Twins'

Twins'
15.



" Dok bagaimana keadaannya " tanya Bagas.


" Tenanglah dia tidak apa-apa, hanya demam saja dan itu biasa untuk anak seumurannya. Saya sudah memberikannya obat agar panas tubuhnya turun " ucap Mia.


Bagas merasa lega saat mendengar ucapan dokter di depannya, ia langsung meminta izin untuk menemui Vyan di dalam.


Saat membuka pintu kamar itu ternyata Vyan sudah membuka matanya. Dia tersenyum saat melihat Bagas di balik pintu.


" Ayah " lirih Vyan.


" Heyy kau bangun sayang? " ucap Bagas yang di anggukki Vyan. " Kau mau makan nak? " sambungnya.


" Tidak Ayah, aku rindu bunda " ucap Vyan.


" Sabar sayang, minggu depan bunda akan pulang " jawab Bagas sambil mengelus rambut Vyan. " Lagi pula kalau bunda pulang sekarang, bunda akan pergi lagi lebih cepat. Kita tunggu 1 minggu lagi sayang, setelah itu kau akan bebas bermain dengan bunda. Sekarang kau fokus pada kesehatanmu, kau tidak ingin membuat bunda khawatir bukan? " sambung Bagas.


" Tidak ayah aku tidak ingin membuat bunda sedih. Aku akan cepat sembuh dan kembali sehat lagi " ucap Vyan.


Bagas mencium kening Vyan" Good boy " ucapnya.


* Jadi seperti ini rasanya menjadi seorang ayah. Penuh ketakutan. Ayah cepatlah pulang, Bagas sungguh merindukan ayah * batin Bagas mengingat Ayahnya sedang mempunyai pekerjaan di luar negeri.


Tak lama pintu kamar rawat itu terbuka membuat Bagas dan Vyan melihat siapa yang datang. Ah, ternyata Raka dan Zahra.


" Hey sayang, bagaimana keadaanmu? " tanya Zahra.


" Aku tidak apa-apa Grandma " jawab Vyan dengan senyumannya.


" Kak? " ucap Raka memandang Bagas seolah meminta penjelasan.


" Vyan ga apa-apa mom dad, hanya demam tinggi. Dokter Mia udah ngasih obat kok supaya demamnya turun " ucap Bagas.


" Syukurlah, grandma bawa ini buat kamu sayang. Bubur kesukaanmu " ucap Zahra sambil menyodorkan kotak makan.


" Terimakasih grandma " jawab Vyan.


°°°°°°°


1 minggu berlalu dengan cepat hingga tidak terasa hari ini adalah hari keberangkatan Aydan dan Aurel ke Indonesia. Neli dan keluarganya pun memutuskan untuk menyetujui ajakkan Aurel setelah tau jika Aurel berasal dari keluarga Arsenio, keluarga yang paling di takuti di dunia.


Jam dinding menunjukkan pukul 5 pagi, Aurel dan Aydan sudah berada di bandara menunggu Neli beserta keluarganya datang. Setelah 15 menit akhirnya Neli dan keluarganya datang dengan membawa koper ditangannya masing-masing.


" Maaf Rel, lama ya nunggu nya " ucap Neli.


" Ngga kok santai aja kali. Yuk langsung berangkat aja takut nyampenya terlalu larut " ucap Aurel semuanya naik ke jet pribadi milik keluarga Arsenio jet pribadinya pun memiliki logo khas keluarga itu.


Akhirnya mereka memasuki jet dan kembali tertidur selama di perjalanan karena perjalanannya memang sangat panjang.


Setelah menempuh perjalanan yang panjang akhirnya mereka sampai di bandara Soekarno - Hatta pada pukul 21.25 WIB. Aurel langsung menuju ke mansion Raka, Aurel dan Aydan sengaja tidak mengabarkan pada orangtuanya jika mereka pulang hari ini, karena sepengetahuan Raka dan Zahra hari kepulangan Aydan dan Aurel adalah besok.


Aurel mengajak Neli dan keluarganya tinggal bersama agar bisa melindungi mereka dari ancaman keluarga ibu Neli. Saat sampai di depan gerbang mansion, mobil yang Aurel tumpangi di berhentikan.


" Maaf Tuan apa anda ada keperluan dengan pemilik rumah ini? " tanya pengawal pada supir pribadi Aurel.


Saat sopir akan menjawab namun dengan cepat Aurel menyelanya.


" Hey apa kau satpam baru disini? " tanya Aurel yang membuka kaca mobilnya.


" Benar Nona, ada yang bisa saya bantu? " jawabnya.


Aurel mengeluarkan kartu nama nya dan menyodorkan ke satapam di hadapannya " Pantas saja. Saya Aurel anak daddy dan mommy " ucap Aurel membuat satpam itu tertegun atas kebodohannya yang tidak mengetahui jika yang ada di hadapannya adalah anak majikannya sendiri.


" Ma...maafkan ss..saya Nona " ucap satpam itu sambil membungkukkan badannya.


" Tidak apa-apa, aku memakluminya. Bukalah " titah Aurel


" Mobil di belakang adalah mobil temanku " sambungnya.


" Baik Nona " satpam itu membuka gerbang sesuai perintah Aurel.


Saat sampai di dalam mansion, Aurel tidak melihat keluarganya. Mungkin karena sudah larut, jadi keluarganya sudah istirahat.


" Bi tolong antarkan teman lia dan orangtuanya ke kamar tamu " titah Aurel pada Bi Inah.


" Siap Non, mari ikut saya " ucap Bi Inah dengan sangat ramah.


Aurel langsung memasuki kamar Vyan karena dia sangat merindukan putra nya itu. Saat membuka pintu kamar, Aurel sama sekali tidak melihat Vyan sampai suara teriakkan membuat Aurel terkejut.


" Aaaaaaaaaaaaa " teriak seorang anak kecil yang ternyata adalah suara Vyan.


Tanpa menunggu lama Aurel langsung berlari mencari sumber suara, dia menangkap suara itu dari ruang berlatih.


Brakk


Aurel membuka pintu ruangan itu sangat keras membuat dua pria di dalamnya menoleh ke arahnya.


" Kak Tiann apa yang kau lakukann !!! " teriak Aurel yang langsung meraih tubuh Vyan ke dekapannya.


" Bunda " ucap Vyan sambil melepaskan pelukannya.


" Bunda pulang? " sambungnya dengan mata berkaca-kaca yang membuat pikiran Aurel makin kalut.


" Heyy kamu kenapa sayang, ada yang sakit? Apa ayahmu menyakitimu?? " tanya Aurel yang ikut meneteskan air matanya. Entah karena apa, Aurel dan Vyan seperti mempunyai hubungan batin yang benar-benar kuat.


" Ngga bunda, Vyan gapapa " jawabnya lalu Vyan memeluk lagi Aurel dengan sangat erat.


Aurel menatap Bagas dengan sangat tajam, ia belum mengetahui bahwa Vyan sedang berlatih beladiri bersama Bagas.


" Kak Tian " ucap Aurel dengan tatapan tajamnya namun Bagas tidak memperdulikan tatapan itu, dia malah memberi sebuah senyum manisnya " Ngapain senyum-senyum begitu? Kesurupan kamu kak? " sambung Aurel yang membuat Bagas terkekeh.


Bagas menghampiri Aurel dan membelai rambut panjangnya


" Kenapa ga ngabarin kakak, kakak kan udah janji sama kamu buat jemput " ucap Bagas.


Aurel menepis tangan Bagas dan kembali menatap dengan tatapan sinisnya " Ga usah mengalihkan pembicaraan kak! " ketus Aurel.


Bagas mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti apa yang di maksud oleh Aurel " Maksudnya? " ucap Bagas yang membuat Aurel mendengus.


" Kakak apain Vyan sampe dia kesakitan gini " ucap Aurel.


" Haihh mana kakak tau, niatnya kakak mau ngajarin Vyan beladiri. Belum di mulai eh Vyan nya sakit perut, belum kakak apa-apain seriusan " ucap Bagas.


Aurel melepaskan pelukannya dan menatap Vyan.


" Vyan, kamu kenapa? " ucap Aurel.


" Tadi perut Vyan sakit banget bunda, tapi sekarang udah enggak " jawabnya.


" Syukurlah, ini udah malem banget Vyan kenapa kamu belum tidur " ucap Aurel.


" Vyan gabisa tidur bun jadi Vyan minta ayah buat ngajarin beladiri " jawab Vyan.


" Sudahlah, sekarang kamu harus tidur. Ayo kita ke kamar " ucap Aurel sambil menuntun tangan Vyan dan meninggalkan Bagas sendiri di ruangan itu.


* Semakin hari dia semakin cantik. Tuhan, berikanlah seseorang yang terbaik untuknya. Jika takdirnya bukan aku, aku berharap dia benar-benar bahagia dengan laki-laki pilihannya kelak * batin Bagas sambil melihat punggung Aurel yang semakin menjauh.


Bagas menelentangkan dirinya di lantai. " Kak Tian " ucap Aurel yang tiba-tiba saja datang lagi di balik pintu.


" Hem " jawab Bagas yang masih dalam posisinya dengan menutup matanya.


" Kak Tian ihhh, aku lagi ngomong juga bukannya dengerin malah merem " ketus Aurel.


Bagas tetap diam di posisinya tanpa bergerak sedikit pun


" Kakak denger dek, kenapa? " ucapnya.


Aurel menghampiri Bagas dan langsung menarik tangan Bagas dengan kasar, namun siapa sangka ternyata Bagas juga menarik tangan Aurel dan membuat Aurel jatuh tepat di atas tubuhnya.


Aurel menatap wajah Bagas yang masih dengan mata terpejam, sangat dekat bahkan nafas keduanya saling beradu.


* Tampan * batin Aurel.


" Kakak tau kakak memang tampan " ucapan Bagas membuat Aurek tersadar dari lamunannya dan mencoba menjauhkan tubuhnya dari Bagas namun dengan kuat Bagas menahan tubuh Aurel dengan tangan kanannya.


" Diam lah sebentar saja " lirih Bagas.


Aurel terus menggerak-gerakkan badannya, dia tidak tau jika gerakkannya sudah memancing hasrat Bagas.


" Sudah kubilang diam dek, kau membangunkan juniorku yang bahkan belum sama sekali memasuki kandangnya " ucap Bagas dengan suara beratnya.


Aurel tersadar saat mendengar ucapan Bagas, dia langsung memberhentikan gerakannya. Dia bahkan merasakan sesuatu yang sudah bangkit di bawah tubuh Bagas." Kak Tiannn ishhh " geram Aurel, namun ia sama sekali tidak bergerak.


" 5 menit saja, setidaknya tunggu juniorku tenang dulu " ucap Bagas.


Benar saja, setelah 5 menit Bagas melepaskan pelukannya


" Kenapa dek? " ucap Bagas yang bangkit dari tidurnya.


" Ah i..itu " Aurel menjadi guguo saat menatap mata Bagas.


" Ngapa jadi gugup gitu dek? " ucap Bagas sambil menahan tawanya.


* Aishhh ngapain juga gue gugup begini yaampun * batin Aurel.


" Em.. Itu kaka selama ini tidur sama Vyan? " ucap Aurel.


Bagas menjawab pertanyaan Aurel hanya dengan anggukkan saja. Tanpa menunggu lama, Aurel menarik tangan Bagas menuju kamar Vyan.


" Beresin gak!! " titah Aurel pada Bagas karena melihat kamar itu benar-benar berantakkan dengan barang Bagas yang berceceran dimana-mana. " Kakak abis perang sama siapa? " sambungnya dengan nada kesal.