
Chika sudah tak dapat banyak berjalan. Walau begitu, Chika masih tetap semangat untuk beraktifitas. Di usia kehamilannya yang sudah menginjak sembilan bulan. Alvaro semakin posesif. Ia akan selalu bersama di samping sang istri kemanapun Chika pergi.
Usai mengantar Angela ke sekolah, Alvaro menemani sang istri ke kantornya. Namun, belum sampai kantor Chika. Alvaro sudah mendapatkan panggilan dari sang ayah. Ia di haruskan ke Real Estate yang sedang berjalan dalam pembangunan. Di kabarkan sedang ada permasalahan dan sang ayah meminta Alvaro untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
"Kenapa Ay?" tanya Chika.
"Gini, ayah meminta aku untuk mengurus bisnisnya yang sedang ada masalah. Aku khawatir akan memakan waktu lama" jawab Alvaro.
Alvaro tidak ingin jauh dari Chika. Apalagi saat ini Chika sudah memasuki bulannya. Alvaro gak mau melewati momen itu. Baginya cukup Chika merasakan momen perjuangan hidup dan mati tanpa dampingan suami. Kali ini Alvaro ingin sekali menemaninya dan menyemangati sang istri kelak jika Chika melahirkan.
"Ya udah, kamu bantu dulu aja ayah. Lagi juga masih belum pasti kapannya kan aku lahiran" kata Chika.
"Anak-anak ayah, ayah mau kerja dulu. Kalian sabar ya Nak. Tunggu ayah kembali ya Nak. Ayah sudah janji sama bunda untuk menemani bunda kalian saat melahirkan kalian nanti. mohon kerjasamanya ya" Alvaro mengelus perut Chika yang sudah membesar.
"Maaf ya Bun, Ay gak bisa nemenin Bunda kerja. Kalo ada apa-apa panggil Laras aja Bun" pesan Alvaro.
"Laras hari ini gak ke kantor Ay. Lagi juga bunda gak akan kenapa-napa kok" jawab Chika.
Alvaro mencium kening dan bibir Chika. Setelah berpamitan Chika keluar dari mobil dan berjalan perlahan masuk ke gedung. Setelah Chika benar-benar masuk ke gedung, Alvaro langsung menuju ke kota solo.
Sampai di ruangan Chika langsung menandatangani berkas-berkas dan laporan lainnya. Wenda asisten Chika ikut membantu di sebelahnya.
Sore harinya, Chika sudah berada di lobby. Baru saja ia ingin memesan taksi online seseorang sudah memanggil dirinya dari dalam mobil.
"Bukannya kamu pindah ke luar negeri?" tanya Chika.
"Iya, rencananya hari ini. Tapi ternyata ada bisikan dari peri cinta untuk kesini hari ini" kata Jordan.
"Ada baiknya Nyonya masuk dulu" Jordan membukakan pintu untuk Chika.
Begitu Chika masuk. Jordan melajukan kendaraannya dengan perlahan. Di hati Jordan masih tersimpan nama Chika. Walau kini rumah tangga Chika sudah sangat baik-baik saja apalagi dalam waktu dekat ini akan hadir tiga bayi kembar.
"Kamu kenapa pindah ke luar negeri sih? padahal di negara kita lebih enak daripada negara lain" ucap Chika.
"Negara kita memang enak. Tapi engga, jika aku selalu melihat orang yang aku cinta bahagia dengan yang lain. Bahkan rasanya ke luar negeri aja tuh gak cukup" kata Jordan.
"Apa sih Jo? di luar sana tuh masih banyak perempuan-perempuan lain yang bahkan lebih dari aku" jawab Chika.
"Aku yakin kok, suatu saat kamu akan di pertemukan dengan seseorang" sambungnya.
"Siap Bu Bos" kata Jordan.
"Tadi Nyonya, sekarang Bu Bos. Jadi yang mana dong?" tanya Chika.
"Peri cantik aja deh manggilnya" Chika spontan langsung memukul lengan Jordan. Secara bersamaan Chika merasakan tendangan dari dalam perut yang membuat Chika merintih sakit.