
Malam hari seusai pulang dari kantor, Bagas memutuskan untuk menjemput Aurel di mansion Raka.
"Assalamualaikum Mom Dad" Ucap Bagas setelah berada di dalam mansion dan mendapati Raka, Zahra dan Amel sedang menonton siaran tv di ruang tengah.
"Waalaikumsallam,, loh kak gabilang-bilang mau kesini" Ucap Zahra.
"Iya sengaja mampir kesini Mom" Ucap Bagas sambil menyalimi Raka dan Zahra.
"Lia ga ikut kak?" Tanya Raka.
Deggg!!!
"Loh bukannya kemarin malam Lia kesini Dad?" Tanya Bagas.
"Maksud kamu?? Lia ga ada kesini" Ucap Raka.
"Lia pergi dari rumah?" Tanya Zahra yang sudah khawatir.
"Emm iya.. Jadi Lia ga disini Mom??" Tanya Bagas yang sangat khawatir.
"Gaada kak,, gimana ceritanya Lia bisa pergi" Ucap Zahra.
"Nanti Bagas ceritain, sekarang Bagas mesti cari Lia dulu. Assalamualaikum" Bagas langsung berlari keluar mansion dan memasuki mobilnya. Ia segera melajukan mobil menuju rumah Rere.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang, Bagas sampai di depan rumah Rere tapi nihil, Bagas di beritahu oleh orangtua Rere jika Rere tidak ada dirumah. Bagas kembali ke mobilnya dan menelfon Rere. Tak lama panggilan itu terhubung.
"Assalamualaikum Re" Ucap Bagas.
"Waalaikumsallam kak, kenapa?" Tanya Rere.
"Ada Aurel?" Tanya Bagas.
"Lah, kan kakak suaminya, ngapa jadi nanya nya ke aku" Ucap Rere.
"Jadi Aurel ga bareng kamu?" Tanya Bagas.
"Engga kak, terakhir ketemu pas akad Kak Aydan" Ucap Rere.
Bagas langsung memutuskan panggilannya begitu saja. Ia memukul kepalanya yang rasanya akan pecah itu.
"Sayang kamu dimana" Gumam Bagas.
Semalaman ia mencari Aurel ke seluruh penjuru kota itu, bahkan ia sudah mengutus beberapa pengawal untuk mencari Aurel namun nihil hasilnya. Ia tidak memikirkan tentang kesehatannya, ia sama sekali tidak tidur dan masih terus mencari keberadaan Aurel.
Hingga tidak terasa matahari mulai menunjukkan sinarnya, Bagas yang masih gila karena mencari Aurel tidak menyadari jika dia butuh istirahat. Seketika perhatiannya teralihkan pada ponselnya yang sejak tadi berdering. Bagas memarkirkan mobilnya di tepi jalan dan membuka ponselnya. Sudah bisa di pastikan jika Ayahnya lah yang menelfonnya.
"Dimana kamu!" Ucap Erik yang terdengar sangat tegas.
"Kenapa Yah?" Ucap Bagas dengan lemah.
"Pulang sekarang!!" Tegas Erik.
Erik langsung memutuskan telfonnya. Bagas mengusap wajahnya dengan sangat kasar, ia berkali-kali mengucapkan kata maaf.
Setibanya di rumah, Bagas sudah di suguhkan dengan tatapan mematikan dari Erik, Zahra, Oma, Opa dan Aydan. Melihat kedatangan Bagas, Erik segera menghampirinya dan,,
PLAKKKKK!!!!
Ia menampar pipi Bagas dengan keras. Bagas tidak melawan ataupun bereaksi, karena ia tau ini salahnya.
"SIAPAA YANG MENGAJARKANMU BERBUAT KASAR PADA WANITA!!!" Teriak Erik.
Raka menghampiri Erik dan memegang bahunya.
"Lebih baik tenang dulu. Lihatlah Bagas sangat kelelahan biarkan dia istirahat terlebih dahulu" Ucap Raka.
"Istirahatlah kak" Ucap Raka pada Bagas.
Bagas mulai berjalan tapi bukan ke arah kamarnya, melainkan menghampiri Zahra. Ia bersujud di kaki Zahra seraya menangis sesegukan.
"Mommy maafin Tian,, Tian salah, Tian kasar pada Lia" Ucap Bagas yang membuat Zahra ikut menangis.
"Bangun kak" Zahra membantu Bagas untuk bangun.
"Kamu tau kan? Mommy sangat menyayangi anak-anak Mommy. Mommy dan Daddy menjaganya sejak kecil hingga kami memindahkan tanggung jawab untuk menjaganya padamu.. Bukankah dulu kamu berjanji akan menjaganya dengan baik?, Mengapa saat ini kamu membiarkannya pergi sendiri tanpa membawa apa-apa selain anak di dalam kandungannya?" Ucap Zahra dengan deraian air mata.
BUGGG!!!!!
Aydan tiba-tiba menghampiri Bagas dan memukul perutnya dengan sangat keras. Aydan menarik kerah Bagas dan menunjuk wajahnya.
"********!!!! LO JANJI SAMA GUE KALO LO BAKAL JAGA ADIK GUE DENGAN BAIK! LO JANJI SAMA GUE BAHWA LO BAKAL JADI PELINDUNG BUAT ADIK GUE!!! KEMANA JANJI LO BAGAS!!!" Teriak Aydan.
"Mommyyy!!!" Teriak Neli saat Zahra tiba-tiba pingsan.
Dengan cepat Raka dan Aydan menghampiri Zahra.
"Kak cepat panggil Dokter" Ucap Raka sambil menggotong Zahra dan membawanya ke salah satu kamar di rumah itu.
Aydan dengan terburu-buru meraih ponselnya dan menghubungi dokter keluarga.
Bagas beralih menatap Oma dan Opa, dia tau apa konsekuensinya jika ada seseorang yang menganggu cucu-cucu mereka.
"Oma Opa" Lirih Bagas.
Opa yang bersikap cuek tidak mendengarkan panggilan Bagas. Ia memilih untuk pergi dari ruangan itu, entah akan kemana. Sedangkan Oma, dia menatap Bagas dengan tatapan kosong. Seakan tak percaya jika cucu mantu kesayangannya itu berbuat hal di luar dugaannya.
"Bukankah Oma pernah bilang dulu? Jika kamu sudah tidak bisa bersama Lia, maka jangan pernah menyakitinya. Pulangkan Lia pada Oma, Oma akan sangat menerimanya dibandingkan dengan situasi ini" Ucap Oma.
"Oma.."
Semua orang sudah pergi dari sana kecuali Erik sang Ayah. Bagas menjatuhkan tubuhnya di lantai, ia melipat kedua kakinya dan menyembunyikan kepalanya di sana.
"Ibu maaf, Tian tidak bisa menjaga wanita yang Tian cintai" Lirih Bagas yang seketika mengingat almarhum Ibunya.
"Kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana luka yang telah kamu berikan pada istrimu" Ucap Erik yang juga melangkah akan meninggalkan Bagas.
Sebelum benar-benar pergi, Erik menoleh ke arah Bagas.
"Jangan pernah bertemu denganku sebelum kamu membawa menantuku kehadapanku" Ucap Erik yang semakin membuat sesak di dada Bagas bertambah.
"AAAAAAAAAA!!!!" Bagas berteriak seraya mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
***
Sementara di sebuah rumah sederhana, Aurel sedang bercengkerama Bu Sari yang tak lain adalah Ibu dari Bara, seorang malaikat yang menjadi penolongnya.
"Ohhh jadi eneng teh diusir sama suami eneng gitu?" Tanya Bu Sari setelah mendengar semua cerita Aurel.
"Dia tidak mengusir aku Bu. Aku yang ingin pergi darinya" Ucap Aurel.
"Atuh neng kalo ceritanya bener gitu mah bukan eneng yang ninggalin dia, tapi dianya yang sengaja bikin eneng pergi" Ucap Bu Sari.
"Engga Bu, dia suami yang baik buat aku" Ucap Aurel.
"Neng, neng. Kalo emang dia suami yang baik, kenapa atuh dia memperlakukan eneng kayak gitu" Ucap Bu Sari.
"Dia hanya buta tentang kebenaran ini Bu. Suatu saat kalau dia mengetahui semuanya dia pasti akan sangat menyesal" Ucap Aurel.
"Pasti itu mah neng, dia teh pasti nyesel banget udah memperlakukan eneng kayak gitu. Apalagi eneng lagi hamil anaknya" Ucap Bu Sari.
Aurel menatap perutnya dan mengusap-usap.
"Kelak, dia akan menjadi anak yang kuat seperti Bundanya bukan?" Ucap Aurel.
"Pasti dia akan menjadi anak yang kuat" Ucap Bara yang baru saja tiba setelah membelikan Aurel bubur.
"Makan ini, jangan lupa minum obat yang saya berikan tadi" Ucap Bara seraya memberikan kantong kresek berwarna putih.
"Terimakasih" Ucap Aurel.
"Bu Bara pergi dulu ya" Bara mencium punggung tangan Bu Sari.
"Assalamualaikum" Ucap Bara.
"Waalaikumsallam" Jawab Aurel dan Bu Sari.
"Jadi enang mau pulang ke rumah lagi atau tidak?" Tanya Bu Sari.
"Apa Ibu keberatan jika aku tinggal disini sampai suamiku menemui keberadaanku Bu?" Tanya Aurel dengan ragu.
"Engga atuh neng, malah Ibu seneng kalo eneng tinggal bareng Ibu. Itu artinya Ibu ga kesepian kalo Aisyah lagi di luar kota" Ucap Bu Sari.
"Aisyah?" Tanya Aurel.
"Oh itu. Aisyah teh adiknya Bara, anak bungsu Ibu. Dia kerjanya sama kayak Bara jadi dokter, cuma dia suka di tugaskan di luar kota neng" Ucap Bu Sari yang dianggukki Aurel.
"Assalamualaikum Ibuuuu eneng pulang" Ucap seorang wanita cantik dengan balutan pashmina berwarna hitam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hello, maaf telat up.. Tadi hujan, cuacanya sangat mendukung untuk tidur seharian bukan??? Hahaha..
๐
Jangan lupa kritik&sarannya ya reader's ๐
Vote, Like, an comment๐