Twins'

Twins'
83



Waktu sudah menunjukkan pukul 7.00. Aurel baru selesai membantu Bi Ira memasak, ia kembali ke kamarnya lalu membersihkan diri. Setelah selesai mandi ia melihat Bagas yang masih setia di bawah selimut. Aurel menghampiri Bagas dan duduk di sebelahnya.


"Mas.." Bisik Aurel.


"Emhhhhh" Bagas hanya melenguh tanpa membuka matanya.


"Udah siang Mas" Aurel menggoyangkan badan Bagas.


"10 menit lagi, aku masih ngantuk" Ucapnya.


Akhirnya Aurel mengalah dan kembali menuruni tangga. Ia bertemu dengan Cesa yang kebetulan akan pergi ke sekolah.


"Selamat pagi kak" Sapa Cesa sambil tersenyum. Semalam Cesa sudah mendengar kabar mengenai kepulangan Aurel dari Bi Ira.


"Mau berangkat Sa?" Tanya Aurel.


"Iya kak" Jawab Cesa.


"Yasudah, hati-hati ya" Ucap Aurel yang di anggukki Cesa.


Aurel kembali berjalan ke meja makan membantu Bi Ira menata makanan disana.


"Bi, apa Mas Tian sering bangun siang?" Tanya Aurel.


"Den Bagas jarang pulang ke rumah Non, paling hanya 2 sampai 3 kali dalam seminggu Aden pulang. Sekalinya pulang pun malem banget, habis itu pergi lagi pagi hari. Setiap hari mungkin itu kegiatannya. Kalo ada di rumah Bibi sering liat Aden gak tidur, dia sibuk di ruang kerjanya" Ucap Bi Ira.


"Mangkannya pas tau jam segini Aden belum bangun mungkin Aden baru merasa kenyamanan tidurnya lagi" Sambung Bi Ira.


"Terus yang bersihin kamarnya siapa?" Tanya Aurel.


"Aden, tapi kadang-kadang Bibi yang bersihin kalo Aden gak pulang dalam semingguan" Ucap Bi Ira.


"Lalu Dea??" Tanya Aurel dengan ragu-ragu.


"Sehari setelah Non pergi, Tuan dan Nyonya besar berkumpul disini, ada Tuan Erik, Tuan Raka dan Nyonya Zahra. Bibi sempat diintrogasi tentang kejadian dimana Non sama Dea berantem"


"Terus bibi ceritain semua?" Potong Aurel.


"Iya, lagian Bibi gak bisa nyembunyiin ini semua. Bibi gak tega liat Non pergi tanpa bawa apa-apa" Ucap Bi Ira.


"Terus jadinya Dea?" Tanya Aurel.


"Diusir sama Den Bagas karena Den Vyan sama Dea sempet adu mulut" Ucap Bi Ira.


"Jadi Vyan tau hari itu juga?" Tanya Aurel.


"Iya, semua datang ke rumah ini. Tuan Erik juga sampai menampar Den Bagas" Ucap Bi Ira.


"Oh baiklah, makasih Bi. Lia mau ke atas dulu" Aurel meninggalkan Bi Ira dna menuju kamarnya.


"Yaallah Mass!!!" Teriakkan Aurel membuat Bagas berjingkrak dan langsung duduk di kasur.


"Mau sampe kapan tidurnya? itu daritadi hp kamu bunyi mulu. Aji nelfonin dari tadi, katanya 10 menit doang ta_"


"Iya sayang, ini mau mandi" Bagas segera berlari ke kamar mandi.


"Benar-benar bikin senam jantung pagi-pagi gini" Gerutu Aurel sambil membereskan tempat tidur.


Tak lupa Aurel menyiapkan baju kantor Bagas. Aurel kembali duduk di kasur lalu meraih ponsel Bagas di atas nakas. Pinnya masih sama seperti dulu ternyata. Wallpapernya pun tidak berubah, masih foto mereka sampai sebahu yang tidak mengenakan pakaian setelah melakukan malam yang mendebarkan saat itu.


Aurel membuka WhatsApp di ponsel Bagas. Dia tertawa saat melihat pesan yang Bagas kirimkan ke ponsel Aurel. Padahal saat ia pergi ia tidak membawa ponsel, bagaimana bisa Bagas menjadi sebodoh itu.


Pesan yang beruntun membuat Aurel tersenyum namun kadang menertawakan kebodohan suaminya. Bagas yang baru keluar dari kamar mandi mengerutkan keningnya saat melihat Aurel yang sedang tertawa.


"Kenapa?" Tanya Bagas.


"Enggak,, Mas aneh deh. Aku kan waktu pergi gak bawa hp, Mas juga tau itu tapi kenapa Mas ngirimin pesan sebanyak ini" Aurel kembali tertawa.


"Hanya itu yang bisa Mas lakukan. Setidaknya bisa bikin Mas sedikit tenang" Ucap Bagas dengan acuh.


"Hahaha iyaiya" Aurel keluar dari roomchat Bagas dengannya, namun perhatiannya teralihkan pada sebuah nomor yang tiba-tiba menelfon.


"Nomor siapa ini?" Aurel menunjukkan layar ponselnya ke Bagas yang sedang memakai baju.


Bagas mengangkat kedua bahunya "Gak tau aku, angkat aja siapa tau penting" Ucap Bagas.


Aurel menggeser simbol telefon berwarna hijau."Hallo?" Ucap Aurel.


"Hallo ini siapa?" Ternyata yang menelfon adalah seorang wanita.


"Kamu siapa?" Tanya Aurel.


"Aku.. aku pacarnya. Mana Bagas, kenapa kamu yang ngangkat"


"Pacar??" Aurel mendekati Bagas lalu melempar ponselnya ke hadapan Bagas.


"Pacar kamu nelfon!" Aurel langsung meninggalkan Bagas yang masih mengerutkan keningnya.


"Halo" Bagas berkata dengan nada dingin.


"Halo kak Bagas" Ucap perempuan di sebrang sana.


"Kakak ini aku Virly" Ah ternyata Virly yang menelfon.


"Dapat dari mana nomor ponsel saya?" Ucap Bagas.


"Itu gak penting, kakak bisa ketemu sekarang? aku ada di depan kantor kakak"


"Gak bisa! gak ada waktu.Saya ingatkan! jangan pernah mengaku menjalin hubungan dengan saya!! saya tidak mengenal anda!!" Tegas Bagas yang langsung mematikan telefonnya.


Bagas segera berpakaian dan menyisir rambutnya dengan cepat lalu berlari untuk menghampiri Aurel. Di lihatnya Aurel sedang memakan buah di meja makan dengan wajah di tekuk.


"Sayang" Ucap Bagas.


"Udah selesai ngobrol sama pacarnya?" Ketus Aurel.


"Sayang, itu bukan pacar aku" Ucap Bagas seraya duduk di kursi yang berhadapan dengan Aurel "Dia kakaknya Vyan"


Aurel mengangkat kepalanya dan menatap Bagas "Gimana bisa kakaknya Vyan jadi pacar Mas?" Ucap Aurel.


"Udah Mas bilang itu bukan pacar Mas. Mas mana tau dia dapat nomor Mas dari siapa" Ucap Bagas.


"Ck. Alasan" Gumam Aurel. Dia mengisi piring Bagas dengan makanan.


"Kamu gak percaya sama Mas?" Tanya Bagas yang hanya di jawab dengan angkatan kedua bahu Aurel.


Bagas memilih untuk diam dan menghabiskan sarapannya.


"Mas antar kamu ke rumah sakit, habis itu Mas langsung ke kantor karena ada rapat pemegang saham" Ucap Bagas.


"Hemm" Jawab Aurel.


Bagas mengantar Aurel ke rumah sakit dan langsung berpamitan untuk segera ke kantor karena waktu sudah menunjukkan pukul 8.00.


"Mau langsung pulang aja Kak?" Tanya Raka yang berpapasan dengan Bagas di pintu ruangan setelah tadi ia pergi ke kantin.


"Iya Dad, Tian harus pimpin rapat hari ini" Ucap Bagas.


"Apa ada masalah?" Sebenarnya Raka tau apa masalah yang sedang Bagas hadapi, namun ia memilih untuk diam dan melihat kinerja kerja Bagas.


"Hanya sedikit Dad. Tian bisa menyelesaikannya" Ucap Bagas.


"Baiklah,jangan sungkan untuk meminta bantuan Daddy" Ucap Raka.


Bagas tersenyum "Tian pamit Dad, Assalamualaikum" Bagas menyalimi Raka lalu pergi ke kantornya.


Setibanya di kantor ia langsung menuju ruangannya tanpa menghiraukan para karyawan yang menyapanya.


Terlihat Aji yang sedang berkacak pinggang dan menatap Bagas dengan tajam.


"Sejak kapan Lo betah dirumah?" Sinis Aji.


"Gak ada waktu buat ngomongin itu. Cepat siapkan berkasnya" Bagas dan Aji merapikan berkas yang berserakan dan mengumpulkannya di map.


"Menurut gue ancaman kerjasama dari perusahaan Korea gak main-main. Kemarin Tuan Lee Seung nelfon gue dan nanyain tentang ajuan kerjasama yang dia ajukan" Ucap Aji.


"Atur jadwal pertemuan dengannya. Tapi jangan minggu sekarang gue sibuk. Dan juga jangan mengonfirmasi persetujuan atau penolakan kerjasama dengannya" Ucap Bagas yang dianggukki Aji.


Bagas memasuki ruang rapat. Memulai rapat dengan keadaan tenang. Bagas sangat fokus hingga tidak menyadari jika sedari tadi ponselnya bergetar.


Setelah hampir 2 jam rapat di akhiri. Bagas segera menuju ke ruangannya dan mendudukkan dirinya di kursi kerjanya. Bagas ponsel di sakunya untuk menghubungi Aurel. Terlihat banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Vyan. Bagas menelfon balik Vyan.


"Hallo Bang, kenapa??" Ucap Bagas.


"..........."


"Ayah kesana sekarang, tunggu sebentar" Bagas segera menyambar kunci mobilnya.


"Mau kemana Lo?" Tanya Aji setengah berteriak karena Bagas sudah agak jauh darinya.


"Rs!!" Teriak Bagas.


Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia menuju ke rumah sakit. Matanya berair, ia terus berteriak pada pengendara sepeda motor yang menghalangi jalannya.


Dalam waktu 15menit akhirnya Bagas sampai di rumah sakit. Ia menunu kamar Zahra dan melihat keramaian disana. Bagas berlari menghampiri Vyan yang sedang menggendong Amel yang menangis.


"Bagaimana Bang?" Tanya Bagas.


Vyan hanya menggeleng dan mengeluarkan air matanya.


"Dimana Bunda?" Tanya Bagas karena tidak melihat Aurel disana.


"Bunda disana" Vyan menunjuk suatu ruangan. Dan Bagas langsung berlari ke arah yang ditunjukkan Vyan.


"Sayang.." Lirih Bagas.


____________


Next part ku kasih flashback yang mungkin sedikit ehem☺️.


Happy 91k Views🍑