
Sampai Jakarta, Chika langsung pergi ke kantor tanpa mampir ke rumahnya. Sampai kantor ia mendengar suara keributan dari arah kantin. Chika langsung mengarah ke kantin dan melihat Wenda sedang melabrak Fara di depan banyak orang.
"Hentikan!" terdengar suara wanita meminta Wenda menghentikan kekacauan yang ia buat.
"Bu Chika" Wenda kaget dengan kedatangan Chika.
"Wenda, Fara, Vian! Ikut saya!" pinta Chika.
Mereka mengikuti Chika dari belakang ke ruangan Chika. Wenda yang tadinya bersikap seperti macan kini berubah menjadi seperti kucing.
"Wenda! Siapa yang menyuruhmu bertindak seperti itu?" tanya Chika sambil menyilang kan kakinya. Wenda tak mampu berkata-kata seakan nyalinya menjadi ciut.
"Wenda! kenapa gak di jawab? Aku tau maksud kamu baik. Aku tau kamu ingin membela perusahaan ini. Tapi tidak dengan menuduh sembarangan" Chika memberi penjelasan pada Wenda.
Chika memang berhati lembut. Tapi, jika ia sudah marah, tidak ada yang berani melawannya.
"Wenda! Apa kegiatan kamu kemarin?" tanya Chika.
"Jawab! jangan diam saja!" Chika sedikit membentak Wenda.
"Kemarin, aku" Wenda memikirkan kejadian kemarin.
"Apa?"
"Kemarin aku ke lokasi orang yang udah sabotase website kita. Terus aku ketemu Karla dan ngobrol-ngobrol sebentar dengannya. Lalu balik lagi ke kantor" jawab Wenda.
"Dimana kamu bertemu Karla?" tanya Chika.
"Di rumah tersangka" jawab Wenda.
"Kamu tuh! Astaga Wenda! Aduh!" Chika gak tau lagi mau berkata apa.
"Wenda! yang udah jelas dia pelakunya gak kamu marah-marahin. Tapi kamu malah mempermalukan orang yang gak bersalah!" Chika benar-benar kesal dengan Wenda. Seketika mata Wenda membulat.
Chika menghubungi Rino untuk membawanya ke kantornya. Ia butuh mendengarkan penjelasan dari Karla.
Setelah menunggu beberapa lama, terdengar suara ketukan pintu. Laras, Chika, Wenda, Fara dan Vian langsung menengok ke arah pintu. Orang yang telah mereka tunggu-tunggu pun tiba bersamaan datangnya petinggi-petinggi di perusahaan itu dan juga perwakilan dari manager setiap talent yang merasa di rugikan olehnya.
"Rino, jelaskan hasil kerja kamu" pinta Chika. Rino menjelaskan dari awal ia di perintahkan oleh Alvaro hingga ia mendapatkan Karla sebagai pelakunya.
Semua orang terkejut. Siapa sangka, orang yang paling heboh di perusahaan itu menjadi tersangka yang sudah merugikan banyak Talent.
"Jadi, apa alasan kamu melakukan hal itu?" Karla tetap tidak ingin menjawab pertanyaan Chika.
"Jawab Karla!" teriak Chika. Karla masih tetap tidak ingin menjawabnya. Di samping itu yang lainnya ikut berbisik-bisik membicarakan Karla.
"Oke, kalau kamu tidak ingin menjawabnya. Rino! bawa dia ke pihak berwajib dan akan aku pastikan kamu tidak akan bisa bekerja disini lagi dan dimana pun!" terlihat sekali Chika sangat marah pada Karla.
Saat Rino dan anak buah Alvaro menarik dan membawa Karla. Karla pun buka suara "Tunggu!" matanya berkaca-kaca.
"Ya, aku yang melakukan itu. Itu karena~"
"Karena dengan mudahnya Ibu Chika memasukkan Bu Laras dan langsung menempatkan Bu Laras menggantikan posisi Bu Chika."
"Lalu, Bu Chika langsung memberikan posisi kerjaan untuk Fara yang baru ibu kenal. Sedangkan saya? saya yang sudah lama bekerja disini jauh sebelum Bu Chika berada disini?" Chika terdiam. Ia juga menyatakan bahwa dirinya iri melihat Chika yang dekat dengan Jordan. Ternyata, Karla sudah lama menyukai Jordan. Hanya saja Jordan sama sekali tidak melihat dirinya. Jordan hanya melihat Chika.
Bukan maksud Chika asal pilih. Hanya saja untuk posisi itu ia tidak bisa memberikan posisi itu untuk orang lain.