To Be A Continue

To Be A Continue
Dompet Tebal?



Zoya pergi dengan rasa bersalahnya. Semua tak bisa menahan Chika. Ia berhak atas itu semua. Siapa yang tidak sakit hati jika suaminya lebih mementingkan sahabatnya dan mengalami kejadian yang nyaris membuatnya kehilangan orang yang ia cinta untuk kedua kalinya.


Kini Alvaro masih berada di ruang ICU hingga ia sadarkan diri. Kini secara bergantian Bunda Hani, Ayah Ebrahim dan kedua adiknya masuk untuk menjenguknya.


Sampai larut malam tersisa Chika yang menunggu Alvaro. Baru hendak memejamkan mata, Chika melihat ada pergerakan dari tubuh Alvaro. Sontak Chika memanggil perawat dan dokter yang sedang piket.


Setelah dokter memeriksa, ia meminta perawat untuk memindahkan Alvaro ke ruang rawat inap. Saat itu juga Alvaro di pindahkan ke ruang 101.


Sekiranya perawat menyelesaikan tugasnya. Perawat tersebut keluar dari ruangan Alvaro. Suasana kembali canggung. Chika menaikkan selimut Alvaro.


"Maafkan aku" ucap Alvaro tertatih. Chika masih terdiam menatap Alvaro.


"Maafkan aku yang udah melakukan kebodohan dalam hidup aku untuk yang kedua kalinya" sambungnya.


"Minum dulu ya" Chika memberikan air putih untuk Alvaro. Ia membantu menegakkan sedikit ranjang Alvaro.


"Maafkan aku Chika. Aku melakukan kesalahan yang sangat fatal. Aku telah menyakiti hatimu" Alvaro menangis.


Chika memeluk Alvaro dan berkata "Terima kasih kamu udah berjuang untuk tetap hidup. Aku gak bisa ngebayangin gimana hidup aku jika harus kehilangan orang yang aku cinta untuk kesekian kalinya".


Alvaro tersenyum dan membalas pelukan Chika. Begitu cintanya Chika padanya.


"Aku janji gak akan menyakitimu lagi. Maafkan aku ya Chika. Aku sangat-sangat bersalah" kata Alvaro.


"Aku mohon jangan seperti itu lagi" ucap Chika.


"Percayalah, seribu wanita menggodaku. Hati aku hanya untuk kamu Chika" kata Alvaro.


***


"Bunda, Ayah!" teriak Angela sambil lari memeluk Chika dan Alvaro.


"Pelan-pelan sayang, kasian ayah. Masih sakit lukanya" kata Chika.


Mama Maya dan Bunda Hani telah menyiapkan hidangan untuk makan bersama. Tanpa basa-basi mereka mulai menyantap hidangannya.


Setelah menikmati makan siang. Anak-anak langsung bermain di kamar bermain. Orang tua Chika pastinya sudah berada di depan TV menikmati sinetron favoritnya. Sedangkan Ayah Ebrahim dan Bunda Hani berada di taman belakang.


Alvaro menghampiri kedua orang tuanya yang sedang menikmati angin yang berhembus. Chika ikut menonton sinetron bersama Sabrina.


"Bun, Abang minta maaf ya sudah membuat ayah sama bunda malu" ucap Alvaro.


"Tapi jujur Bun, Abang tuh gak ada perasaan apapun ke Zoya. Cinta Abang hanya untuk Chika dan anak-anak" sambungnya.


"Yang berlalu, biarlah berlalu. Jadikan itu pelajaran untuk kamu ke depannya" kata Ayah Ebrahim.


"Bunda sudah menjelaskan ke Abang kan?" tanya Bunda Hani.


"Iya yah, Bun" jawab Alvaro.


"Alvaro mengira kebaikan Zoya karena hubungan seorang teman" sambungnya.


"Bang, cewek tuh kalo dia udah nyaman pasti langsung jatuh cinta. Makanya sulit hubungan pertemanan dengan lawan jenis" kata Adrian.


"Ya, ternyata benar yang di katakan Bunda. Abang jadi ngerasa bersalah banget sama Chika" kata Alvaro.


"Ya ajak jalan-jalan dong Bang. Dompet tebal tapi pelit banget sama istri sama anak. Tapi juga jangan di tinggalin lagi anak orang Bang" kata Adrian.