
Chika memasakkan makanan untuk dirinya dan juga Airin. Sambil menunggu orang tuanya menjemputnya. Chika mengajak Airin untuk makan bersama.
"Bu Guru, rumah Bu Guru bagus ya. Sama seperti rumah Airin" curhatan si gadis kecil.
"Tapi, rumah opah lebih besar. Banyak mainan juga di sana. Airin suka sekali main ke rumah opah" lanjut curhatnya lagi.
Chika hanya cukup tertawa mendengar Airin bercerita. Airin memang sosok yang periang hanya saja ia belum bisa bergaul dengan temannya yang lain.
"Bu Guru tau tidak? Airin punya uncle yang iseng sekali sama Airin. Setiap Airin main ke rumah Opah, pasti ada uncle - uncle itu. Tapi mereka sayang sama Airin. Airin juga sayang banget sama mereka" curhatnya lagi.
"Nah, kalau begitu sekarang Airin habiskan dulu makanannya ya. Nanti kita lanjut cerita lagi" Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya.
"Masakan Bu Guru enak sekali. Airin suka" Airin tersenyum senang.
Tak lama, suara bel berbunyi. Bik Tina lari membukakan pintu. Seperti biasa Bik Tina melihat ke layar kecil dahulu.
"Nyonya, sepertinya di depan sudah ada orang tua Nona cilik" kata Bik Tina.
Airin langsung berlari dan melihat ke layar kecil. Namun sayangnya tidak sampai meski ia sudah berjinjit.
"Bu Guru, bantu Airin dong. Airin mau lihat" ungkap Airin. Chika menggendong Airin.
"Iya, itu Papi" Airin langsung lari mengambil tasnya. Namun sayangnya, seorang wanita yang tak di harapkan kehadirannya datang.
Setelah itu Chika membukakan pintu untuk Airin.
"Papi!" teriak Airin.
"Airin sayang, maaf ya Papi terlambat. Tadi papi ada meeting dadakan" kata Papi Airin ke Airin.
"Yuk kita pulang" Papi Airin menggandeng anaknya.
"Wow, ternyata benar dugaan gue. Lo itu bukan cewek baik-baik. Theo gak ada di rumah lo malah bawa pria lain ke rumah. Dasar m****an" Sandara mencaci Chika.
"Maaf ya Mbak, orang tadi adalah orang tua dari murid saya" Chika menampar wajah Sandara. Mendapat perlakuan seperti itu Sandara membalas pukulannya.
"Kurang a***r lo ya! Berani-beraninya lo mukul gue!" Belum sampai ke wajah Chika tangan Sandara tertahan oleh seseorang.
"Tolong jangan berbuat kasar di rumah orang lain! Saya kesini hanya untuk menjemput anak saya!" ucap Papinya Airin.
Mendengar keributan di luar Bik Ela segera menghubungi Tuan Theo dan melaporkan kedatangan Sandara. Theo langsung bergegas pulang ke rumah.
"Gak usah ikut campur lo! mau bela perempuan m*****n ini?! sikapnya saja sok lugu tapi hatinya! Cih!" Sandara lagi-lagi mencaci Chika.
"Saya tidak ikut campur! Tapi anda yang membawa saya dalam masalah pribadi anda! jaga diri anda dalam bersikap!" ucap Papinya Airin.
Setelah kepergian Airin dan Papinya. Theo datang dengan mobil sport merahnya. Theo memarkirkan mobilnya dengan sembarang dan menghampiri Chika dan Sandara.
"Untuk apa kamu kesini?" tanya Theo. Mendengar suara Theo Bik Ela dan Bik Tina menyusul ke luar rumah.
"Aku memergoki istri kamu sedang bersama pria lain" Sandara membuat alasan.
"Istri aku tidak seperti kamu yang mudah berganti pasangan hanya demi uang!" Theo membela Chika sebab Theo yakin Chika tidak seperti yang Sandara bilang.
"Tadi, Nyonya mengajak muridnya makan sambil menunggunya di jemput oleh orang tuanya Tuan" Bik Tina menjelaskan keadaan yang sebenarnya.