
"Sudah ku peringatkan jangan pernah merendahkan dan menyakiti putraku!" Ucap Bagas.
"Kau bahkan sudah menyakiti putri dari orang yang bisa saja menghancurkanmu dalam waktu satu detik!" Sambung Bagas.
Tak lama suara tembakkan dari luar sudah tidak terdengar, mungkin keadaan sudah membaik. Pintu di ketuk dengan cukup keras.
"Tuan apa anda baik-baik saja?" Tanya seseorang di luar sana. Bagas dan Vyan bisa mengetahui jika itu adalah pengawal keluargnya.
"Kehidupanmu yang sesungguhnya akan di mulai sekarang" Bagas membuka pintu kamar.
"Bawa dia ke markas, jangan biarkan dia menikmati hidup tenang di dalam penjara" Ucap Bagas.
Para pengawal membawa Anton. Bagas membuka ikatan pada tangan dan kaki Vyan.
"Kamu tidak apa-apa Bang?" Tanya Bagas.
"Tidak Ayah, aku tidak apa-apa" Ucap Vyan.
"Yah kenalkan mereka.." Ucapan Vyan terpotong.
"Ayah tau, kita harus pergi dulu dari sini" Ucap Bagas.
Vyan membukakan ikatan pada Mamanya dan Bagas membukakan ikatan pada kakak perempuan Vyan.
Setelah keluar dari tempat penyekapan, mereka memutuskan untuk menjenguk Papa Vyan yang sedang sakit. Tak berselang lama mereka tiba di sebuah rumah sakit besar.
Saat memasuki rumah sakit ada beberapa perawat yang berlari menghampiri Mama Vyan.
"Maaf Bu Caline, kondisi Bapak Permana saat sangat kritis. Kita harus melakukan operasinya sekarang" Ucap perawat yang membuat Caline ( Mama Vyan) dan Virly ( Kakak Vyan ) khawatir, tapi tidak dengan Vyan. Ia bersikap biasa saja, di dalam hatinya tidak ada rasa kasihan sama sekali saat mendengar penuturan perawat.
Caline berlari ke kamar tempat Permana dirawat. Ia masuk ke dalam kamarnya, dan diikuti oleh Vyan, Bagas dan Virly.
Caline hanya bisa menangis seraya memandangi Permana. Ia tidak tahu harus berbuat apa, dia tidak memiliki biaya untuk melakukan operasi.
Vyan mendekati dokter yang telah selesai memeriksa Permana.
"Permisi dokter bisakah kita bicara di luar?" Tanya Vyan bak seorang laki-laki dewasa.
Dokter mengangguk dan mengikuti Vyan untuk keluar dari kamar itu.
"Dokter berapa biaya yang di perlukan untuk melakukan operasinya?" Tanya Vyan.
"Kondisi jantungnya saat ini benar-benar buruk. Beliau memiliki penyakit serangan jantung sejak lama dan belum sama sekali di pasang ring jantung. Maka dari itu, saat ini kita harus segera memasangnya. Karena terlalu buruk, kita perlu memasang sekitar 2 ring. Dan untuk 1 ring seharga 80 juta" Ucap Dokter.
"Dimana saya harus menyelesaikan pembayarannya?" Tanya Vyan yang membuat dokter menatap Vyan dengan tatapan yang tidak percaya.
Apa yang dia lakukan? Tidak mungkin anak sekecil itu mempunyai uang 160 juta, Batin Dokter.
"Tenang saja, saya mempunyai uang bahkan lebih dari harga itu. Cepat katakan dimana ruang administrasinya" Ucap Vyan dengan nada dingin.
"Baik ikuti saya" Walau tidak percaya, dokter tetap menunjukkan ruang administrasi pada Vyan.
"Ada yang bisa saya bantu dokter?" Ucap petugas administrasi.
"Berikan rincian biaya pasien atas nama Bapak Permana" Ucap dokter.
"Baik dokter, tunggu sebentar"
Tak lama petugas memberikan selembar kertas dengan tulisan yang begitu banyak di dalamnya. Vyan tidak meraih kertas itu.
"Saya tidak membutuhkannya" Vyan merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet yang tidak tebal karena hanya berisi beberapa kartu.
"Ini" Dokter melongok saat melihat Vyan mengeluarkan balack card. Karena yang ia ketahui hanya orang-orang yang berjabatan tinggi lah yang mempunyai kartu itu.
Dokter dan petugas administrasi saling menatap seolah tak percaya. Dokter menganggukkan kepalanya pada petugas di depannya seolah menginsyaratkan untuk mengonfirmasi pembayaran.
Setelah menyelesaikan pembayarannya Vyan kembali lagi ke kamar rawat Permana.
"Aku sudah menyelesaikan pembayaran untuk operasinya, aku akan pergi sekarang. Aku akan kembali lagi nanti malam" Ucap Vyan.
Caline dan Virly benar-benar dibuat tidak percaya oleh Vyan.
***
"Kenapa tidak meminta Ayah untuk membayarnya Bang?" Tanya Bagas setelah masuk ke dalam mobil bersama Vyan.
"Ini urusanku Yah, lagi pula itu uang dari Grandpa. Aku bingung harus memakainya untuk apa" Ucap Vyan dengan tenang.
"Bagaimana keadaan Amel yah?" Tanya Vyan.
"Ayah tidak menemani saat Amel di periksa, karena Ayah sibuk mendengarkan cerita tentang penculikkan Amel dari para pengawal" Ucap Bagas seraya memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di jok mobil.
"Maafkan aku Yah" Ucap Vyan.
Bagas membuka matanya dan menoleh kearah Vyan.
"Untuk?" Tanya Bagas.
"Kamu tidak salah apa-apa Bang, ini di luar dugaan bukan?" Ucap Bagas.
"Apa Grandpa dan Opa akan marah padaku?" Ucap Vyan.
"Tidak akan. Grandpa dan Opa tidak akan kecewa terhadapmu" Ucap Bagas.
"Betulkah?" Ucap Vyan.
"Heemm" Bagas mengangguk.
"Syukurlah" Ucap Bagas.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya Bagas dan Vyan sampai di rumahnya.
"Opa Oma" Vyan juga Bagas menyalimi Opa dan Oma yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
"Kapan kau akan mencari cucuku" Ucap Oma pada Bagas dengan nada dingin.
"Tian sudah mengutus banyak pengawal di beberapa kota terdekat. Besok Tian sendiri yang akan turun untuk mencari Lia Oma" Ucap Bagas.
Vyan berpamitan untuk pergi ke kamar Amel dan Bagas berpamitan untuk pergi ke kamarnya sendiri.
"Grandpa" Ucap Vyan setelah membuka pintu kamar Amel dan melihat Raka sedang duduk seraya mengelus kepala Amel.
"Bang" Ucap Raka.
Vyan menghampiri Raka dan menyaliminya.
"Bagaimana keadaannya Grandpa?" Tanya Vyan yang sudah duduk di samping Amel.
"Hanya syok Bang, tapi dia akan mengalami trauma kecil" Ucap Raka dengan nada sedih.
"Trauma?" Ucap Vyan.
"Grandpa belum tau pasti begitu pun dengan dokter yang memeriksanya. Kita akan mengetahuinya setelah Adek sadar" Ucap Raka.
"Bang, titip adek dulu. Grandpa akan menemani Grandma" Ucap Raka yang dianggukki oleh Vyan.
Setelah kepergian Raka, Vyan menatap wajah Amel dengan lekat.
"Maafin Abang nyil" Lirih Vyan.
Amel perlahan membuka matanya.
"Abang" Lirih Amel.
Vyan tersenyum lalu mengelus pipi Amel dengan sangat lembut.
"Apa sakit?" Tanya Vyan yang dibalas dengan gelengan kepala Amel.
"Air.." Lirih Amel.
Vyan meraih gelas yang ada di atas nakas dan membantu Amel untuk duduk.
"Pelan-pelan Nyil" Ucap Vyan seraya membantu Amel meminum airnya.
"Mommm?" Ucap Amel saat melihat Zahra memasuki kamarnya dengan Raka yang membantunya berjalan.
Vyan bangkit dari duduknya dan mempersilahkan Zahra untuk duduk di kursi.
"Kamu baik-baik aja Dek?" Tanya Zahra.
Amel tersenyum lalu merentangkan tangannya, Zahra dengan senang hati memeluk anak bungsunya itu.
"Mommy udah sembuh?" Tanya Amel setelah melerai pelukkannya.
"Sudah sayang" Ucap Zahra.
"Momm.." Lirih Amel.
"Hemm?"
"Jangan sakit lagi.." Lirih Amel dengan mata yang berkaca-kaca.
Zahra merasakan sesak yang teramat dalam di dadanya. Ia menatap Amel dengan mata yang juga berkaca-kaca.
"Aku ingin hidup selamanya dengan Mommy" Ucap Amel.
Zahra menarik Amel ke pelukkannya, ia mengelus punggung Amel dengan lembut.
Maafkan Mommy sayang, batin Zahra.
_______________
Like an Comment menurun:')