
" Kamu udah nyiapin namanya? " tanya Aurel pada Vyan.
" Udah dong bund, namanya juga hampir mirip sama bunda " jawab Vyan.
" Iyakah? Siapa? " tanya Aurel.
" Ehmm " Vyan bangkit dari posisi duduknya dan membenarkan kerah bajunya seolah sedang berpidato di acara penting " Amellia Zhahira Putri Arsenio, gimana baguskan??? " sambungnya dengan melipatkan tangannya di perut.
" Nama yang cantik " ucap Aurel.
" Tentu saja, seperti orangnya " jawab Vyan " Bunda, suatu saat bolehkah aku menikah dengannya? " sambung Vyan dengan menatap kearah bayi mungil.
Semua orang terbelalak saat mendengar pertanyaan Vyan " Apa maksudmu sayang?, Kamu masih kecil jangan memikirkan tentang pernikahan dulu " ucap Bagas yang ikut duduk di samping Vyan.
" Vyan bilang suatu saat ayah bukan sekarang, Vyan ingin menikah dengan salah satu keluarga ini karena Vyan tau kelak dia akan jadi perempuan yang baik " ucap Vyan " Seperti grandma dan bunda " sambungnya dengan menatap Aurel.
" Bunda tidak bisa memutuskan apapun saat ini. Jika memang kau adalah jodoh Amel, bunda akan selalu merestui kalian tapi jika kau bukan jodohnya maka kau pasti akan mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik darinya. Mengerti? " ucap Aurel.
" Ya bunda " jawab Vyan. " Kak Ay, aku ingin menggendongnya " sambungnya.
Aydan menoleh ke arah Raka seolah meminta izin padanya dan dianggukki oleh Raka.
" Hati-hati Vyan " ucap Aydan sambil menaruh Amel di pangkuan Vyan.
Vyan tersenyum saat memangku Amel, dia melihat wajah Amel yang benar-benar mirip dengan bundanya.
" Cantik " gumamnya.
" Ayah apa aku bisa minta tolong? " ucap Vyan pada Bagas.
" Boleh, apa itu? " ucap Bagas.
" Vyan minta tolong buat ambilkan kotak di kantong jaket itu " ucap Vyan dengan menunjuk jaket yang ada di dekat ranjang Zahra.
Bagas mengangguk dan langsung melangkahkan kakinya, dia meraih sebuah kotak kecil yang ada di kantong jaket.
" Apa ini? " tanya Bagas dengan kening yang berkerut.
Bagas membawa kotak itu dan memberikannya pada Vyan. Vyan tersenyum melihat kotak itu, dia membukanya dan terlihat ada sebuah kalung dengan liontin VA yang artinya inisial mereka berdua.
" Kak Ay tolong pangku dulu Amel ya " ucap Vyan. Aydan mengangguk dan langsung membawa Amel ke pangkuannya. Vyan meraih kalungnya dan memakaikannya pada leher Amel.
" Perfect " ucapnya dengan senyuman termanisnya.
" Kapan kamu membelinya? " tanya Aurel.
" Saat aku pulang dari sekolah, aku meminta supir untuk mengantarku ke toko perhiasan " jawab Vyan.
Aurel tersenyum dan mengelus puncak kepala Vyan.
" Kau punya kembaran baru lagi Lia? " ucap Farhan yang tiba-tiba ada di dalam ruangan itu dan membuat semua orang menatapnya.
" Bener-bener kayak jelangkung nih. Datang ga diundang pulang ga di anter " ucap Aurel " Kalo baru datang tuh ucapin salam kek " ketus Aurel.
" Ya maap " jawab Farhan dengan santai. Ia berjalan mendekati Amel dan berjongkok untuk melihat dengan jelas wajahnya karena memang Amel sedang di pangkuan Aydan. " Cantikkkk,, sepupuku sempurnah semua ya " ceplosnya tanpa mengalihkan pandangannya itu.
" Rokok kali ah sempurnah !! " ucap Aydan.
" Lia ini bener-bener mirip kamu seriusan ga boong " ucap Farhan.
" Iyalah, kan sama cetakannya " jawab Aurel dengan santai.
" Dikira bikin kue kali ya " ucap Farhan.
Tak terasa sekarang Amel sudah menginjak umur 1 tahun. Tingkahnya yang cerewet membuat rumah Raka sangat ramai sekali namun disatu sisi Amel adalah salah satu wanita yang mellow, dia mudah sekali menangis bahkan dulu pernah Aurel sedang memotong sayuran dan tak sengaja jarinya terkena pisau dan mengeluarkan darah, Amel melihat itu dan langsung menangis dengan kencang.
Saat ini Vyan sudah berusia 9 setengah dan akan memasuki usia 10tahun beberapa bulan lagi. Vyan yang selama ini selalu menemani Amel di rumahnya. Amel pun sangat menyukai Vyan karena Vyan selalu menjaganya dan bisa menjadi tameng saat dirinya akan dimarahi kedua orangtua karena sikapnya.
Seperti malam ini, Amel dengan sengaja membuka kulkas dan mengambil sekotak pizza yang ada didalamnya, dan tentunya secara diam\-diam karena dia dilarang kedua orangtuanya agar tidak terlalu sering memakan makanan seperti itu.
Vyan yang baru kembali dari kamar mandi gelagapan saat melihat Amel tidak ada ditempat semula. Dia tidak berteriak karena takut menganggu istirahat Raka dan Zahra. Dengan berlari kecil dia mencari Amel ke setiap sudut, dan langkahnya terhenti saat melihat sepasang kaki mungil di bawah meja makan. Vyan berjongkok dan melihat siapa pemilik kaki itu, dan benar ternyata itu adalah Amel sang adik.
Vyan bernafas lega saat mengetahui Amel ada di dalam rumah ini namun dia juga tidak tenang karena melihat Amel sedang memakan pizza, karena dia tahu pasti jika Raka dan Zahra mengetahuinya itu akan membuat Amel di ceramahi.
" Heyy kenapa kau disitu, cepat keluar sayang nanti mommy dan daddy melihatmu " ucap Vyan.
" Tata aku agi mam " ucap Amel dengan cadelnya.
Jantung Vyan bedegup kencang saat mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat, dia menoleh sumber suara dan melihat ternyata Raka dan Zahra sedang menuju ke arahnya. Dengan cepat Vyan masuk ke bawah meja tempat Amel bersembunyi.
" Tata tenapa dicini? Tata mau piza? " ucap Amel dengan memberikan sepotong pizza sisanya.
" Sutttt, ada mommy dan daddy mau kesini " ucap Vyan dengan mendekatkan jari telunjuknya ke bibir Amel.
Lalu dia bersembunyi di balik punggung Vyan.
" Jangan berbicara dan bergerak sedikitpun " bisik Vyan.
Raka dan Zahra memasuki dapur dan membuka kulkas karena Zahra akan memakan salad yang ia buat tadi sore. Saat membuka kulkas dia mengerutkan keningnya karena dia tidak melihat kotak pizza di kulkas itu. Dia mengedarkan pandangannya ke semua penjuru dan menangkap sesuatu yang membuatnya tertawa kecil.
" Kamu liat apa sayang? Kenapa ketawa gitu " tanya Raka.
" Lihatlah anak dan cucumu sedang bersembunyi dibawah meja makan " bisik Zahra.
Raka langsung melihat ke bawah meja makan dan benar saja dia melihat Vyan dan Amel disana. Raka mengerutkan keningnya ke arah Zahra karena dia tidak tahu mengapa anak dan cucunya itu bersembunyi dibawah sana.
" Pasti anakmu itu memakan pizza " bisik Zahra.
Zahra mendekati meja makan dan berjongkok melihat kedua anak itu. " Apa yang kalian lakukan " ucap Zahra dengan posisi berada di belakang Vyan dan Amel.
Vyan dan Amel terkejut saat mendengar suara Zahra di belakangnya sampai kepala Vyan mengenai meja dengan sangat keras dan membuat dia mengaduh.
" Astaga hati\-hati dong kak " ucap Zahra. " Cepet pada keluar, mau ngapain disitu lagian kalian udah ketauan. Amel cepat keluar sayang " sambungnya.
" Mommy janji tak malah? " ucap Amel.
" Mommy janji sayang. Ayok " Zahra menyodorkan tangannya dan dengan cepat Amel merangkak ke arahnya. " Lain kali jika ingin, kau harus bicara pada daddy dan mommy sayang " sambung Zahra yang sedang menggendong Amel.
" Janji " ucap Amel.
Vyan keluar dari bawah meja dan menundukkan kepalanya
" Grandma grandpa maaf " lirihnya.
Raka menghampiri Vyan dan memeluknya " Gausah meminta maaf sayang, kau sudah menjaga Amel dengan baik " ucapnya.
Akhirnya mereka memutuskan untuk memasuki kamarnya masing\-masing dan beristirahat. Entah mengapa malam ini Amel merengek pada orangtuanya agar dia bisa tidur bersama Vyan.
Bukannya Zahra dan Raka menolak tapi mereka tau jika sekarang Vyan sudah besar dan dia yang bilang sendiri jika dia hanya ingin tidur sendiri tanpa siapapun yang menemaninya.
" Gapapa grandma biar Amel tidur sama Vyan malam ini " ucap Vyan.
" Bukan gitu kak, kan kamu pernah bilang sendiri sama kita " ucap Raka.
" Gapapa kok grandpa. Sini Amel sama kakak " ucap Vyan dengan merentangkan tangannya bersiap untuk menggendong Amel.
Amel dengan cepat datang ke pelukkan Vyan, dia tersenyum dan mencium wajah Vyan berkali\-kali. Tidak ada penolakkan sama sekali dari Vyan, karena menurutnya Amel dan bundanya itu sama. Jadi dia sangat menyayangi keduanya.
" Mari girl kita tidur " ucap Vyan dengan mencium pipi gembul milik Amel " Grandpa Grandma Vyan bawa Amel ke kamar ya " sambungnya yang dianggukki Raka dan Zahra.
" Vyan sangat menyayangi Amel, daddy takut jika sudah besar nanti Vyan mencintai Amel sebagai wanita tetapi Amel mencintainya sebagai seorang kakak " ucap Raka.
Zahra mengelus punggung tangan Raka untuk menenangkannya " Kita pasrahkan semuanya pada Tuhan " ucapnya.
" Mom " ucap Raka.
" Hem " jawab Zahra.
" Sepertinya kita harus membuat adik untuk Amel " ucap Raka yang membuat Zahra melepaskan genggaman tamgannya dan langsung menatap suaminya dengan tatapan mengerikan.
" Ngawur!!! " ucap Zahra lalu meninggalkan Raka sendiri di dapur.