To Be A Continue

To Be A Continue
Kisah Pilu



Chika mengikuti Alvaro, jantung Chika tak ada hentinya berdebar. Bahkan saat berdua di dalam mobil, jantung Chika terus berdebar kencang.


"Ada apa denganku? kenapa rasa ini masih sama saat dulu bersamanya?" batin Chika.


"Bagaimana jika istrinya salah paham denganku?" batinnya lagi.


Tangan Alvaro mulai berjalan memeluk tangan Chika "Kamu kenapa?" tanya Alvaro.


"Aku lihat sedari tadi kamu melamun saja. Ada apa?" tanyanya lagi. Chika hanya bisa menatap tangannya yang di genggam oleh Alvaro.


Chika menjauhkan tangan Alvaro dari tangannya. "Jangan seperti ini, akan salah paham jika istrimu tahu" kata Chika.


Alvaro tertawa, lalu kembali fokus ke depan jalan. Alvaro sengaja menunggu Chika. Setelah sekian lama tak bertemu dengan Chika. Ketika ia tahu bahwa Chika sudah menikah, itu membuatnya sakit hati.


Chika dan Alvaro telah sampai di parkiran restoran mewah. Chika terdiam begitu sampai di restoran. Restoran yang memiliki kisah pilu bagi Chika. Dimana ia harus kehilangan sang suami tercintanya. Air mata Chika memaksa untuk keluar.


Alvaro melihat Chika meneteskan air matanya. Seketika, Alvaro menghapus air mata yang mengalir di pipi Chika.


"Kamu kenapa Chik?" tanya Alvaro.


"Apa tempat ini menyakiti hatimu?" tanya nya lagi.


Chika masih terdiam. Tapi, mau bagaimanapun, menangis pun tidak akan membuat Theo kembali. Walau tak bisa di pungkiri bahwa hatinya masih terasa amat sakit.


Chika mencoba tegar, ia yakin semua akan berlalu dengan sendirinya. Chika menghapus air matanya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Alvaro.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Chika berbalik tanya.


"Gak bisa disini aja?" tanya Chika lagi. Akan lebih menyakitkan jika ia masuk ke dalam restoran itu.


"Aku harus menyelesaikan pekerjaan ku dulu di dalam" jawab Alvaro. Chika terdiam.


Alvaro keluar dari mobil. Lalu, membukakan pintu mobil untuk Chika. Setelah Chika keluar, Alvaro menggandeng Chika berjalan ke dalam restoran mewah miliknya.


"Selamat siang Tuan dan Nyonya" sapa pelayan yang menyambutnya.


"Lepas!" ucap Chika sambil melepas tangannya dari gandengan Alvaro.


Alvaro membawa Chika duduk di sofa merah milik Restoran tersebut dan memesankan minuman untuk Chika.


"Kamu tunggu aku disini ya. Aku akan kembali setelah ini selesai" pinta Alvaro pada Chika.


Ketika Alvaro masuk ke dalam sebuah ruangan, Chika pergi ke rooftop di restoran tersebut. Terlintas bayang-bayang ia saat bersama Theo. Chika duduk di tempat yang dulu ia duduki bersama Theo. Tanpa sadar air mata Chika kembali mengalir keluar.


Lama Chika di rooftop membuat Alvaro terkejut begitu keluar ruangan sudah tidak ada Chika di tempatnya. Ia bertanya ke pelayan yang sedang lalu lalang dan ia menemukan Chika sedang menangis di rooftop miliknya.


Alvaro bimbang, ingin membiarkan Chika di rooftop tapi ia tidak tega melihat Chika menangis. Tapi, ia juga tidak ingin membawa Chika ke dalam ruangannya.


Alvaro menunggu di belakang Chika. Melihat dari kejauhan. Memberi waktu untuk Chika. Setelah lama menunggu, Alvaro akhirnya memutuskan untuk Membawa Chika ke ruangannya.


Alvaro menari Chika dan menuntun Chika masuk ke ruangan pribadinya. Hanya Asistennya dan juga anak buahnya lah yang di perbolehkan masuk ke ruangan tersebut.


Ruangan yang tidak terlalu luas dan sejuk. Chika, memasuki ruangan tersebut. Dirinya langsung tertuju pada satu sisi. Dengan cepat ia menghampiri salah satu sudut di ruangan itu.