Twins'

Twins'
30



Dikamar Aurel, dia sedang berguling-guling di ranjangnya seraya menekan wajahnya pada bantal sampai kegiatan itu terhenti saat mendengar suara pesan masuk di ponselnya.


Seketika senyum mengembang saat mengetahui siapa yang mengirimkannya pesan.


***Pesan teks***


Kak Tian : Kau tidur?


Aurel : Tidak


Kak Tian : Ada yang ingin kakak bicarakan


Aurel : Silahkan


Kak Tian : Apa kau sudah siap menikah dengan kakak?


Aurel : Tentu saja, mengapa?


Kak Tian : Tidak. Apa kau benar mencintai kakak?


Aurel : Tidak ( Aurel tertawa saat membalas pesannya )


Kak Tian : Baiklah jika tidak biarkan kakak menikah dengan wanita lain ๐Ÿ˜‚


Aurel : Silahkan jika kakak berani menghadap Daddy ๐Ÿ˜


Kak Tian : Maka katakan kau mencintai kakak


Aurel : Tidak akan ๐Ÿ˜


Kak Tian : Apa kakak harus ke kamarmu sekarang? ๐Ÿ˜


Aurel : Untuk apa ๐Ÿ™„


Kak Tian : Memberimu pelajaran karena tidak mengatakan mau mencintaiku ๐Ÿ˜


Aurel : Haihhh.. Baiklah aku akan mengatakannya


Kak Tian : Katakan!


Aurel : Tapi tidak sekarang, kata-kata itu Lia simpan untuk malam spesial kita๐Ÿ˜‚. Lia ngantuk mau bobo, bye calon suami๐Ÿ˜โ™ฅ๏ธ


Kak Tian : Cih. Bye calon istri kecilkuโ™ฅ๏ธ


Aurel tersenyum saat melihat balasan terakhir dari Bagas.


Huhh rasanya duniaku sudah sempurna saat ini, batin Aurel.


Lalu dia meletakkan ponselnya di atas nakas, dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Tak lama akhirnya dia memejamkan matanya dan menyusul ke dunia mimpi.


Sedangkan di kamar lain, Aydan sedang melakukan panggilan telefon dengan seorang wanita. Senyum manis tak lepas dari bibirnya itu.


Aydan : Lia akan menikah dengan Bagas minggu depan


Seseorang : Oh benarkah? Wahh selamat ya


Aydan : Seharusnya aku yang menikah duluan karena aku lebih tua darinya


Seseorang : Menikahlah


Aydan : Aku ingin menikah denganmu. Kapan kau akan siap? aku sudah tidak bisa menahan kerinduan ini. Rasanya aku ingin melihatmu saat pertama kali aku membuka mata di pagi hari


Seseorang : Ay, aku harus memperbaiki sikapku terlebih dahulu. Aku tidak ingin menjadi seorang istri yang bahkan tidak pandai merawat suamiku nanti


Aydan : Sayang, kau sudah menjadi wanita hebat. Bahkan kau merawatku dengan baik saat aku sedang tidak sehat. Apalagi yang harus kau perbaiki


Seseorang : Masih banyak Ay, sabarlah. Jika aku sudah siap aku akan mengabarimu. Secepatnya


Aydan : Hah. Baiklah, aku percaya padamu. Tapi kau harus ingat! Jangan biarkan aku menjadi perjaka tua


Seseorang : Baiklah my boy


Setelah beberapa menit bertelefon akhinya Aydan memutuskan sambungannya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Sedangkan dikamar lain Zahra sedang memeluk tubuh Raka di atas ranjang seraya mengusap-usap dada bidang suaminya itu.


" Dad " ucap Zahra.


Raka membuka matanya dan menatap Zahra " Hem? " ucapnya.


" Sayang, bahkan kau menikah lebih muda darinya. Lagi pula dia sudah dewasa. Tenang saja, Lia pasti bisa menjadi istri yang baik nantinya " ucap Raka dengan mencium puncak kepala Zahra.


" Aydan? " ucap Zahra.


" Daddy tau dia sedang dekat dengan seorang wanita. Tapi entah mengapa dia belum membawanya kehadapan kita " jawab Raka.


" Ah benarkah? Mengapa aku tidak tau? " ucap Zahra.


" Tidak usah tau, kau hanya perlu mengetahui tentang keinginan suamimu ini " ucap Raka.


Zahra mengernyitkan dahinya seraya mendongak menatap Raka " Keinginan? " ucapnya.


" Ya keinginan " ucap Raka dengan seringainya. Zahra mengerti akan tatapan Raka dan merasakan sesuatu sudah berdiri dengan tegap di bawah sana.


Dengan cepat Zahra menjauhkan tubuhnya dan membelakangi Raka.


" Sayang, ayolah " rengek Raka dengan memeluk Zahra dari belakang.


" Tidak, aku lelah " ucap Zahra dengan menaikkan selimutnya sampai leher.


" Satu kali saja " ucap Raka dengan nada beratnya.


Zahra teringat sesuatu lalu dia tersenyum seperti sedang merencanakan sesuatu. Dia berbalik menghadap suaminya dan langsung mengecup bibir ranum milik Raka.


Raka tersenyum puas saat melihat tingkah istrinya itu, dia berpikir bahwa usahanya tidak gagal. Saat akan melancarkan aksinya, Zahra menghentikannya dan menunjukkan sebuah kalender.


" Heum? " ucap Raka yang tak mengerti dengan Zahra.


" Lihat ini, dan ingat sekarang tanggal berapa " ucap Zahra dengan tawanya.


Raka meraih kalender di tangan Zahra dan langsung membelalakkan matanya saat melihat tulisan dengan tinta merah di atas tanggalnya.


" Kamu? " ucap Raka.


" Ya, aku sedang PMS " ucap Zahra dengan gelak tawanya.


" Arghhhhhh " geram Raka dengan mengacak rambutnya.


" Terus ini? " sambungnya dengan menunjuk sesuatu yang sudah siap untuk bertarung.


" Bersolo ria saja hahahhaa " jawab Zahra dengan santai.


Dengan terpaksa Raka berjalan ke arah kamar mandi tanpa mengenakan sehelai benangpun dan menuntaskan pekerjaannya di dalam sana.


Sedanglan dikamar yang berada di lantai 2, Vyan sedang memegangi sebuah foto keluarganya dulu.


" Mama, Rangga merindukan mama. Rangga tau mama pasti sayang banget sama Rangga. Hanya saja dulu mama tak berani melawan papa. Ma Rangga berjanji suatu saat nanti Rangga akan membawa Mama dari rumah itu dan hidup bahagia bersama Rangga " lirihnya dengan suara serak.


Dia terkejut saat merasakan seseorang yang menyentuh puncak kepalanya.


" Bu.. bunda? " ucap Vyan. Dengan cepat dia memasukkan fotonya pada laci di sampingnya.


" Kamu merindukan Mama mu? " ucap Aurel.


" Ti..tidak bunda " jawab Vyan, dia berbohong karena takut jika hal itu akan membuat Aurel kecewa.


" Sayang " Aurel mendekat kedepan Vyan dan langsung mensejajarkan posisinya " Tidak apa jika kamu merindukan Mama mu. Bunda ngerti, jika mau Bunda akan mempertemukanmu dengannya " ucap Aurel.


" Euh? " Vyan menatap Aurel.


" Bunda gaakan marah sama kamu. Walaupun kamu mendapatkan kasih sayang dari Bunda tapi Bunda tau jika itu tidak sama dengan kasih sayang yang Mama mu berikan dulu " ucap Aurel.


" Maafkan Vyan bunda " lirihnya.


Aurel memeluk Vyan dan mengusap punggungnya dengan lembut " Jadi kapan kamu siap bertemu dengan Mama mu? " ucap Aurel.


" Tidak sekarang bunda, posisi Vyan saat ini sangat tidak mungkin untuk bisa melawan Papa " jawab Vyan.


" Kau bisa memberitahukan siapa dirimu sekarang jika kau merasa tertekan seperti ini. Dan ingat! sekarang kau adalah Vyan Adrena Putra Arsenio. Jika saja papamu mendengar siapa namamu sekarang, Bunda yakin dia akan bertekuk lutut di hadapanmu " ucap Aurel.


" Tidak Bunda, biarkan Vyan menangani ini sendiri tanpa menggunakan keluarga Arsenio " jawab Vyan.


" Baiklah, bunda paham. Belajar dengan giat agar kau bisa membawa Mama mu secepatnya " ucap Aurel.


" Sekarang istirahatlah " sambungnya.


" Baik bunda " jawab Vyan. Lalu dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang dna tak lupa Aurel membenarkan selimut yang dipakai oleh Vyan.