Twins'

Twins'
69



"Kauuu!!!!" Geram Vyan.


"Jadi kau yang merencanakan ini semua!!!!" Sambung Vyan.


"Hahaha kamu memang anak yang pintar" Ucap pria itu.


Vyan menengok ke arah belakang.


"Jika kau menyakitiku aku akan membunuh Ibu mu saat ini juga" Pria itu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah video Ibu kandungnya yang sedang di siksa oleh beberapa orang.


"Apa yang kau mau!!" Teriak Vyan.


"Kau" Jawabnya dengan santai.


"Ikutlah bersamaku, aku akan mempertemukanmu dengan Ibumu" Sambungnya.


Vyan membelakangi pria itu dan memberikan Amel pada salah satu pengawalnya.


"Tolong bawa dia. Bilang pada Ayah dan Grandpa, jangan mengkhawatirkanku. Aku akan segera pulang, aku akan mengirim sinyal saat keadaanku darurat. Tetap stay di monitor" Ucap Vyan yang setengah berbisik.


"Tapi Tuan Muda" Ucap pengawal.


"Tidak apa-apa. Laksanakan saja" Ucap Vyan.


"Baik Tuan Muda"


Vyan berbalik dan mendekat kearah pria yang sangat ia kenal.


"Kemana aku harus pergi" Ucap Vyan.


"Ikut denganku" Ucap pria itu. Baru beberapa langkah pria itu kembali berbalik ke hadapan Vyan.


"Jangan pernah berfikir untuk menusukku dari belakang, karena jika aku mati maka ibumu juga akan mati" Ancamnya.


"Ck" Decak Vyan. "Aku tidak punya banyak waktu" Sambungnya dengan ketus.


Pria itu kembali berjalan dan diikuti oleh Vyan. Dia masuk kedalam sebuah mobil berwarna hitam pekat. Vyan mengikutinya, memasuki mobil yang sama dengannya. Dia membawa 1 sopir dan 1 bawahannya.


Cukup lama di dalam mobil, akhirnya mobil yang ditumpanginya berhenti di sebuah rumah yang Vyan sangat kenali. Vyan digiring memasuki sebuah kamar bertirai hitam. Saat pintu terbuka, terlihat Ibu kandung Vyan yang sedang tertidur di lantai dengan tangan dan kakinya yang terikat, juga ada kakak perempuannya yang tidak sadarkan diri.


"Mama" Gumam Vyan dengan wajahnya yang sudah benar-benar memerah. Ia tidak mempedulikan kakak perempuannya, ia hanya mempedulikan Ibu kandungnya.


Vyan berjalan ke arah Ibunya dan berjongkok di hadapannya.


"Mama" Lirih Vyan.


Wanita di hadapannya langsung mendongak menatap seseorang yang memanggilnya dengan sebutan Mama. Matanya berkaca-kaca saat melihat anak yang selama ini ia rindukan ada di hadapannya.


"Rangga" Lirih wanita di hadapannya dengan air mata yang mengalir dengan deras.


Melihat wajah Mama nya yang bengkak dan penuh dengan luka membuat Vyan benar-benar murka. Ia menatap tajam pria yang mengantarnya tadi.


"Apa yang kau lakukan pada Ibuku!!!!!" Teriak Vyan.


"Hahaha.. Itu hanya hukuman kecil untuknya karena dia...." Pria itu menggantungkan kalimatnya. Ia mendekati Vyan dan mengangkat dagu Vyan menggunakan pistolnya.


"Karena dia tidak bisa di ajak bekerja sama. Dia keras kepala, seharusnya dia mengikuti perintahku untuk menandatangani surat warisan untukku" Ucapnya.


Vyan menepis pistol di hadapannya.


"Ck. Apa kau begitu miskin hingga ingin mendapatkan harta dari keluarga ini?" Sindir Vyan.


"Ayolah Rangga. Jika di hitung bahkan hartaku lebih banyak dari yang kau punya, hanya saja... aku tidak akan pernah merasa cukup dengan semua ini, dan juga ini adalah keluargaku. Opss sorry, maksudku mantan keluarga" Pria itu menyeringai licik.


"Dan apa kamu tau. Karena lelaki penyakitan dan wanita tidak berguna ini, Mamih ku membuangku dengan mudahnya" Ucapnya.


"Tidak salah jika Ibumu membuangmu, karena sikapmu lebih rendah dari..."


PLAKK!


Pria itu menampar Vyan dengan sangat keras.


"Cukuppp Antonnn!!!!! Dia keponakanmu!!!" Teriak Mama Vyan. Ya, yang dihadapannya adalah Anton, adik kandung Papa Vyan yang sudah diusir oleh orangtuanya beberapa tahun silam karena kemarukannya yang ingin merebut semua harta yang orangtuanya miliki.


"Sudahlah aku lelah jika terus mengulur waktu. Sebaiknya kau tanda tangani berkas ini" Anton melepar berkas ke hadapan Vyan. Vyan meraih berkas tersebut dan membacanya. Ia tersenyum jijik saat mengetahui Anton menginginkan semua harta keluarganya yang jatuh ke tangan Vyan, karena memang hanya Vyan yang menjadi ahli waris satu-satunya di keluarga itu.


"Berikan aku pena" Ucap Vyan.


"Rangga sayang, jangan nak. Papa sedang sakit, kita harus membawanya berobat ke rumah sakit, jika kamu memberikan semua harta itu bagaimana caranya kita mengobati Papa" Ucap Mama Vyan dengan nada yang memohon.


"Dia sakit?" Tanya Vyan yang membuat Mamanya sedikit kecewa karena Vyan tidak menyebutnya sebagai Papa lagi.


Mama Vyan mengangguk. "Sudah sejak lama" Lirihnya.


"Apa kau menjamin keselamatan kami semua jika aku memberikan semua harta ini?" Ucap Vyan pada Anton.


"Tenang saja, aku tidak membutuhkan keluarga yang tidak berguna seperti kalian" Ucap Anton dengan santainya.


"Bukankah setidaknya harus ada satu pengacara sebagai saksi?" Ucap Vyan.


Darimana dia mengerti tentang hal semacam ini?, Batin Anton.


"Aku sudah dewasa, aku mengerti tentang hal semacam ini. Kau pasti tau bukan aku di besarkan oleh keluarga mana?" Vyan tersenyum menyeringai.


"Jika tidak ada pengacara sebagai saksi, semua akan percuma" Sambung Vyan.


Anton keluar dari ruangannya meninggalkan Vyan beserta Mama dan kakaknya. Vyan membuka tali yang mengikat tangan dan kaki Mamanya.


"Rangga, jangan berikan semua ini" Ucap Mama Vyan.


"Tidak apa-apa, Mama tenang saja. Vyan akan menyelesaikan urusan ini" Ucap Vyan.


"Vyan?" Mama Vyan mengerutkan dahinya.


"Ya, sekarang namaku bukan lagi Rangga, tapi Vyan. Rangga adalah seseorang yang benar-benar lemah dan pengecut, dia tidak bisa berbuat apa-apa saat ada yang menyiksanya. Tapi sekarang namaku adalah Vyan Andrena, seseorang yang sangat kuat" Ucap Vyan.


"Rangga, maafkan Mama" Lirih Mama Vyan yang di acuhkan Vyan.


Vyan mendekati kakaknya dan menatap wajahnya.


Ck. R**asanya sangat menjijikan jika mengingat perlakuannya dulu pada Rangga, batin Vyan.


Vyan membuka ikatan pada tangan dan kaki Kakaknya. Ia menepuk pipi kakaknya dengan lumayan keras membuat kakaknya perlahan membuka matanya. Saat matanya sudah terbuka dengan sempurna, matanya membulat dengan sangat lebar saat melihat satu orang yang sudah tidak ia lihat beberapa tahun ini.


"Rangga" Lirihnya.


Vyan menatapnya dan tersenyum paksa.


"Maaf kamu salah orang, aku bukan Rangga" Vyan berdiri dan merogoh ponselnya di dalam saku celana. Dia mengetikkan sesuatu dan memasukkannya kembali ke tempat asalnya.


"Setelah ini hidup kalian akan lebih baik" Ucap Vyan.


"Rangga, kamu tidak menandatangani itu kan?" Ucap Kakak Vyan seraya menujuk berkas yang tergelatak di lantai.


"Belum" Jawaban Vyan membuat Kakaknya menghela nafas lega.


"Tapi akan aku tanda tangani" Ucap Vyan yang membuat Kakaknya membelalakkan matanya. Dia berlari dan meraih berkasnya dan merobeknya dengan cepat, dan saat itu Anton melihatnya yang membuat wajahnya memerah.


"HEYYYY KAMU GILA??!!!" Teriak Anton.


***


Di kediaman Bagas semua di kejutkan dengan kedatangan para pengawal yang membawa Amel yang tidak sadarkan diri.


Raka langsung berlari menghampiri pengawal dan membawa Amel ke dalam pelukkannya.


"Ada apa?" Tanya Raka.


"Emm maaf Tuan besar, sebaiknya periksa kesehatan Nona Muda terlebih dahulu, nanti kami akan menceritakan kejadiannya" Ucap salah satu pengawal.


Raka membawa Amel ke dalam kamar dan Bagas menelfon dokter yang tak lama pulang setelah memeriksa Zahra. Aydan dan Neli sedang ada di dalam kamarnya jadi mereka tidak mengetahui kejadian ini.


Raka membaringkan Amel di atas kasur, ia melihat pergelangan kaki dan tangan Amel yang memerah. Bisa di tafsirkan, bahwa Amel di ikat di bagian itu. Raka memijit pelipisnya yang terasa sakit. Istrinya belum ada tanda-tanda untuk sadar, dan saat ini anaknya pulang dalam kondisi yang mengkhawatirkan.


Tak lama dokter wanita datang dengan tergesa-gesa.


"Maaf Tuan saya sedikit telat" Ucap Dokter seraya membungkukkan badannya.


"Tidak apa-apa. Silahkan" Raka mempersilahkan dokter untuk memeriksa keadaan Amel.


Dokter memeriksa Amel secara hati-hati, ia tidak ingin ada satupun yang terlewat karena Amel merupakan putri kecil keluarga terpengaruh di negara ini.


"Tuan, Nona Muda mungkin hanya syok dengan keadaan yang menimpanya. Tapi..." Dokter menggantung kalimatnya.


"Tapi apa?" Tanya Raka dengan nada dingin.


"Tapi kemungkinan mentalnya akan sedikit terganggu Tuan" Ucap Dokter.


"Jadi maksud anda anak saya akan gi.." Ucapan Raka terpotong saat Dokter menyelanya.


"Tidak Tuan, Nona Muda tidak akan sampai tidak waras. Kemungkinan kecil Nona akan memiliki sedikit trauma" Ucap Dokter yang membuat Raka sedikit lega namun masih gelisah.


"Baiklah anda boleh pergi" Ucap Raka.


"Ini Tuan saya membawa obat untuk menyembuhkan lebam di tangan dan kakinya" Dokter memberikan 2bungkus salep pada Raka.


****


Abang Vyan


Castnya ku ganti ya..