas.


"Yaudah sekarang kita packing barang kamu dulu Mas"


"He,,em.."


_________________________


Satu part menuju end:(


Tunggu kehadiranku besok. PROMISE😁