
Aji yang melihat pintu ruangan Bagas masih tertutup pun segera masuk ke dalamnya. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, dia melihat Bagas sedang fokus membaca dokumen dengan kacamata yang tak lupa dia kenakan.
" Assalamualaikum ya ahli kuburrr " ucap Aji.
" Waalaikumsallam calon penghuni kubur "
Aji tersenyum dan mendekati Bagas. Dia duduk di sofa dan menatap Bagas dengan senyumnya.
Bagas mengernyitkan dahinya saat melihat kelakuan Aji yang menurutnya tidak normal.
" Gue tau gue emang ganteng. Tapi sorry Ji Gue masih normal, gue gabakal terpesona sama senyuman lo yang kayak orang gila gitu "
" Gila lo. Gue juga normal kali "
" Lagian ngapain lo ngeliatin gue sambil senyum-senyum gitu "
" Gue ga nyangka aja, temen kecil gue yang dulu sering nangis kalo di tinggalin Ayahnya bakal jadi semandiri ini, bahkan lo udah punya perusahaan sendiri. Gue salut sama lo Gas "
" Ya emang! Lo harus contohin gue! "
" Lo kalo di puji itu bilang makasih kek "
" Males banget "
" Temen laknat "
" Ini masih jam kerja, gue masih jadi atasan lo! "
" Jam kerja pala lo peyang! Liat udah jam berapa bambang! "
Bagas melirik jam dinding dan sedikit terkejut karena dia melihat jam itu sudah menunjukkan pukul 11.50 yang artinya sudah 20menit yang lalu jam istirahatnya datang.
" Nah nah kaget kan lo!. Dah lah gue mau makan di Mall depan, lo mau ikut apa mau nitip makanan ke gue? "
" Gue ikut. Bawa berkas yang dibutuhin buat pertemuan hari ini. Pulang dari Mall kita langsung ke hotel x "
" Wokee bosqyuuu "
Bagas dan Aji segera meninggalkan kantor dan melajukan mobilnya ke Mall. Seperti biasa, Aji akan menjadi supir jika jalan berdua dengan Bagas.
20menit menempuh perjalanan, mereka sampai di Mall dan langsung memasuki restoran. Bagas memesan makanan sehat dengan porsi yang tidak banyak. Berbanding terbalik dengan Aji, justru dia memesan makanan yang menurut Bagas kurang sehat dengan porsi yang cukup banyak.
" Selera makan lo masih dijaga Gas? Ga capek lo? Dari kecil sampe sekarang gaada rubahnya sama sekali "
" Sehat itu mahal. Gue mau tetep sehat, setidaknya bisa nemenin anak istri gue lebih lama dengan keadaan yang ga sakit-sakitan "
" Ga sedikit orang yang sehat cepet matinya. Umur itu udah ditulis di takdir kita "
" Itu prinsip orang yang ga nganggep bahwa kesehatan tubuhnya itu penting!. Gue juga punya Tuhan, gue tau hidup dan mati seseorang udah ditulis di catatan-Nya. Tapi setidaknya di kemudian hari gue gabakal nyesel karena sering sakit-sakittan di sisa hidup gue nanti "
" Yayaya beda ngomong sama orang cerdas mah "
" Emang cerdas "
Tak lama pelayan datang membawakan makanan yang di pesan oleh Bagas dan Aji. Mereka melahap makanannya dengan tenang dan tanpa suara sedikitpun.
Setelah menyelesaikan makannya, Bagas dan Aji pergi ke masjid untuk menunaikan sholat dzuhur. Hanya beberapa orang saja yang ada di masjid itu karena waktu sholat sudah berlalu beberapa menit yang lalu.
" Sayang? " Bagas sedikit terkejut saat melihat Aurel ada di depan masjid sedang berbincang bersama Cesa dan seorang lelaki. Dan yang lebih mengejutkan adalah penampian Aurel saat ini. Dia memakai baju gamis berwarna nude dengan hijab yang senada dengan bajunya.
" Hubby " Aurel juga sama terkejutnya ketika melihat Bagas di tempat itu.
" Tuan Bagas? " Ucap lelaki yang bersama Aurel tadi.
Bagas mengernyitkan dahinya ketika pria di depannya memanggil namanya.
" Dia Tuan Hico, client kita hari ini " bisik Aji pada Bagas.
" Tuan Hico? "
" Kalian saling kenal? " Ucap Aurel.
" Kamu mengenalnya sayang? " Bagas merangkul bahu Aurel.
" Dia Hico, teman kuliahku waktu di negara x. Kalian ada proyek kerjasama? "
" Iya, dia client ku hari ini "
" Tuan, perkenalkan saya Hico, teman kuliah Aurel dan rekan bisnis anda saat ini " Hico mengulurkan tangannya.
Bagas membalas jabatan tangan itu " Saya Bagas, suami Aurel dan rekan bisnis anda "
" Kamu udah nikah Rel? " Hico bertanya pada Aurel.
Aurel mengangguk dan tersenyum.
" Iya, 2 hari yang lalu "
" Ohh selamat Rel semoga menjadi keluarga yang bahagia "
" Aamiin "
" Kebetulan kita bertemu disini, bagaimana jika kita membicarakan kerjasama kita di cafe saja Tuan Bagas? "
" Tentu saja, silahkan anda dan asisten saya pergi terlebih dahulu. Saya ada urusan dengan istri saya, 20 menit lagi saya akan menghampiri kalian "
" Baik Tuan, kalau begitu saya permisi "
Di tempat itu hanya tinggal Bagas, Aurel dan Cesa. Bagas terus saja memandangi istrinya dengan senyuman yang tidak pernah terhenti di bibirnya itu.
" Hubby, kamu bikin aku malu ishh " lirih Aurel dengan menundukkan kepalanya.
" Cesa, kau pulang duluan saja. Saya yang akan mengantar istri saya, pulang dengan pengawal yang membawa mobil "
" Baik Tuan "
" Panggil kakak! "
" Emhh.. Baik ka..ka "
" Aku seneng "
" Kenapa? " Aurel mengernyitkan dahinya.
" Aku seneng kamu pake hijab. Terimakasih sayang " Bagas mengecup singkat kening Aurel.
" Hubby!! "
" Hahaha iyaiya maaf.. Apa yang bikin kamu memakai hijab sayang? "
" Kalo aku nyeritain semuanya sekarang, kamu bakal batal ketemu Hico nya Hubby. Mending kamu temuin Hico lagi, nanti biar aku ceritanya pas udah di rumah "
" Kamu ikut, habis ketemu Hico aku mau pulang sama kamu "
" Tapi— "
" Tenang aja sayang, aku yang punya kantor "
" Ishh menyebalkan " gerutu Aurel.
***
" Maafkan saya sudah membuat anda menunggu Tuan Hico " Bagas menyapa Hico dan langsung duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Hico.
" Tidak masalah Tuan Bagas. Kalau begitu bisa kita mulai pembicaraannya? "
" Baik "
Bagas dan Hico memulai perbincangan tentang kerjasama nya selama kurang lebih 2 jam. Setelah mencapai kesepakatan bersama, Bagas memutuskan menyudahi perbincangannya.
" Terimakasih Tuan Hico, semoga kerjasama ini bisa menguntungkan untuk kedua belah pihak " Bagas menjabat tangan Hico.
" Aamiin, semoga saja Tuan. Kalau begitu saya permisi Tuan ".
Hico menghadap Aurel yang sedang memainkan ponselnya dan langsung tersenyum.
" Aku duluan Rel "
Aurel menyimpan ponselnya dan langsung berdiri.
" Ah iya Co, hati-hati ya "
Hico hanya mengangguk dan langsung meninggalkan semua orang yang berada di tempat itu.
" Lo mau ke kantor apa langsung balik? " Ucap Aji.
" Langsung balik, lo urus kantor. Bawa mobilnya "
" Yeeee. Yaudah gue duluan "
Setelah Aji pergi, Bagas mengajak Aurel ke sebuah butik muslimah yang berada tak jauh dari Mall itu. Sebelum memasuki butik, Aurel menghentikan langkahnya dan menarik tangan Bagas.
" Kenapa? " Bagas yang ikut berhenti pun mengernyitkan dahinya.
" Kita mau beli baju? "
Bagas hanya mengangguk, mengiyakan ucapan istrinya.
" Hubby, tapi tadi aku udah beli baju muslim lumayan banyak. Sekarang belanjaannya udah ada di mobil "
" Kamu beli baju? "
" Iya "
Bagas membuka ponselnya dan mengecek sesuatu di dalamnya. Dia mengerutkan dahinya dan menatap Aurel.
" Gaada penarikkan di kartu yang aku kasih ke kamu "
" Aku pake uang aku Hubby "
" Kenapa? "
" Gapapa, kan ini baju aku "
" Kamu siapa aku? "
" Istri "
" Kamu tanggung jawab siapa? "
" Kamu "
" Kamu pikir aku kerja buat siapa? "
" Emhh? "
" Aku kerja keras dari dulu sampe sekarang buat istri dan anak aku. Buat memenuhi segala kebutuhan kalian. Kamu sadar ga kalo saat ini kamu ga ngehargai aku sebagai suami kamu! Aku tau kamu jauh lebih kaya dariku, aku tau jumlah nol di rekeningmu lebih banyak dari yang aku punya. Tapi setidaknya kamu liat aku, liat perjuangan aku buat bahagiain kamu! " Bagas sedikit meninggikan suaranya sampai membuat Aurel tertunduk.
" Bukan gitu Hubby aku cuma gaenak sama kamu "
" Aku suamimu! Udah tugas aku nafkahin kamu. Aku udah ngambil hak aku sebagai suami atas tubuh kamu! Kamu juga harus menagih hak suami dari aku! "
Aurel semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam dan mulai menitikan air matanya.
" Maaf " lirihnya.
Bagas menyesal saat menyadari bahwa dirinya telah sedikit membentak Aurel. Dia mengusap wajahnya dengan kasar dan langsung manarik Aurel ke dalan pelukkannya
" Maafin aku. Aku kebawa emosi tadi " lirihnya.
Aurel mengangguk cepat di pelukkan Bagas.
" Aku juga salah. Maafin aku karena aku udah nyinggung perasaan kamu Hubby. Aku minta maaf "
" Hemm, mending kita pulang sayang. Ga enak pelukkan disini, mending dirumah aja " Bagas mencoba menenangkan Aurel dengan candaannya dan dibalas dengan cubitan kecil di perutnya oleh Aurel.