
" Lia dengerin dulu, aku butuh waktu berdua buat jelasin semuanya " ucap Maheer.
" Gaada Maheer!! Gue udah ikhlasin lo sama Angel!! Gue gamau ketemu lo lagi, gue gamau lo muncul di hidup gue lagi! Gue mau lo pergi Maheer!! Pergii!! " teriak Aurel.
" Lia " lirih Maheer.
" Pergi brengsek!!!! " teriak Aurel.
" Lia dengerin gue!! Gue lelaki normal! Gue butuh pemuas nafsu gue, dan gue ngelakuin itu ke Angel karena gue gamau ngerusak lo! Gue mau jaga lo sampe lo jadi milik gue suatu saat nanti!! " ucap Maheer yang sedikit meninggikan suaranya.
Bagas sudah siap untuk memukulnya lagi namun tangannya di cekal oleh Aurel.
" Ya lo emang ngejaga kehormatan gue! Tapi lo udah ngancurin kepercayaan yang udah sepenuhnya gue beri ke lo Maheer. Pergilah dengan Angel. Ada ataupun gaada lo di hidup gue gabakal bikin gue berhenti bernafas. Gue udah relain lo buat Angel, gue harap lo ga ngecewain Angel " ucap Aurel.
Aurel menarik tangan Bagas dan membawanya masuk ke dalam mobil. Saat sudah di dalam mobil Aurel memejamkan matanya seperti menahan gumpalan air yang ada di dalamnya.
" Menangislah " ucap Bagas yang langsung mengelus punggung tangan Aurel.
" Gaada manfaatnya nangisin cowok kayak gitu " lirih Aurel.
" Jadikan ini tangisan terakhirmu Lia " ucap Bagas.
Bagas langsung memajukan mobilnya ke restoran tempat akan bertemunya dia dengan sang ayah. Selama di perjalanan Aurel tidak mengeluarkan sepatah kata pun seperti sebelumnya. Bagas pun tidak berbicara pada Aurel karena dia takut merusak mood Aurel lebih dalam lagi.
Beberapa menit di perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah restoran yang tidak terlalu ramai.
" Kenapa disini? " tanya Aurel.
" Kakak udah bilang kan kita sekalian sarapan " jawab Bagas.
Bagas segera membukakan pintunya untuk Aurel dan Aurel langsung menggandeng lengan Bagas layaknya sepasang kekasih.
Erik ( Ayah Bagas ) sangat bahagia saat melihat kedatangan sang anak dan anak majikannya itu. Dia mengembangkan senyum manisnya dan tak terasa air matanya menetes begitu saja.
* Sayang lihatlah anak kita. Dia sudah sangat dewasa sekarang. Bahkan dia sudah mulai memiliki perasaan cinta * batin Erik sambil menghapus air matanya.
" Uncleee!!! " teriak Aurel yang langsung berlari dan memeluk Erik. Karena memang dari beratus-ratus pengawal hanya Erik lah yang dekat dengan Aurel.
" Haishhh masih seperti anak kecil ternyata " ucap Erik dengan mengelus puncak kepala Aurel layaknya seorang anak.
Erik memang sangat menginginkan anak perempuan saat itu, namun takdir berkehendak lain. Saat istrinya sedang mengandung 2bulan dia harus kehilangan istri dan calon anaknya karena sebuah kecelakaan yang menimpa mereka.
" Biarlah. Lia rindu uncle, kenapa uncle tidak pulang selama ini " ucap Aurel.
" Uncle sedang bekerja sayang. Sudah lepaskan " ucap Erik.
" Lihatlah sepertinya Bagas cemburu karena kau memeluk uncle dengan erat " bisik Erik dengan kekehannya.
" Haihhh dasar posesif " gerutu Aurel.
Aurel menatap Bagas dengan tatapan yang sulit di artikan sehingga membuat Bagas mengernyirkan dahinya tanda ia tak paham dengan apa yang terjadi pada Aurel.
" Kenapa? " tanya Bagas.
" Posesif! " ketus Aurel.
" Kakak pasti cemburu kan karena Lia deket-deket sama uncle Erik " ketus Aurel.
" Heh siapa yang cemburu " ucap Bagas sambil menyentil pelan kening Aurel.
" Awww. Kak Tian sakit ah! " rengek Aurel.
" Lebay amet dah " ucap Bagas.
Bagas meraih tangan Erik dan menciumnya, lalu Erik memeluknya dengan erat. Rasanya rindu yang sudah terbendung selama ini tertumpahkan di dalam pelukkan itu.
" Bagaimana kabarmu? " tanya Erik dengan melepaskan pelukkannya.
" Sangat baik Ayah, bagaimana dengan Ayah? " ucap Bagas sambil duduk di kursi yang berada tepat di depan Erik dan si samping Aurel.
" Tentu saja baik. Kalian sudah sarapan? " tanya Erik.
" Belum uncle. Kak Tian ngajak Lia buru-buru sampe lupain kalo Lia belum makan " ucap Aurel mengada-ngada.
" Haihhh dasar cebong. Daritadi dia yang ngerengek minta ikut sekarang malah gue yang di salahin " gerutu Bagas dalam hati.
" Pesanlah makanan, disini juga ada makanan Indonesia. Jika kalian mau kalian bisa memesannya " ucap Erik.
" Oh benarkah? " ucap Aurel dengan antusias yang dianggukki oleh Erik.
Akhirnya Aurel dan Bagas memesan beberapa makanan khas Indonesia dan menghabiskannya saat itu juga.
Setelah selesai menyantap makanannya, Erik membawa Bagas dan Aurel ke markas milik keluarga Arsenio.
Saat mereka tiba di tempat itu, Aurel mengernyitkan dahinya saat melihat semua orang memakai pakaian khusus pengawal Arsenio.
" Uncle kita dimana, kenapa semua orang memakai pakaian khusus itu? " tanya Aurel yang baru turun dari mobil.
Erik tidak menjawab pertanyaan Aurel. Dia malah tersenyum dan mengajak Aurel dan Bagas ke suatu ruangan privat yang berisi banyak senjata dan layar monitor besar yang menempel di dinding.
" Ini markas utama keluargamu. Dan ini adalah ruangan khusus yang hanya bisa dimasukki oleh orang-orang yang memiliki hubungan baik dengan keluarga Arsenio " ucap Erik.
" Wahhh keren " ucap Aurel sambil bertepuk tangan. Dia berkeliling melihat senjata-senjata yang ada di dalam ruangan tersebut.
" Ini rancangan khusus kah? " tanya Aurel.
" Ya benar, sebelah sini rancangan Tuan Raka, ini rancangan Tuan Riko dan sebelah sini rancangan Uncle selama beberapa tahun ini " jawab Erik.
" Dan ya, ini terimalah. Ini adalah rancangan uncle yang uncle buat beberapa hari lalu. Kamu bisa menggunakannya saat dalam kondisi mendesak " ucap Erik seraya memberikan sebuah jam tangan berwarna hitam pekat yang ternyata di dalamnya terdapat tembakkan yang dapat melumpuhkan lawan dan juga sinyal, jika suatu saat Aurel sedang dalam bahaya sinyal itu langsung terhubung dengan semua pengawal Arsenio.
" Apa ini? " tanya Aurel.
Erik menjelaskan tentang pena tersebut dan menjelaskan bagaimana cara menggunakannya.
" Thanks Uncle " ucap Aurel sambil memasukkan jam tangan itu ke dalam saku bajunya.
" Dan ini untukmu " ucap Erik seraya memberikan sebuah pena yang berwarna sama yang isinya sama dengan Aurel.
" Terimakasih Ayah " ucap Bagas.