Twins'

Twins'
5.



Saat Aydan selesai dengan urusannya dia melihat Aurel yang sedang menangis sambil memeluk kepala anak yang sedang terbaring.


" Kamu kenapa dek? " ucap Aydan.


" Kak lihat itu " Aurel menunjuk ke arah kaki anak itu


" Sebenarnya apa yang terjadi padanya, lihat kakinya sampai banyak luka seperti itu hikss... " sambungnya.


Aydan pun kaget karena baru menyadari bahwa kaki anak itu terdapat banyak luka.


" Sabarlah dek, kakak sudah menyuruh orang kakak untuk mencari informasi anak ini " ucap Aydan. Tak lama kemudian anak itu membuka matanya.


" A..ai..ir " lirih anak itu dengan terbata-bata. Aurel menoleh ke sumber suara dan langsung memberikannya air putih yang ada di atas nakas.


" Dek apa kau baik-baik saja? " tanya Aurel.


" No.. Im sick hikss... " jawabnya sambil kembali menangis.


" Apa yang sakit? biar kakak panggil dokter sayang " ucap Aurel.


" Tidak usah kak, yang sakit bukan fisik tapi mentalku " ucapnya dengan suara sangat pelan dan menundukkan kepalanya.


Aurel memeluknya lagi karena dia memahami bagaimana perasaan adik kecil itu " Tenanglah dek, ada kakak disini. Sekarang beri tahu kakak siapa namamu? "


Anak itu mendongakkan kepalanya menatap Aurel


" Nama? " ucapnya.


" Ya. Namamu? " jawab Aurel.


Anak itu menitikan air matanya namun dia masih tersenyum


" Aku tidak memiliki nama " ucapnya.


Aurel mengernyitkan kening karena bingung, bagaimana bisa seseorang tidak memiliki nama " Semua orang pasti memiliki nama sayang, mengapa kau tidak? "


" Karena papa melarangku memakai nama yang diberikan kakek ku " lirihnya.


" Bagaimana bisa seperti itu?. Bisa kau ceritakan semuanya pada kakak? " ucap Aurel.


" Nama yang kakek berikan padaku adalah Rangga namun aku juga merasa sudah tidak pantas memakai nama itu "


Flashback...


1tahun yang lalu..


Hari ini adalah hari ulang tahun Rangga, berbeda dari tahun-tahun berikutnya. Tahun ini Rangga meminta orangtuanya agar merayakan ulangtahun di rumah kakeknya. Dengan sedikit berpikir akhirnya mereka menuruti keinginan Rangga.


Saat pukul 7 malam pesta ulangtahunnya dimulai. Semua baik-baik saja di awal sampai pada saat acara pemotongan kue nya. Namun pada saat para tamu akan menyantap makanan yang tersedia disana tiba-tiba saja ada sebuah penyerangan . Semua keluarga selamat hanya satu yang tidak, yaitu kakeknya. Dan ternyata memang kakeknya lah yang menjadi target para penyerang itu.


Setelah kakek meninggal, Rangga yang disalahkan oleh keluarganya. Semua keluarga besar menyalahkannya begitupun orangtua dan kakak perempuannya . Mereka berkata bahwa Rangga adalah anak pembawa sial, dia yang membuat salah satu orangtua keluarga itu meninggal dengan cara yang tragis.


Semenjak hari itu, Rangga sering diperlakukan secara kasar. Dia selalu disuruh bekerja agar dia bisa makan nasi padahal itu dirumahnya sendiri.


" Cepat kerjakan yang benar !!! " sentak papa Rangga yang saat itu menyuruh Rangga untuk membersihkan semua mobil yang ada dirumah itu.


" Rangga capek pa.. Rangga mau istirahat sebentar saja, Rangga sungguh ingin meminum air dingin " pinta Rangga


" Tidak!! Kau tidak boleh memakan atau meminum apapun jika kau belum selesai mengerjakan semuanya!!! " ucap papa Rangga seraya meninggalkan Rangga sendirian ditempat itu.


Sungguh saat ini dia sangat kehausan dan kelaparan, belum ada sedikitpun makanan yang masuk keperutnya sejak tadi pagi. Dia terus membersihkan mobilnya dengan air mata yang sudah mengalir dengan deras. Saat terasa capek dia akhirnya duduk di lantai dan menatap ke luar jalan. Satu ide muncul dikepalanya, yaitu pergi dari rumah ini. Rangga meyakinkan dirinya untuk pergi dari rumah itu karena dia sangat diperlakukan layaknya binatang, bahkan lebih rendah. Dengan sekuat tenaga dia akhirnya keluar dari rumah mewah itu karena pengawal sedang istirahat sejenak di dalam pos.


Sudah terlalu lama dia berlari, kakinya sampai terluka karena tidak memakai alas kaki. Akhirnya dia menemukan sebuah taman bermain yang masih banyak pemgunjung. Saat dia merasa langkahnya mulai gontai, dia memegang tangan perempuan yang ternyata itu adalah tangan Aurel.


Flasbhack of..


Aydan dan Aurel sangat kesal saat mendengar cerita dari Rangga, bagaimana bisa anak kandung yang bahkan masih di usia dini harus di perlakukan sangat kasar bahkan dia harus bekerja di rumahnya sendiri. Aurel bertekad ingin mengurusnya karena Aurel ingin suatu hari nanti Rangga menjadi seseorang yang kuat.


" Kau tinggallah bersama kakak mulai sekarang " ucap Aurel.


Rangga menatap Aurel lalu kemudian tersenyum.


" Tentu saja, kau sangat pantas bersama dengan kita " jawab Aurel " Bagaimana kak Ay? " ucap Aurel pada Aydan.


" Tentu saja, selagi itu bisa membuatmu nyaman kakak setuju padamu dek " jawab Aydan.


Akhirnya Rangga mengikuti perintah Aurel untuk tinggal bersamanya. Saat sampai di apartement Rangga satu kamar dengan Aurel karena Aurel yang meminta agar Rangga tidak tidur sendiri. Saat Rangga sudah membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya dia menghampiri Aurel yang berada di balkon dengan secangkir latte.


" Kak? " ucap Rangga.


" Ya?. Ada apa sayang? " jawab Aurel lalu menyuruh Rangga agar duduk di sisinya.


" Kak apa aku boleh memanggil kakak dengan sebutan Bunda?" ucap Rangga dengan sangat pelan.


Aurel tersenyum dan mengelus puncak kepala Rangga, dia tidak menyangka jika di umurnya sekarang dia sudah disebut bunda


" Apapun itu kakak pasti mengizinkannya asal kau harus janji pada kakak untuk menjadi seseorang yang baik dan jujur pada kakak, karena kakak sangat tidak menyukai kebohongan "


Rangga menatap Aurel dengan wajah bahagianya dan buliran bening jatuh di pipinya " Terimakasih Bu..unda " ucapnya di sela tangisannya.


Aurel mengetahui alasan dari tangisan Rangga, itu karena selama 1tahun ke belakang Rangga sama sekali tidak merasakan kasih sayang seorang Ibu. " Mulai sekarang jangan terlalu sungkan pada Bunda, apapun yang kau inginkan pasti akan Bunda berikan selagi itu masih dalam batas wajar "


Rangga mengangguk patuh pada Aurel, entah mengapa walaupun baru bertemu dengan Aurel tetapi dia merasakan kenyamanan saat berada didekat Aurel.


" Sudah malam, tidurlah " ucap Aurel.


" Baik bunda, good night " jawab Rangga. Saat Rangga melangkahkan kakinya namun terhenti saat tangannya di cekal oleh Aurel " Ada apa bunda? " sambung Rangga.


Aurel menunjukkan pipinya pada Rangga seolah meminta Rangga untuk menciumnya " Seorang anak harus mencium bundanya saat malam sebelum menutup mata dan pagi setelah membuka mata " ucapnya sambil tersenyum.


" Apa harus begitu bunda? " tanyanya.


" Tentu saja, apa kau tidak pernah melakukannya sebelumnya?" ucap Aurel.


Rangga menggeleng " Aku tidak pernah tidur dengan orangtuaku, mereka selalu menemani kakakku setiap malam " jawabnya.


" Baiklah lupakan itu semua, sekarang kau harus melakukan hal seperti ini setiap harinya " ucap Aurel.


" Baik bunda " Rangga mendekati Aurel dan langsung mencium kedua pipinya dan dibalas dengan kecupan di kening Rangga dengan sangat lembut.


" Good night sayang " ucap Aurel.


" Good night too bunda sayang " Rangga langsung membaringkan tubuhnya di kasur yang bernuansa biru dan tak lama dia memejamkan matanya.


Saat melihat Rangga yang sudah memejamkan mata Aurel mendekatinya dan memandang wajah damai anak itu. " Kamu itu anak yang pintar sayang, di usiamu yang bahkan masih kecil kau sudah berjuang. Tetaplah di samping bunda, selamanya " ucap Aurel sambil mengelus lembut wajah Rangga dan membuat Rangga tersenyum dalam tidurnya.


Saat akan memejamkan mata Aurel mendengar suara pintu terbuka, ya siapa lagi jika bukan Aydan sang kakak karena hanya dia yang mempunyai kunci kamar Aurel.


" Apa kamu sudah tidur dek? " ucap Aydan.


Aurel langsung duduk dengan posisi yang masih di atas kasur


" Adek baru mau nutup mata, eh taunya ada pangeran tampan yang dateng " canda Aurel " Ada apa kak? "


" Bisakah kita bicara di kamar kakak? " ucap Aydan.


" Baiklah " Aurel berjalan ke kamar Aydan bahkan meninggalkan Aydan di belakangnya.


" Apa yang mau kakak bicarakan? " tanya Aurel.


" Kakak udah dapet informasi Rangga " jawab Aydan.


" Seriously? " ucap Aurel dengan antusiasnya.


" Ya, dia adalah Rangga Putra Permana, anak bungsu dari Tuan Permana. Dia sama kayak kita berasal dari Indonesia, dia disini karena keluarganya harus mengurus bisnis kakeknya yang sudah meninggal " ucap Aydan sambil memberikan berkas untuk membuat Aurel mengetahui dengan detail informasinya.


Aurel membaca berkas dihadapannya dengan sangat serius


" Keluarga Permana bukan keluarga biasa kak, asetnya cukup besar walaupun masih jauh dengan keluarga kita. Dengan kekayaannya pasti mereka mudah untuk menemukan Rangga, aku gamau Rangga kembali pada keluarga itu kak. Kita harus melakukan sesuatu untuknya " ucapnya dengan nada serius.