Twins'

Twins'
11.



Di dalam pesawat terlihat Aydan dan Aurel sedang berbincang tentang kuliah nya, sampai akhirnya perbincangan itu beralih pada hubungan Aurel dan Maheer. Aydan menanyakan hal yang sama dengan Bagas pada Aurel, yang tentunya membuat Aurel merasa sangat bingung dengan 2 kakaknya itu.


" Kenapa kalian nanya hal yang sama kak? " ucap Aurel.


" Kalian? siapa? " tanya Aydan mengerutkan keningnya.


" Kau dan Kak Tian. Kemarin Kak Tian juga menanyakan hal yang sama denganmu " ucap Aurel.


" Mana kakak tau. Kakak nanya kayak gini juga karena akhir-akhir ini kakak ga pernah liat kamu telfonan ama Maheer " ucap Aydan.


" Emm entahlah kak, ponsel Maheer ga bisa dihubungi. Terakhir aku telfon dia itu 4 bulan yang lalu " ucap Aurel.


" Kenapa? kamu dapet alesan kan dari dia? " tanya Aydan.


" Dia bilang, dia lagi ngurus bisnis papa nya jadinya dia jarang ada waktu buat buka hp " jawab Aurel.


" Ohhh " ucap Aydan.


* Keparat!!! Taakkan ku biarkan adikku di mainkan oleh pria sepertimu Maheer!!! * batin Aydan sambil mengepalkan tangannya.


°°°°°°°°


Kembali lagi ke kediaman Raka.


Saat ini Raka sedang menguji kecerdasan Vyan, karena setelah Aydan bercerita saat Vyan yang mampu meretas data perusahaannya membuat Raka penasaran seberapa cerdas anak yang sudah di buang orang tuanya itu. Vyan memberi satu masalah kantor yang akan di kerjakan oleh Vyan, yaitu mengalihkan saham suatu perusahaan yang membuat kekacauan dengan Raka. Raka memerintahkan Vyan untuk mengubah nama pemilik saham tapi bukan untuk Raka melainkan Vyan. Raka memberikan itu untuk hadiah jika Vyan berhasil menanganinya.


Dengan bermodalkan laptop kesayangannya, Vyan mampu meretas data perusahaan Wirawan crop dan mengambil alih saham yang sudah perusahaan itu ambil dari perusahaan milik Raka. Dan hanya beberapa menit saja Vyan dapat mengatasinya, dengan sekejap berita kebangkruttan Wirawan crop itu muncul sebagai trending topic di televisi.


" Yesssss... Grandpaa Vyan berhasilll " teriak Vyan yang langsung berlari ke arah kamar Raka.


Vyan menggedor-gedor pintunya namun lama pintu itu tidak terbuka.


Ternyata di dalamnya sedang ada perang suami istri:v. Raka menggerutu saat pintu itu di gedor-gedor dengan keras, karena pasalnya Raka baru akan memulai permainannya. Saat sudah memakai pakaian dia bangkit untuk membukakan pintunya.


" Grandpaaaa " ucap Vyan yang langsung menunjukkan laptopnya pada Raka. Raka membulatkan matanya dengan sempurna karena belum ada 20 menit Raka memberikan tugasnya ternyata Vyan sudah berhasil. Vyan menarik tangan Raka menuju ruang tengah dan memperlihatkan berita di tv pada Raka. Raka tersenyum bangga pada Vyan karena yang di ceritakan Aydan memanglah benar, Vyan adalah anak yang sangat cerdas bahkan genius.


" Kau berhasil sayang " ucap Raka sambil memeluk Vyan.


" Tentu saja aku berhasil Grandpa. Saham itu sudah menjadi milikku walaupun tidak besar tapi itu cukup untukku kelak " jawab Vyan.


" Kau membutuhkan yang lebih sayang?. Dan untuk apa kau memerlukan saham? " ucap Raka.


" Tidak Grandpa, Vyan nanti akan mencarinya dengan usaha Vyan sendiri. Vyan ingin mengumpulkan ini untuk kelak, jika Vyan sudah dewasa Vyan ingin keluarga papa yang akan mengemis pada Vyan agar Vyan kembali padanya " ucap Vyan.


" Kau memang pintar " ucap Raka sambil mengacak-acak rambut Vyan.


°°°°°°°°°


Keesokkan harinya di negara X Aydan dan Aurel sudah mulai memasuki kuliah. Mereka mengambil jurusan yang sama hingga mereka selalu bersama kemanapun.


Saat sampai kelas Aurel melihat ada mahasiswi baru yang memakai kacamata hitam tebal dengan rambut di kuncir kuda. Wanita baru itu menjadi bahan bulyian para mahasiswi yang merasa dirinya cantik.


Aurel merasa geram dengan sikap Sofia yang selalu menjelek-jelekkan nama anak baru itu. Dari mulai mengatakannya miskin hingga pada kata wanita murahan dan ****** pun keluar dari mulutnya. Neli ( anak baru itu ) tubuhnya mulai merespon, dia bergetar dan mengeluarkan air matanya.


" Hihhh ngapain lu nangis?. Dengerin gue ya mau sebanyak apapun air mata yang lo keluarin itu gue gabakal kasian ama lo !!! " bentak Sofi sambil memegang rahang Neli dengan keras.


Aurel menghampiri Sofi dan langsung melepaskan cekalannya pada Neli dengan keras.


" Gue kira semua siswa di kampus elit ini pada punya etitude, tapi nyatanya gue salah! " ucap Aurel pada Sofi sambil membantu Neli berdiri dan berlindung di belakang Aurel.


" Maksud lo apa! Liat dia! Emang dia pantes ada di kampus ini? cewek miskin kayak dia?! Dia itu gapantes masuk ke lingkungan ini, pantesnya itu dia di club bareng om om hahahahha " ucap Sofi dengan tawa yang terbahak-bahaknya.


Aurel memandang remeh pada Sofi, dia memperhatikan setiap barang yang dipakai oleh Sofi.


" Cih, seharusnya kata itu lebih pantes lo ucapin buat diri lo sendiri. Lagian apa salahnya dia disini, emang ni kampus milik lo? " ucap Aurel.


" Ya emang dia gak pantes buat disini! lo gatau kan setiap hari dia selalu kerja di club. Dan yang pasti gaji nya ga seberapa, mana mungkin dia bisa masuk di kampus ini kalo bukan bantuan dari om om yang dia layanin setiap malemnya " ucap Sofi diiringi tawa sinisnya.


" Baguslah gue bangga ama dia, setidaknya dia udah berjuang nyari uang buat ngelanjutin kuliahnya, ga kaya lo yang selalu minta orangtua lo buat beli ini itu segala macem. Lo emang bisanya cuma berlindung di ketiak orangtua lo. Dan ya " Aurel mendekati Sofi dan membisikkan sesuatu di telinganya " Apa lo yakin tubuh lo belum pernah di pake sama om om? " ucap Aurel dengan nada sinisnya.


" Dan ya, buat kalian semua. Kejadian ini biar dijadiin pelajaran, jangan menilai orang hanya dari sampulnya saja. Ketika penampilannya lebih buruk daripada kita bukan berarti sikap kita lebih baik daripada dia " ucap Aurel dengan suara lantangnya.


" Rese ya ni orang, berani-beraninya nyari masalah sama gue " gumam Sofi. Saat Aurel berbalik Sofi hendak menjambak rambutnya namun


" Cih jadi putri dari orang kaya hanya berani melawan dari belakang? " sindir Aurel.


Tak lama akhirnya dosen pun datang dan perdebatan itu berakhir. Saat kelas sudah selesai Aydan dan Aurel memutuskan pergi ke Mall untuk membelikan hadiah pada adiknya yang sebentar lagi akan hadir di dunia.


Ketika akan memasuki mobil, Aurel melihat Neli seperti yang sedang menunggu bus. Aurel menghampiri Neli karena dia merasa ingin dekat dengannya.


" Neli? " sapa Aurel dengan senyumnya.


Neli melihat ke sumber suara dia menunduk saat mengetahui siapa yang memanggilnya " Ah i..iya ada apa Aurel? " ucap Neli.


Aurel memegang kedua bahu Neli " Ga usah sungkan Neli, mulai sekarang kau adalah sahabatku " ucap Aurel. Neli memberanikan dirinya menatap Aurel yang ada dihadapannya itu.


" Itu tidak mungkin Aurel " jawabnya.


" Kenapa tidak mungkin? aku ingin kau jadi sahabatku. Tidak ada penolakkan untuk hal itu " ucap Aurel.


Neli masih saja diam dia berfikir bagaimana bisa seorang wanita yang tidak punya apa-apa bisa bersahabat dengan Aurel yang terlihat seperti orang yang sangat kaya.


" Boleh aku minta no ponselmu? " ucap Aurel.


Neli mengangguk dan memberikan ponsel lipat


yang sangat ketinggalan jaman, bahkan ponsel itu hanya bisa untuk mengirim pesan dan menelfon seseorang. " Maaf " lirihnya.


" Kenapa kamu minta maaf? " ucap Aurel dengan bingung


" Oiya hari ini aku akan pergi ke Mall untuk membelikan adikku hadiah apa kau mau menemaniku? " tawar Aurel.


" Eh? " jawab Neli.


" Sudahlah ku harap kau menerimanya karena aku tidak tau harus membelikannya hadiah seperti apa " ucap Aurel.


Aurel langsung menarik tangan Neli dan mengajaknya memasuki mobil bersama Aydan.


" Kak, Neli ikut ya " ucap Aurel.


Neli semakin menundukkan kepalanya saat Aurel meminta izin pada Aydan, ia takut jika ia harus di perlakukan sama dengan sebelumnya.


" Tidak masalah " jawaban Aydan membuat Neli merasa sangat lega.


Aydan melajukan mobilnya ke arah Mall, di perjalanan Aurel selalu bertanya pada Neli.


" Mulai hari ini bicaralah santai padaku layaknya seorang teman " ucap Aurel.


" Iiya " jawabnya.


" Neli, kau jangan menunduk terus " ucap Aurel " Oiya kenapa kamu pake kacamata setebel itu? " sambung Aurel.


" Ahh ga apa-apa kok " jawab Neli dengan gugup.


Aurel melepaskan kacamata dan ikatan rambut Neli juga sebuah tahi lalat palsu yang tertempel di pipi Neli, dia sudah tau jika Neli wanita yang cantik.


" Stop berbohong padaku Neli. Aku tau kamu itu cantik, kenapa kamu nutupin wajah kamu? " ucap Aurel.


" Ituuu karena aku kerja di club malam " jawab Neli.


Aurel mengerti akan hal itu, dia tau jika Neli tidak menggunakan penampilan palsunya pasti banyak sekali lelaki hidung belang yang ingin menikmati tubuhnya itu.


" Kamu takut dengan para player di club itu? " tanya Aurel.


Neli menganggukkan kepalanya. " Mulai sekarang kamu tidak boleh memakai ini semua " ucapan Aurel membuat Neli membelalakkan matanya ia berpikir jika Aurel tega membuat tubuhnya di cicipi para lelaki di club itu.


Aurel merasa lucu saat melihat wajah Neli dengan seribu ketakutannya itu " Kau tenang saja aku gaakan biarin tubuh suci mu ini di sentuh laki-laki yang belum sah untukmu. Dan mulai besok aku ingin kau bekerja sebagai sekertaris pribadiku "


" Maksudd kamu? " ucap Neli yang masih tidak yakin dengan pendengarannya itu.


" Ya, kau harus jadi sekertarisku mulai besok. Aku di amanahi 1 perusahaan oleh pamanku dan aku sama sekali tidak mempunyai sekertaris " ucap Aurel " Kamu harus terima itu semua Neli, aku yakin kamu ingin membahagiakan keluargamu bukan? " sambungnya.


Mendengar kata keluarga akhirnya Neli menyetujui permintaan Aurel. Dia hanya anak satu satunya dan tentunya itu membuat orangtua Neli sangat berharap banyak padanya.


* Adek gue baik banget dah, turunan siapa sih dia * batin Aydan sambil menyunggingkan sedikit senyumnya.