To Be A Continue

To Be A Continue
Damian Oliver E



Chika akhirnya bisa menikmati makanannya. Selagi Chika menggendong Baby Z, Alvaro telah memisahkan daging ayam dengan tulangnya. Sehingga Chika hanya tinggal makan tanpa harus melepaskan daging ayam dari tulangnya.


"Em" Chika meragu.


"Kenapa Bun?" tanya Alvaro yang mendengar Chika. Semua orang beralih ke Chika.


"Em, gini" Keraguan Chika.


"Gak jadi deh. Hehehe" Chika nyengir di depan semuanya.


"Apa sih Bun? udah bilang aja. Jangan bikin aku penasaran nih" jantung Alvaro seakan berdetak sangat kencang.


"Gini, boleh gak aku sisipkan nama keluarga Oliver di anak kita?" tanya Chika dengan penuh keraguan.


"Gak Boleh! Cukup Angel aja! Aku gak setuju!" Alvaro langsung membantahnya.


"Alva! kamu gak boleh gitu" kata Bunda Hani.


"Boleh Nak, berkat kebaikan mereka juga yang sudah menjaga kamu dan Angel di saat kami tidak tahu sama sekali kejadian itu" sambung Bunda Hani.


"Tapi Bun, itukan anak Alvaro juga. Alvaro berhak dong memilih nama yang bagus, yang baik buat anak Abang!" Alvaro merajuk.


Chika masih terdiam. Entah dimana nama Angel terdapat nama keluarga Oliver. Padahal tidak ada sama sekali.


"Tunggu!" Chika menghentikan perdebatan antara anak dan bundanya.


"Angel, dimana letak nama keluarga Oliver? Mereka memang membantu dan menjaga aku. Tapi, nama Angel itu aku yang buat" kata Chika.


"Lalu, apa nama belakang Angel? di berkas Angel hanya ada inisial huruf E" Kedua orang tua Chika dan Alvaro hanya dapat menepuk jidat. Sedangkan Rika dan Gita hanya dapat menyaksikan mereka semua sambil menikmati ayam bakar.


"Kenapa kamu senyum-senyum? Bisa aja kan nama suami kamu ada unsur E Nya atau di antara kedua orang tuanya punya nama dengan unsur E" kata Alvaro. Chika mencium pipi kanan Alvaro.


"Angela Swastika E, ya udah jelas dong kalo E itu di ambil dari nama belakang kamu. Bidadari yang membawa keberuntungan yang di berikan oleh tuhan. Karenanya aku bisa seperti sekarang ini" Tanpa terasa air mata Chika menetes.


Alvaro langsung memeluk Chika yang harus kembali mengingat kejadian dulu. Suasana menjadi haru.


"Gimana kalo anak kita, kita kasih nama Damian Oliver Ebrahim" Chika langsung menatap Alvaro yang baru saja berkata.


"Kamu serius?" tanya Chika.


"Lagi juga mereka hanya sebagian kenangan terindah kamu. Ngapain juga aku harus cemburu sama orang yang udah gak ada" kata Alvaro.


"Nama Oliver juga bagus kok artinya. Kalo aku tanya di Mbah Gugel itu artinya penuh kasih sayang dan aku juga ingin kelak anak kita akan menjadi orang yang baik dan penuh kasih sayang yang di kirim oleh tuhan" sambung Alvaro.


Chika kembali mengeratkan pelukannya.


"Haduh, salah kita nih datangnya. Tapi, kenyang kita" kata Gita.


Semua tertawa, setelah makan Rika, Gita dan Ayah Ebrahim saling berbincang hingga larut mereka semua pamit pulang.


"Bun, terima kasih ya bunda udah ngasih ayah kesempatan" kata Alvaro.


"Apa sih kamu tuh?" Chika menyenggol lengan Alvaro.


"Aku serius. Aku tuh dulu pasrah banget pas dengar kamu udah nikah. Apalagi kamu bahagia sama dia" kata Alvaro.


Chika menyampaikan perasaannya yang dulu sempat tertunda.