
Sore harinya jarum infus di tangan Aurel sudah di cabut. Sebelumnya Aurel sudah USG kandungannya dan ternyata calon bayinya adalah lelaki bukan perempuan. Aurel tidak mempermasalhkan itu karena baginya anak lelaki ataupun perempuan sama saja.
Bagas merasa risih saat melihat baju Aurel yang pas dengan tubuhnya sampai sedikit membentuk lekuk tubuhnya. Bagas menelefon Aji dan menyuruhnya untuk membeli gamis ibu hamil lengkap dengan hijabnya dengan ukuran jumbo di butik yang sudah terjamin kebersihannya agar bisa langsung dipakai oleh Aurel. Tak lama Aji datang membawa barang yang di pesan oleh Bagas dan menemuinya di lobby rumah sakit. Sebenarnya ia bingung untuk apa Bagas menyuruhnya membeli pakaian untuk perempuan karena sepengetahuan nya Aurel belum pulang ke rumah. Melihat Bagas yang terburu-buru Aji jadi mengurungkan niatnya untuk menanyakan apa yang ada di kepalanya.
Bagas membawa paper bag berisi gamis ke kamar Aurel.
"Sayang.." Bagas langsung mendekati Aurel saat Aurel akan turun dari kasurnya.
"Kenapa gak nungguin aku aja sih" Ucap Bagas seraya membantu Aurel untuk turun.
"Gak apa-apa Mas, lagian aku bisa sendiri kok" Jawab Aurel.
"Bukan gitu, masalahnya disini kamu sendiri, kalo ada apa-apa terus gak ada yang tau gimana?" Ucap Bagas.
"Udah ah lagian aku gak apa-apa juga. Kamu bawa apa Mas?" Tanya Aurel memandang paper bag di tangan Bagas.
"Oh ini gamis buat kamu. Aku engap liat baju kamu yang ngepas gini. Pasti gak nyaman kan di pake nya?" Tanya Bagas.
"Heem sedikit gak nyaman sih Mas, soalnya perutnya udah kayak drum banget" Kekeh Aurel.
"Mangkannya aku bawain ini buat kamu. Ayok aku bantu ganti bajunya" Ucap Bagas.
"Eh enggak-enggak aku bisa sendiri kok Mas. Kamu tunggu aja di sini" Aurel langsung menyambar paper bag di tangan Bagas dan membawanya ke kamar mandi.
"Hati-hati loh" Ucap Bagas.
"Iya Mas bawell" Aurel menjulurkan lidahnya dan segera menutup pintu kamar mandi.
Bagas menggelengkan kepalanya sambil tersenyum senang. Rasanya baru bertemu beberapa jam yang lalu tapi mereka seolah sudah bisa melupakan kesalahan masing-masing.
10 menit kemudian Aurel membuka pintu dan sudah memakai baju yang tadi Aji beli. Bajunya lebih ke daster tangan panjang ukuran jumbo. Daster bermotif batik berwarna coklat dan hijab yang berwarna senada.
"Nyaman gak?" Tanya Bagas.
"Nyaman kok Mas, aku jadi lebih leluasa geraknya" Jawab Aurel.
"Syukurlah kalo gitu. Mau langsung pulang?" Tanya Bagas.
"Emhh??" Aurel menatap Bagas dengan tatapan yang sulit di artikan.
Bagas mendekati Aurel dan merangkul pundaknya dengan lembut.
"Aku tau apa yang kamu pikirkan. Tenang saja sayang, semua sudah berubah sejak hari itu" Ucap Bagas yang mengerti tentang kekhawatiran Aurel.
"Sebelum pulang, kita pamit ke Daddy dulu yak" Ucap Bagas yang mendapat anggukkan dari Aurel.
"Oh iya Bagaimana dengan operasi Mommy?" Tanya Aurel saat Bagas sedang merapikan barang-barang yang sempat ia bawa dari kantor.
"Operasi diundur jadi besok sayang karena dokter bedah sedang mengoperasi pasien darurat" Ucap Bagas.
"Ayok" Ajak Bagas seraya memeluk pinggang Aurel. Tangan satunya memegang paper bag yang berisi baju Aurel dan tas yang berisikan laptop juga berkas-berkas penting.
Bagas berjalan beriringan dengan Aurel menuju kamar rawat Zahra.
"Daddy.." Ucap Aurel setelah ia sampai di kamar Zahra.
"Lia, sini sayang" Raka menyuruh Aurel untuk duduk di kursi samping kasur Zahra. Zahra sudah terlelap karena lelah, sedangkan Vyan dan Amel sudah pulang beberapa menit yang lalu karena Amel merengek ingin tidur di mansion.
Aurel mengusap wajah Zahra dengan lembut, air matanya mencelos begitu saja.
"Mommy, Lia pulang dulu. Nanti saat Mom operasi, Lia akan datang. Cepat sembuh Mommy" Aurel berdiri dan mencium kening Zahra lalu meraih tangan Zahra dan menyaliminya.
"Dad Lia pulang dulu" Aurel menghampiri Raka.
"Udah mau pulang kak?" Tanya Raka pada Aurel.
"Iya Dad" Ucap Aurel.
"Yasudah, hati-hati kak. Tian hati-hati bawa mobilnya, kabari kalau sudah sampai di rumah" Ucap Raka.
"Baik Dad" Jawab Bagas.
Bagas membawa Aurel ke lobby rumah sakit.
"Mau tunggu disini atau ikut ke parkiran?" Tanya Bagas.
"Ikut Mas, takut ada kucing garong hehehehe" Ucap Aurel.
"Dasar!!" Bagas mengelus kepala Aurel.
Bagas membukakan pintu mobil untuk Aurel. Tidak ada yang berubah dari dalam mobilnya. Masih ada bantal kecil yang sering Aurel pakai ketika ia ingin tidur di mobil ini, gantungan hati bertuliskan namanya yang sengaja Aurel beli saat ia pergi ke singapura, namun ada satu yang berubah. Di dekat stir ada foto pernikahannya dengan Bagas yang di figura kacakan.
"Aku dulu masih sekecil ini dan sekarang udah sebesar ini hahaha" Ucap Aurel seraya terkekeh menunjuk dirinya di dalam foto dan dirinya sendiri secara bergantian.
"Sebesar apapun kamu, tetap cantik dan tetap menjadi permata di hatiku" Ucap Bagas.
"Gombal.." Aurel tersenyum mendengarnya.
Selama perjalanan pulang Bagas terus menggenggam tangan Aurel seakan tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya. Di tikungan Aurel melihat restoran Jepang, sudah beberapa bulan yang lalu Aurel sangat ingin makan makanan Jepang. Bagas melihat Aurel yang terlihat fokus menatap restoran, ia tidak banyak bertanya dan langsung memarkirkan mobilnya di parkiran restoran.
Aurel terkejut dan mengerutkan keningnya.
"Mas mau ngapain kesini?" Tanya Aurel.
Bagas membukan seat belt nya dan menatap Aurel dari dekat.
"Menurutmu kalo kita ke restoran mau apa?" Tanya Bagas.
"Makan" Jawab Aurel dengan wajah polosnya.
"Itu kamu tau, aku mau makan karena tadi siang gak sempet makan siang" Ucap Bagas.
Bagas mengecup singkat bibir Aurel yang terlihat sedang kebingungan lalu membuka seat belt Aurel.
"Ayo kita makan. Kamu mau makan disini kan?" Tanya Bagas.
"Eh?" Aurel masih mencerna kata-kata Bagas rupanya.
Bagas turun dari mobil, ia memutari mobil dan membuka pintu dan mempersilahkan Aurel untuk turun.
"Nunggu apa lagi Bunda.. Ayah udah sangat lapar" Ucap Bagas dengan nada manjanya.
"Ishh gak suka aku tuh" Aurel mencebikkan bibirnya.
"Hahaha, udah-udah jangan berdebat sayang. Ayok" Bagas membantu Aurel untuk turun lalu masuk ke dalam restoran. Bagas memanggil waiters.
"Mbak apa ada menu yang sehat, aman dan bisa di konsumsi untuk ibu hamil?" Tanya Bagas.
"Kalau untuk Ibu hamil restoran ini sangat merekomendasikan Sushi untuk di hidangkan karena ikan berminyak sangat penting untuk kesehatan mental Ibu dan kesehatan serta perkembangan si bayi. Dan juga sangat berefek pada tingginya IQ dan penglihatan bayi" Ucap Waiters ramah disertai dengan senyuman manisnya.
"Hanya satu Mbak?" Tanya Aurel sambil membelalakkan matanya. Diantara beribu menu hanya satu yang boleh ia konsumsi?.
"Betul Mbak memang untuk Ibu hamil kami hanya merekomendasikan menu itu karena sudah terbukti sangat aman untuk dikonsumsi oleh Ibu hamil. Tapi mungkin Mbak bisa memesan Dorayaki untuk makanan penutupnya" Jawab Waiters.
"Hah.. Baiklah" Jawab Aurel dengan pasrah.
"Gak apa-apa kan?" Tanya Bagas pada Aurel.
"Heemm" Aurel mengangguk pasrah seraya menempatkan kepalanya di meja.
"Saya pesan Sushi 1, Sasimi 1 dan Dorayaki 1 porsi. Untuk minum green tea 2 ya" Ucap Bagas.
"Baik Mas, silahkan tunggu sebentar" Waiter langsung meninggalkan meja Bagas dan Aurel.
Bagas menatap Aurel sambil tersenyum.
"Tenang yah, nanti setelah lahir kamu bebas mau makan apa aja" Ucap Bagas sambil mengelus tangan Aurel.
"Iyaa.." Jawab Aurel dengan lirih dan masih pada posisinya
"Aurel!!!" Panggil seseorang..