
Hari ini adalah hari bahagia untuk Bagas karena ia sudah berada di kota tempatnya dan istrinya tinggal. Masalah perusahaan sudah selesai dengan cepat di luar rencana Bagas, akhirnya ia memutuskan untuk segera pulang dan menemui wanita yang sudah sangat dirindukannya itu.
Tadi sebelum sampai dirumahnya ia berhenti di toko Kue dan bunga untuk memberikan istrinya kejuttan. Dengan senyum mengembangnya Bagas turun dari mobil dengan membawa buket berukuran sangat besar di tangannya. Namun ia malah melihat kejadian yang tak disangka.
"Aurelll!!!!!!" Teriak Bagas saat Aurel dengan keras menampar pipi Dea hingga membuat Dea jatuh tersungkur.
Bagas berlari ke arah Dea dan membantunya berdiri.
"Ada apa ini!!" Bentak Bagas yang membuat Aurel tersentak.
"Hiksss,,, sakit kak, aku mau pergi dari rumah ini,, kak Aurel jahat sama Dea hikss,,, Bapakkkk Dea kangenn!!!" Ucap Dea dengan isakannya.
"Kenapa Lia!!! Kenapa kamu kasar sama Dea?? Apa salah dia!!" Lagi-lagi Bagas tidak bisa mengontrol dirinya pada Aurel.
"Dia ingin merebutmu dari aku Kak!!!" Ucap Aurel.
"Gaada yang mau rebut aku dari kamu Lia!!" Ucap Bagas.
"Kamu gatau sudah berapa ribu kata dia memuji kamu dihadapanku kak!!! Aku cemburu!!!" Teriak Aurel.
"Cemburu kamu ga beralasan Lia!!!" Bentak Bagas.
Akhirnya loloslah beberapa cairan bening dari kelopak mata Aurel.
"Kamu ga pernah tau rasanya seseorang yang kamu cintai ingin dimiliki orang lain?" Lirih Aurel.
"Aku tau Lia!!! Aku tau. Bahkan aku sudah muak dengan keadaan itu!! Aku muak dengan mantanmu yang selalu menghubungi kamu setiap menitnya!!! Aku muak dengan semua ini Lia!!,, Kamu yang sebenarnya tidak mengetahui rasanya jadi aku!!!" Bentak Bagas.
"Kalo kamu tau seharusnya kamu bisa ngertiin aku!!! Saat Maheer datang kesini bukankah kamu juga menghajarnya habis-habisan?? Jika kamu saja melakukan itu pada Maheer maka aku juga bisa lakukan itu pada Dea!!!" Bentak Aurel.
"Itu beda Liaa!!!! A..."
"Oke iya aku salah disini. Maafin aku kalo aku buat kamu berada di situasi saat ini!! Maafin aku, karena aku bikin kamu muak. Ceraikan aku kalau begitu!!!!" Teriak Aurel dengan lantang.
PLAKKK!!!!
Bagas menampar pipi Aurel dengan keras. Aurel memegang pipinya yang terasa panas lalu menatap Bagas dengan sendu.
"Ini!!! Gara-gara wanita murahan itu kamu sampai berani maen tangan sama aku???" Lirih Aurel menunjuk pipinya.
"Hentikan Lia!!!!!!!!" Teriak Bagas.
"Lebih baik kamu masuk kamar sekarang!!!" Sambungnya.
Aurel menatap Bagas lalu kemudian menatap Dea.
"Lo benar!!! J****g murahan kayak gue ga pantes bersanding dengan dia!!" Ucap Aurel.
Aurel berlari ke luar rumah dengan keadaan yang sangat hancur.
"Tutupp gerbang utama!!!!" Teriak Bagas pada satpam yang langsung dipatuhi oleh beberapa pelayan.
"Kakak hikss,," Dea memeluk tubuh Bagas.
"Dea maafin kak Aurel ya.. Kamu gapapa kan??" Tanya Bagas dengan nada yang super lembut.
"Kakak aku udah gakuatt,, Kak Aurel jahat sama aku kak,, semenjak kakak pergi dia selalu nyiksa aku" Ucap Dea yang membuat rahang Bagas kembali mengeras.
"Lebih baik sekarang kamu kompres dulu pipi kamu. Kakak mau nyamperin istri kakak dulu" Bagas langsung berlari menyusul Aurel.
"Mana Lia mang" Tanya Bagas pada Mang Tanu.
"A..anu den,, i..itu non Lia ada di pos" Ucap Mang Tanu. Bagas berlari dan menghampiri Aurel.
Terlihat Aurel sedang mengetik sebuah pesan di ponselnya. Dengan cepat Bagas menarik ponsel itu dan membacanya. Mommy, ya mommy nya adalah tempat Aurel mengadu.
"Jangan pernah melibatkan orangtua dalam masalah rumah tangga kita!!" Geram Bagas.
Aurel memilih untuk diam, ia memegang perutnya seraya menidurkan dirinya di dalam pos. Dalam posisi yang membelakangi Bagas, Bagas tau jika Aurel sedang menangis, terlihat dari punggung dan bahunya yang berguncang.
"Masuk kamar yuk, gabaik tidur di lantai" Ucap Bagas dengan lembut seraya memegang bahu Aurel namun segera di tepis oleh empunya.
"Ini anakku bukan anak kamu" Lirih Aurel.
"Mommy,, Daddyy,, aku ingin pulang" Lirih Aurel dengan isakkan yang semakin kencang.
Sampai sore hari tiba Aurel masih tetap dalam posisinya. Matanya sudah sangat membengkak begitu juga dengan bibirnya. Air mata seakan tidak pernah habis mengalir di tempatnya itu.
"AAAAAAAAAAAAAAA!!!!" Teriakkan Dea dari dalam rumah membuat Bagas tersentak. Tanpa pikir panjang ia langsung berlari menghampiri Dea. Terlihat Dea yang sudah tergeletak di bawah tangga dengan darah yang mengalir di pelipisnya.
"Astaghfirullah Dea" Bagas membopong tubuh Dea dan berlari keluar rumah.
"Cepat bawa kerumah sakitt!!!" Ucap Bagas pada salah satu supir.
"Baik Tuan"
Bagas menidurkan Dea di kursi belakang, lalu kemudian ia menghampiri Aurel kembali.
"Sayang, sebentar lagi maghrib. Lebih baik kita ke kamar ya, kamu bersihin badan terus kita sholat berjamaah" Ucap Bagas.
Aurel menghapus air matanya lalu bangkit dari tidurnya. Dalam kondisi apapun Aurel tidak ingin meninggalkan kewajibannya. Para pelayan yang melihat pemandangan itu tersenyum senang, karena Nyonya nya sudah mau diajak masuk kedalam rumah. Itu berarti keadaan sudah cukup baik.
Setelah membersihkan tubuhnya, mereka akhirnya melaksanakan sholat maghrib. Masih seperti biasanya, setelah sholat tak lupa Aurel mencium tangan Bagas. Bedanya, dulu setelah sholat Aurel akan mendengarkan Bagas mengaji namun sekarang tidak. Ia memutuskan untuk naik ke ranjang dan menyelimuti tubuhnya yang mengenakan piyama berwarna biru laut.
Bukan tidur, melainkan kembali menangis. Di dalam hatinya ia selalu bertanya, apakah ia salah? Apa ia terlalu kasar pada wanita itu sampai suaminya tega menggunakan tangan yang selama ini dijaganya untuk menghentikan aksi gilanya itu.
Nak, Bunda mohon dalam kondisi apapun kamu harus tetap bertahan ya. Bunda menantikan kehadiranmu sayang, batin Aurel seraya mengusap perutnya. Lalu tak lama kemudian ia memejamkan matanya.
Bagas yang sudah selesai membaca Al-Qur'an nya langsung membereskan sarung dan sajadahnya. Ia menghampiri Aurel dan berjongkok di hadapan wajahnya. Matanya sendu saat melihat pipi wanita yang sangat ia cintai itu memerah karena ulahnya sendiri. Rasa penyesalan mengeruak di dalam hatinya.
Bagas mendekatkan wajahnya pada Aurel dan menciumi wajahnya setiap inci. Ia beralih ke perut istrinya, tempat dimana ada sebuah malaikat kecil yang sangat ia nantikan itu. Bagas mengusap perut Aurel lalu menciuminya.
Maafkan Ayah nak. Ayah sudah melukai Bunda, batin Bagas dengan air mata yang tidak sengaja lolos itu.
Bagas bangkit dari posisinya lalu keluar dari kamar dan menuruni anak tangga.
"Kak Bagas, itu Kak Aurel belum meminum susunya sejak pagi" Ucap Cesa yang berada tak jauh dari Bagas.
Bagas berkali-kali mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimana bisa ia melupakan kesehatan calon bayi nya itu hanya karena memikirkan egonya sendiri.
"Kamu istirahat Cesa, biar kakak yang bikinin susu nya" Ucap Bagas.
"Baik kak" Ucap Cesa.
Bagas melangkahkan kakinya menuju dapur dan membuatkan susu ibu hamil. Tak lupa ia membawa beberapa buah apel kesukaan Aurel.
"Sayang, bangun dulu" Bagas mengusap lembut wajah Aurel yang membuat Aurel membuka matanya namun kemudian ia mengalihkan pandangannya pada susu coklat diatas nakas. Tanpa aba-aba, Aurel langsung duduk dan meraih susu nya. Ia meneguk habis susu dalam gelas itu, bagaimanapun anaknya adalah penguat dirinya. Jadi ia mau anaknya itu sehat dan kuat di dalam sana.
Selesai menghabiskan susunya Aurel menyimpan gelas kosong itu ditempat asalnya kemudian ia sudah siap untuk berbaring lagi, namun Bagas menahannya.
"Jangan dulu tiduran, gabaik" Ucap Bagas.
Bagas memeluk perut Aurel dengan erat.
"Maafin Mas ya sayang. Maafin Mas yang udah kasar sama kamu" Ucap Bagas.
"Aku ingin pulang Mas, aku ingin tinggal dengan Mom and Dad. Kalau aku disana pasti ada seseorang yang percaya padaku, membelaku dan gaada orang yang kasar sama aku" Lirih Aurel yang secara tidak langsung menyindir pria dihadapannya itu.
"Apapun yang terjadi Mas mohon jangan libatkan orangtua dalam rumah tangga kita sayang. Kita bisa selesain masalah ini berdua tanpa campur tangan Mom and Dad" Ucap Bagas.
"Aku mau Dea pergi dari sini" Ucap Aurel.
"Sayang..." Bagas menatap wajah Aurel.
"Sebentar lagi ya, tunggu dia benar-benar sudah mandiri" Smabungnya.
"Mau sampai kapan Mas?? Mau nunggu sampe anakku meninggal?!!" Ucap Aurel dengan tangisannya.
"Apa maksud kamu?" Tanya Bagas.
"Apapun yang aku ucapkan, aku yakin Mas gaakan percaya sama kata-kataku karena aku hanya wanita yang memiliki rasa cemburu yang tidak beralasan." Aurel merebahkan dirinya dan membelakangi Bagas.