
Perlahan perusahaan sudah mulai berjalan dengan baik. Chika memilih mencari pegawai baru untuk membantunya.
Setelah di sibukkan dengan mencari pegawai baru, Chika mempercayakan seluruhnya pada Wenda asisten Chika untuk membimbing Shena yang telah di tunjuk Chika sebagai asisten yang akan membantu Wenda dan Chika mempercayakan Wenda untuk menggantikan dirinya saat dia tidak berada di kantor.
***
"Bunda, kenapa sih aku gak punya ayah?" tanya Angela.
"Siapa bilang Angel gak punya ayah? Angel punya kok" jawab Chika.
"Terus dimana ayah Angel? kok gak pulang-pulang?" tanya Angel lagi.
"Sudah malam, tidur yuk Nak. Besok kamu bisa kesiangan kalo tidur larut malam" Chika mencoba menghindar dari pertanyaan Angela.
Setelah Angela tidur, Chika turun untuk ikut bergabung dengan mama dan papanya. Sudah sebulan Papa Heru di rumah. Ia mempercayai karyawan barunya untuk menggantikan pekerjaannya di Cafe. Papa Heru tetap berkunjung ke Cafe seminggu sekali bersama Mama Maya.
Mengenai rumah mertuanya, Mendiang mertua Chika mewarisi harta kekayaannya pada Chika. Sebagian warisannya Chika sumbangkan ke panti dan ke para pelayan di rumah sana.
Chika menyerahkan rumah tersebut ke orang tuanya. Di ruang TV mereka sangat terharu dengan keadaan mereka saat ini. Sangat berubah drastis. Dari yang hanya tinggal di rumah gang kecil. Kini mereka tinggal di rumah yang besar dan Papa Heru tidak perlu mondar-mandir mencari pekerjaan baru. Kini justru Papa Heru yang membuka lowongan pekerjaan. Memberi kesempatan bagi lulusan baru yang sungguh-sungguh mencari pekerjaan. Begitupun dengan Chika, ia memberi kesempatan untuk orang-orang yang berbakat dan memiliki minat tinggi di bidang hiburan.
"Bagaimana pekerjaan kamu?" tanya Mama Maya.
"Sudah teratasi Ma. Sekarang Chika sudah punya banyak waktu untuk Angela" jawab Chika.
"Beberapa waktu lalu, Tuan Ebrahim mengajak Chika bertemu. Chika pun mengajak Angela bertemu dengan mereka"
"Chika, Mama sudah bilang. Jangan sampai membuat rumah tangga mereka hancur. Jika mereka tahu Angela anak dia" kata Mama Maya.
"Sebenarnya, dia belum menikah Ma" Mama Maya menatap tajam Chika.
"Kamu percaya? Seharusnya kamu jangan mudah percaya dengannya. Sudah jelas saat itu dia membawa kedua anaknya" kata Mama Maya.
"Kedua anak itu adalah keponakannya Ma. Yang satu pernah Chika bawa ke rumah karena ayahnya tidak juga datang menjemputnya dan itu saat masih ada Theo" jelas Chika.
"Lalu, apa alasan kamu memutuskan tidak mengatakannya dan tidak membiarkan dia bertanggung jawab atas perbuatannya?" Mama Maya semakin bingung dengan keputusan Chika.
"Pokoknya Mama ingin kamu secepatnya mengenalkan Angela ke ayahnya. Jika kamu tidak ingin menikah dengannya, Setidaknya jangan membuat anakmu jauh dari ayahnya" pinta Mama Maya.
Semalaman Chika memikirkan setiap perkataan Mamanya. Memang sudah seharusnya Angela tahu siapa ayahnya. Tidak hanya perkataan sang mama. Ia juga memikirkan perkataan Tuan Ebrahim dan Nyonya Hani.
Merekapun menerima Angela sebagai cucunya. mereka juga berharap agar Chika mau menikah dengan anak pertamanya. Alvaro juga membuktikan bahwa dirinya sangat mencintai Chika.
Chika berbaring di samping sang anak yang sudah mulai tumbuh besar. Gadis kecil yang kini mulai berpikir kritis. Wajahnya saat tertidur sangat mirip dengan Alvaro.