To Be A Continue

To Be A Continue
Terkejut?



Tiba-tiba, Chika terbangun saat mendengar suara pintu terbuka. Chika masih terdiam di kasurnya. Ia mengira suara tersebut adalah suara dari luar. Tapi, ia teringat bahwa dirinya lupa mengunci pintu.


Chika terbangun dari tidurnya dan beranjak dari kasur. Alangkah terkejutnya Chika begitu melihat seorang pria masuk ke dalam kamarnya.


Dan semakin terkejut saat Chika melihat wajah pria itu. Wajah yang tak asing lagi di mata Chika. Chika melangkah mudur sedikit demi sedikit.


"Chika? kau kah itu?" ucap pria itu dan berjalan mendekati Chika.


Tercium aroma al**** yang menyengat dari pria itu. Chika semakin mundur dan menabrak pintu kaca yang ada di belakangnya. Chika menengok ke sebelah kanannya tembok dan sebelah kirinya ada meja dan kursi. Chika tidak dapat lari kemana-mana.


Pria tersebut mendapati Chika. Chika sangat ketakutan. Sebab, pria tersebut dalam pengaruh al****. Pria tersebut memeluk Chika.


"Aku sangat mencintaimu Chik, kenapa kamu menolak ku?" kata pria tersebut.


"Aku sangat merindukanmu. Bahkan aku rela menunggumu selama ini" ucapnya lagi.


Chika melihat ada celah untuknya lepas dari pelukannya. Chika menghentakkan tubuhnya ke kiri dan kembali mundur. Namun sayangnya, Kaki Chika terbentur kursi roda sehingga membuatnya terjatuh.


Pria tersebut membungkukkan tubuhnya dan mengangkat tubuh Chika. Meletakkannya di atas kasur.


"Aku mencintaimu Chika. Hanya kamu yang bisa membuatku bahagia. Aku janji akan membuatmu bahagia Chika" kata pria itu.


"Bayangan masa lalu membuat aku sangat menyesal. Aku gila karena penyesalanku" Pria itu mencium kening Chika.


Dan terjadilah hal yang tidak Chika inginkan. Air mata Chika semakin mengalir deras sesekali Chika memukul Alvaro. Namun Alvaro tidak menghiraukannya.


Chika merasakan sakit yang baru ia rasakan. Chika merasa sakit hati dengan perlakuan Alvaro. Ia tidak menyangka Alvaro akan melakukan hal itu padanya.


***


Hingga pagi hari begitu Alvaro terbangun dari tidurnya, Ia mendapati dirinya tanpa sehelai benang dan tertidur di samping Chika. Alvaro membuka selimutnya dan melihat sedikit noda merah di sprei yang sudah sedikit menghilang namun masih sedikit basah ketika Alvaro pegang.


"Tidak, tidak mungkin" Alvaro menatap wajah Chika yang memerah.


Alvaro kembali mengingat kejadian semalam. Ingatannya membuat Alvaro mengacak-acak rambutnya. Hal itu tidak membuat Chika terbangun. Alvaro kembali menatap Chika yang sedang tertidur pulas. Alvaro mencoba menyentuh Chika dan merasakan hawa panas dari tubuh Chika.


"Tubuhnya panas sekali" ucap Alvaro.


"Ah, apa yang telah aku lakukan?! bodoh sekali aku!" Alvaro memukul kepalanya sendiri berkali-kali.


"Maafkan aku Chika. Tidak asa maksud aku untuk menyakitimu seperti ini" ucapnya lagi.


Alvaro membawa Chika ke rumah sakit terdekat. Setelah mendapat perawatan Chika di bawa ke ruang rawat. Alvaro masih menunggu Chika terbangun dari pingsannya.


Ingatan Alvaro kembali pada noda yang ia lihat tadi. Alvaro sesekali memandang wajah Chika yang masih memerah karena suhu tubuh yang panas.


"Apa iya Chika masih? tapi, diakan sudah menikah. Tidak mungkinkan?" batin Alvaro bertanya-tanya.


"Dimana aku?" tanya Chika melihat ke sekelilingnya.


"Kamu sudah sadar?" tanya Alvaro.


"Kamu?!"


"Aku mohon maafkan aku. Aku tidak ada maksud untuk menyakitimu" ucap Alvaro.