Twins'

Twins'
80



"Aurel!!" Panggilan seseorang membuat Aurel dan Bagas mengangkat kepalanya dan menoleh ke sumber suara.


"Bara??" Ternyata yang memanggil adalah Bara.


"Kamu sedang apa disini?" Tanya Bara.


"Lagi makan. Bara kenalin ini suamiku namanya Mas Tian, dan Mas kenalin ini Bara yang udah nolong aku pas_" Ucapan Aurel terpotong saat Bagas menyelanya.


Bagas mengulurkan tangannya.


"Terimakasih sudah menolong istriku. Kenalkan saya Bagas suami dari Aurel" Ucap Bagas dengan ramah.


Bara menyambut uluran tangan Bagas.


"Ya sama-sama. Saya Bara, teman Aurel" Ucap Bara.


"Mau makan juga Bar?" Tanya Aurel.


"Udah selesai, sekarang mau kembali ke kontrakkan. Kalo gitu aku duluaan ya Rell" Ucap Bara.


"Duluan Mas, lain kali jaga istrinya" Bara langsung meninggalkan meja Bagas.


Bagas memandang punggung Bara yang berjalan menjauh. Tak lama waiters datang dengan membawa makanan yang Bagas pesan.


"Permisi" Ucap waiters seraya menata makanan di atas meja.


"Selamat menikmati hidangan kami" Waiters langsung meninggalkan meja Bagas dan Aurel.


"Wahhhhh" Aurel memandang makanannya dan tersenyum senang.


"Baca doa jangan lupa Bunda" Ledek Bagas saat melihat Aurel yang akan langsung menyantap makananya.


"Hehehe iya lupa" Aurel langsung mengadahkan kedua tangannya dan berdoa lalu mengambil lagi sumpit dan menyantap Sushi miliknya tanpa bicara seperti biasanya.


Hanya beberapa menit saja Aurel dan Bagas sudah menghabiskan makanannya.


"Mau langsung pulang atau mampir ke suatu tempat?" Tanya Bagas.


"Pulang Mas, udah mau maghrib. Aku gak mau sholat di luar soalnya gak enak wudhu nya" Ucap Aurel.


"Baiklah. Ayok" Bagas menyelesaikam administrasi lalu menggandeng Aurel dan masuk ke dalam mobil.


Tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di rumah. Bagas melihat Aurel yang ternyata sudah tertidur pulas padahal belum lama ia duduk di mobil.


Bagas mengangkat tubuh Aurel dan masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah ia tidak sengaja berpapasan dengan Bi Ira. Bi Ira langsung membelalakkan matanya saat melihat Bagas membawa seorang wanita, Bi Ira tidak mengetahui bahwa wanita yang dibawa Bagas adalah Aurel karena posisi wajah Aurel berada di dekat ketiak Bagas.


"Den, Yaallah kenapa bawa perempuan lain. Gimana kalo tiba-tiba Non Lia datang, aduh ini kenapa perempuannya juga hamil. Den istighfar den" Ucap Bi Ira yang sudah menangis. Mungkin karena Bi Ira sangat menyayangi Aurel jadi ia tidak ingin Aurel dikhianati lagi.


"Bibi ini apa sih. Hak aku dong bawa siapa aja ke rumah ini, kan ini rumah aku" Bagas sengaja mengerjai Bi Ira.


"Aduh Den atuh gimana sama perasaan Non Lia" Ucap Bi Ira.


"Bi, kan Lia nya juga gak disini. Udah ah Bagas mau bawa dia ke kamar, kayaknya capek banget" Ucap Bagas sambil menahan senyumnya.


"Den aduh mau dibawa kemana itu perempuannya. Jangan dibawa ke kamar Aden sama Non Lia" Ucap Bi Ira.


"Bi, udah atuh jangan ngehalangin mulu aku. Akunya capek ini dianya lagi hamil besar" Ucap Bagas.


"Aden bisa bawa dia ke kamar tamu aja ya, disana lebih baik" Ucap Bi Ira.


"Enggak ah, gaenak kalo dia bangun masa di taro di kamar tamu sih. Kan dia bukan tamunya Bagas" Bagas langsung menerobos Bi Ira dan membawanya ke kamarnya. Kamarnya sudah berpindah ke lantai 2.


"Aduh Yaallah Non Lia maafin Bibi gak bisa ngehalangin si Aden" Ucap Bi Ira.


Tak lama Bagas keluar dari kamarnya dan menuruni tangga. Bagas menghampiri Bi Ira yang tengah sibuk membuatkan makan malam.


"Bi masaknya buat Bibi sama yang lainnya aja, Bagas udah makan barusan" Ucap Bagas.


"Iya" Jawab Bi Ira singkat, mungkin Bi Ira sudah kecewa pada Bagas.


Bagas menahan tawanya saat mendengar ucapan Bi Ira yang sedang marah.


"Oh iya Bi. Bagas mau ada perlu sebentar, kalo Bagas belum pulang pas adzan maghrib Bibi tolong bangunin perempuan yang Bagas bawa tadi ya" Ucap Bagas yang langsung meninggalkan Bi Ira di dapur.


"Gak sudi Bibi bangunin perempuan yang udah ngerebut Den Bagas dari Non Lia" Gerutu Bi Ira.


Bagas POV


Hari ini sangat memporak-porandakan hatiku. Sejak kemarin perusahaan mengalami masalah yang cukup serius. Sebenarnya Daddy menawarkan bantuan padaku namun aku menolaknya, aku tidak mau terlalu egois untuk hal ini. Saat sedang rapat tiba-tiba aku mendepat telefon dari pengawal yang aku siapkan untuk menjaga Mommy. Setelah mendengar kabar kalau keadaan Mommy memburuk aku langsung menyelesaikan rapat dan menuju rumah sakit. Dan tanpa diduga ternyata disana ada seorang wanita yang angat aku rindukan. Aku menyadari kehadirannya saat Vyan berteriak karena wanita itu tidak sadarkan diri. Aku langsung membawanya dan menyuruh dokter untuk memeriksanya.


Setelah mendengar kabar jika Aurel baik-baik saja aku sangat lega. Ku pandangi wajahnya, tidak banyak yang berubah darinya. Hanya pipi yang tambah chubby saja. Ku dekati wajahnya dan kuciumi setiap incinya.


3 jam Aurel baru membuka matanya. Banyak yang aku obrolkan dengannya, hingga masuk waktu sore dokter melepas selang infus dan sudah membolehkan Aurel untuk pulang. Di perjalanan aku melihat Aurel yang menatap restoran Jepang dengan lekat. Aku tahu dia pasti sangat ingin makan di tempat itu.


Apa saat ini kamu sedang mengidam sayang? kenapa kamu tidak memberitahuku?, Batinku.


Akhirnya aku membawanya masuk ke dalam restoran, benar dugaanku ternyata dia menginginkan makanan Jepang.


Seorang lelaki yang memanggilnya membuat hatiku merasa sakit. Karena sebelumnya hanya Maheer yang menjadi sainganku. Namun saat Aurel memperkenalkan lelaki itu padaku aku bersikap biasa saja.


Aku tau kau mencintai istriku, terimakasih sudah merawarnya dnegan baik. Tapi maaf, aku tidak bisa membaginya dengan siapapun, dia hanya bisa dimiliki olehku, Batinku saat aku dan lelaki itu sedang bersalaman.


Setelah menyelesaikan makannya aku segera membawa Aurel pulang. Sesekali aku melirik Aurel yang selalu meguap. Mungkin efek kandungan jadi ia terus mengantuk. Tak lama kita sampai di rumah, aku menatap Aurel yang sudah memejamkan matanya.


Jangan pergi lagi sayang, Batinku sambil menciumi wajahnya.


Aku membawanya ke dalam rumah, ternyata di tengah perjalananku untuk memasuki kamar aku bertemu dengan Ibu kedua Aurel. Ya siapaagi jika bukan Bi Ira. Dia mengira aku membawa wanita lain ke rumah ini hahaha, rasanya amu ingin tertawa terbahak-bahak melihat wajah Bi Ira yang sudah panik.


Setelah lama di tahan oleh Bi Ira akhirnya aku bisa menerobos dinding penghalangnya. Aku merebahkan tubuh Aurel di kasur, kemudian langsung keluar dari kamar karena Aji menelfonku sejak tadi namun tidak sempat aku angkat karena aku sedang bersama Aurel.


Ada yang mau gue omongin penting!! Gue tunggu di Cafe Santuy. Begitulah pesan Aji, ia sampai meng caps look tulisannya.


Karena Cafe nya sangat dekat dengan rumah, aku memutuskan untuk pergi menggunakan motorku yang sudah lama tidak kupakai.