
Alvaro pergi ke ruangan Chika untuk menemui Wenda dan menanyakan keberadaan Chika. Namun tak juga ia temukan.
"Kalo memang cinta mah pasti gak akan bingung nyari. Sekarangkan udah ada ponsel. Tapi kalo dah gak bisa di hubungi berarti kamu membuat kesalahan dan menyakiti Chika" ucap Jordan yang tiba-tiba berada di depan pintu.
"Bukan urusanmu" Alvaro beranjak keluar ruangan Chika. Tapi, Jordan menahannya.
"Tentu itu menjadi urusanku. Sekali kesalahan, sekali kamu menyakitinya. Aku akan merebut dia dari kamu" Jordan memberikan jalan untuk Alvaro. Sayangnya Alvaro kesal dengan perkataan Jordan dan membuatnya marah.
"Jangan coba-coba untuk mengambil Chika dariku! kamu, gak akan pernah bisa merebutnya dariku!" Alvaro menarik kerah baju Jordan dan membuatnya berdekatan dengan wajah Alvaro.
Jordan tersenyum sinis pada Alvaro. Ia mendorong Alvaro dan merapikan kerahnya yang berantakan karena Alvaro.
"Haha" Jordan tertawa sinis.
Alvaro kembali mencari Chika. Ia sudah mencari ke Sekolah, Rumah keluarga Ebrahim, ke Cafe Olivier dan bahkan ke rumah Chika ia tetap tidak menemukan Chika.
"Maaf tuan, sepertinya Chika sedang berada di rumah baru orang tuanya" kata Bik Ela.
"Hah? eh, dimana ya rumahnya orang tua Chika?" tanya Alvaro. Bik Ela mengambil selembar kertas kecil dan mencatat alamatnya.
"Ini tuan alamatnya" Bik Ela memberikan catatan kecil di kertas yang tadi ia tulis.
"Terima kasih ya" Alvaro kembali masuk ke mobil dan melajukan kendaraannya.
Alvaro berhenti di depan rumah orang tua Chika. Rumah tersebut adalah rumah peninggalan mendiang mertuanya Chika. Dikarenakan mereka hanya memiliki satu orang anak dan anak mereka sudah mendahului mereka. Sehingga rumah tersebut di wariskan ke Chika menantu mereka.
"Permisi, Chika ada?" tanya Alvaro.
Wanita itu memanggil Mama Maya yang sedang menonton TV bersama Papa Heru. Mama Maya mendatangi Alvaro yang ada di luar.
"Varo" sapa Mama Maya.
"Chika ada Ma?" tanya Alvaro.
"Oh, masuk dulu yuk. Chika lagi di ruangan …" Mama Maya enggan melanjutkan perkataannya.
"Di ruangan Theo" Mama Maya pun melanjutkan ucapannya.
"Boleh saya ke sana?" tanya Alvaro. Mama Maya mempersilahkan Alvaro dan mengantarnya hingga ke depan ruangan Theo.
"Dia itu orang yang mencintaiku di saat aku terpuruk dan terus mencintaiku hingga membuatku juga mencintainya. Bahkan dia tetap mencintaiku walau dia tau kalo di hati aku hanya ada kamu" Chika merasakan adanya Alvaro di belakangnya. Sambil menatap potret hasil Theo.
Iya, di ruangan tersebut banyak sekali hasil foto jepretan Theo. Dari saat Chika terpuruk hingga Chika tertawa bahagia bersama Theo. Foto tersebut ia kumpulkan dan di tempel di dinding ruangan Theo.
Papa Heru yang pertama kali datang ke rumah itu dan melihat sebuah ruangan yang tertutup. Saat ia tanya ke pembantu di rumah itu tidak ada yang tahu isi ruangan tersebut. Sehingga Papa Heru memaksa untuk membuka ruangan tersebut.
Saat Chika ke sana, Mama Maya yang memberitahu ruangan tersebut. Chika kembali menangis melihatnya. satu-persatu ia lihat hasil potretan Theo. Sampai saat Alvaro datang, Chika masih menatap foto-foto di dinding.
"Ia memperlakukanku bagaikan seorang putri. Bahkan ia tidak pernah sekalipun menyakitiku. Ia selalu menjaga perasaanku. Hingga akhirnya ia harus pergi meninggalkanku" Chika kembali menangis.