Twins'

Twins'
48



2bulan berlalu..


Hari ini adalah hari pernikahan Aydan dan Neli. Mereka sudah memakai pakaian pengantin, walaupun tidak ada resepsi tetapi mereka akan melakukan sesi foto bersama.


Setelah semua saksi sudah mengatakan kata 'Sah', Neli segera dibawa turun oleh Aurel dan Rere. Neli duduk di samping Aydan dan langsung mencium tangannya.


"Terimakasih karena telah sudi menjadi pendampingku" Bisik Aydan.


Aydan memakaikan cincin di jari manis Neli, begitupun dengan Neli.


Bagaimana keadaan pernikahanku nanti dengan pria yang bahkan tidak aku cintai, batin Rere.


Setelah beberapa minggu berdebat dengan orangtuanya, Rere menyetujui dengan perjodohannya yang tentunya memiliki beberapa pasal yang ia buat.


Aurel yang mengerti tatapan Rere pun segera memeluknya dari samping.


"Percayalah Re, seiring berjalannya waktu kalian akan saling mencintai" Ucap Aurel.


Rere menatap Aurel dan langsung memeluknya.


"Aku tidak yakin Rel" Lirihnya.


Aurel hanya mengangguk dan menepuk punggung Rere dengan lembut.


***


"Ahhhh melelahkan" Ucap Neli yang sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang pengantinnya.


"Ganti baju dulu yank, baru istirahat" Ucap Aydan yang baru datang ke kamarnya.


Neli menatap Aydan lalu mengangkat kedua tangannya.


"Bantu aku bangun Ay" Ucap Neli dengan nada manjanya.


Aydan mendekati Neli dan membantunya berdiri.


"Sejak kapan kau bersikap manja seperti ini hemm?"


Neli tidak menjawab ucapan Aydan, dia lebih memilih untuk langsung masuk ke dalam kamar mandi.


"Aduhh, lupa bawa handuk. Bagaimana ini?" Gumam Neli setelah menyelesaikan ritual mandinya.


"Ayy!!!!" Neli berteriak di dalam kamar mandi.


Mendengar teriakkan Neli, Aydan langsung berlari ke arahnya.


"Yank ada apa?" Ucap Aydan sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.


Neli menyembulkan kepalanya dan tersenyum melas.


"Aku lupa membawa handuk" Ucapnya.


Aydan menepuk dahinya"Ku kira ada apa yank. Sebentar"


"Nihh yank" Aydan menyodorkan handuk putih yang tergantung di dekat ruang ganti.


"Terimakasih suamiku" Neli segera memakai handuknya dan keluar dari kamar mandi.


Aydan yang hendak duduk kembali di sofa pun mengurungkan niatnya saat melihat Neli yang hanya berbalut dengan handuk diatas lututnya. Aydan mendekati Neli dan langsung memeluknya dari belakang. Menghirup dalam aroma tubuh Neli yang baru saja mandi.


"Ayy ihh merinding aku ini" Neli berusaha melepaskan pelukkan Aydan namun tidak berhasil karena Aydan lebih mengeratkan pelukkannya.


"Bisakah kita melakukannya sekarang?" Tanya Aydan yang sudah mode On.


Neli mengelus tangan Aydan yang ada di perutnya.


"Mandi dulu Ay biar seger kamunya" Ucap Neli.


"Percuma aku mandi sekarang yank, nanti setelah melakukannya kan kita mandi lagi" Ucap Aydan.


"Mandi atau tidak sama sekali!?" Tegas Neli.


Aydan melepaskan pelukkannya dengan wajah yang ditekuk.


"Baiklah" lenguhnya.


Aydan segera memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuhnya secepat mungkin. Saat sudah selesai dan keluar dari kamar mandi dia melihat Neli yang sudah tertidur dengan meringkuk.


Aydan segera memakai bajunya dan menghampiri Neli. Dia merapikan beberapa helai rambut yang menghalangi wajah Neli.


"Good Night sayang" Aydan menarik Neli ke dekapannya dan membenamkan wajah Neli di dadanya.


Neli membuka matanya dan melihat jam dinding menunjukkan pukul 2dini hari.


"Ahhh aku sangat lapar" Neli menatap Aydan, ia tidak tega untuk membangunkan suaminya.


Dengan perlahan dia melepaskan pelukkan Aydan dengan lembut dan perlahan keluar dari kamar menuju dapur di mansion Raka. Dia membuka kulkas dan melihat ada beberapa cemilan disana, ia berjongkok dan memilih beberapa cemilan untuk dimakannya.


"Neli?!'


"Astaga kaget aku Rel" Neli mengusap dadanya berulang kali saat mendengar suara Aurel yang tiba-tiba saja ada di belakangnya.


"Lagian kamu lagi ngapain disini, udah malem. Ga di kurung sama kak Ay emang?" Goda Aurel.


"Apasi kamu, aku laper banget tadi malam ga makan sama sekali. Langsung tidur aja" Ucap Neli yang langsung duduk di meja makan dengan diikuti Aurel.


"Capek abis tempur Nel?"


"Otakmu gesrek deh kayaknya. Mana ada begituan, aku masih di segel ya"


"Serius Nel? Terus gimana kak Ay?"


"Gatau semalem lagi nungguin dia mandi eh malah ketiduran"


"Yaampun kasian keris saktinya itu" Ucap Aurel sambil terkekeh.


Neli menatap heran pada Aurel yang ikut memakan cemilan yang sempat ia bawa tadi.


"Kamu sih ngapain? Gasalah makan jam segini?" Tanya Neli.


"Engga tau Nel, akhir-akhir ini setiap jam segini pasti bawaannya pengen ngemil mulu" Jawab Aurel.


"Hehhh dasar kakak ipar laknat!"


"Lah emosi? Tumbenan kamu emosi Rel?" Neli mengerutkan keningnya karena selama ini Aurel tidak pernah mempermasalahkan jika Neli membincangkan tentang berat badannya.


"Udah ah mau bobok lagi. Jangan lupa tugasnya sebagai istri ya kakak iparku!!!" Aurel langsung meninggalkan Neli di meja makan.


"Dasar!!"


***


"Sayang" Ucap Bagas yang melihat Aurel baru memasuki kamarnya.


"Astaghfirullah Bay kaget aku ish" Gerutu Aurel.


"Kamu lapar lagi?" Tanya Bagas setelah Aurel duduk di samping Bagas.


"Iya biasa"


Bagas memperhatikan badan Aurel yang sedikit berisi, ia berasumsi jika memang karena Aurel sering ngemil di malam hari yang membuat tubuhnya melebar.


"Badan kamu itu udah kayak gentong tau!" Canda Bagas.


Aurel menghentikan makannya dan menatap Bagas dengan tatapan yang sangat tajam.


"Jadi maksud kamu aku gendutan gitu?!" Tanya Aurel.


"Yaiya, orang kamu ngemil malem mulu gimana ga gendut coba"


Aurel mengambil bantal dan melemparnya dengan keras kearah Bagas.


"Nyebelin!!!!" Dia langsung merajuk dan menyembunyikan wajahnya di bawah selimut.


"Sayang aku cuma becanda" Bagas memeluk Aurel dari balik selimut.


"Kamu emang sedikit berisi. Tapi aku masih cinta kok sama kamu Sayang" Sambungnya.


"Awas aku gerah!" Aurel mendorong tubuh suaminya dari bawah selimut dengan tenaga yang kuat hingga membuat Bagas tertidur di sampingnya.


"Buseng kuat banget dah" Gumam Bagas.


"Sayang jangan marah lagi ya pliss.. Kamu mau apa biar aku beliin nanti?" Bujuk Bagas.


Aurel membuka selimutnya dan menatap Bagas.


"Kenapa nanti? Kamu ga niat mau ngasih apa yang aku mau!?. Kalo ga niat kenapa kamu nawarin!!!" Ucap Aurel.


"Bukan gitu sayang, nanti yang aku maksud itu nanti pagi"


"Ini juga udah pagi!!"


"Terlalu pagi sayangku"


"Yaudah mending kamu gausah segala nawar-nawarin aku mau apa-apanya kalo kamu ga niat gini. Aku bisa beli yang aku mau sendiri!!"


"Yaudah bilang sama suamimu ini, kamu mau apa hemm?"


"Ga!!"


"Hahhh yaudah mending kamu tidur lagi aja daripada marah-marah gajelas gini"


"Jadi maksud kamu daritadi aku marah-marah tanpa alasan!?. Kamu ga peka banget sih jadi suami itu!!"


Bagas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Akhir-akhir ini emosi istrinya itu tidak bisa dikendalikan.


"Sayang kamu ini sebenernya kenapa sih?"


"Apa maksud kamu!?. Kamu kira aku gila!?"


"Yaallah sayang aku ga bilang gitu loh. Itu yang bilang kamu sendiri"


"Jadi kamu membenarkan kata-kata aku!?!?. Maksud kamu aku emang gila!?"


"Sayang kayaknya kamu perlu di periksa"


Mendengar ucapan Bagas, mata Aurel langsung berkaca-kaca.


"Huaaaaaaaaaaaa!!!!" Aurel menangis lalu langsung berlari keluar kamar.


Bagas langsung mengejar Aurel. Ternyata Aurel langsung memasuki kamar Vyan. Berhubung pintunya tidak dikuci, Bagas menyusul Aurel ke kamar Aurel.


Vyan yang sedang tertidur pun membuka matanya saat mendengar suara orang berlari. Ia mengerutkan keningnya saat melihat Bundanya merebahkan tubuhnya di samping Vyan dengan mata yang bengkak. Tak lama terlihat Bagas masuk kedalam kamarnya dengan wajah yang memelas.


"Ada apa ini Yah?" Tanya Vyan.


Bagas mengangkat kedua bahunya dan menghampiri Aurel.


"Ayah gatau Vyan, ini Bundamu tiba-tiba saja merajuk"


"Tiba-tiba kamu bilang!! Ini semua gara-gara kamu yang ngatain aku gila!!" Ucap Aurel dengan wajah marahnya. Ia berlari ke kamar Vyan karena ia tau bahwa anaknya itu akan membela dirinya.


"Ayah!!" Ucap Vyan dengan mata yang membulat sempurna.


"Gaada, Ayah ga bilang itu kok sumpah" Bagas menunjukkan jari membentuk huruf 'V'.


"Pergi sana Bay! Aku mau tidur sama Vyan!!" Usir Aurel.


"Sayang gimana bisa ak_"


"Ayah tidurlah, biar malam ini Bunda tidur dengan Vyan" Celah Vyan.


"Tapi,,,"


"Semalam saja Yah"


"Hahh baiklah" Bagas mendaratkan kecupan di kening Aurel sebelum berangkat ke kamarnya lagi.


"Selamat tidur lagi sayang. Mimpi indah" bisiknya.