
Sejak mengetahui penyebab Airin tidak ingin berteman, Chika, Rika dan Gita mencoba agar Airin dapat menghilangkan traumanya. Dengan berbagai cara dan dengan kesabaran penuh. Chika, Rika dan Gita berhasil membuat Airin bergaul dengan teman yang lainnya.
Airin memiliki banyak teman selain Karin adik sepupunya. Karin sering ikut Alvaro ke Yayasan. Airin juga selalu menjaga Karin.
Hingga suatu saat Airin terlihat murung di sudut kelas. Ia tidak ingin mengajak Karin bermain. Bahkan ia menjauhi Karin. Rika, Chika dan Gita heran biasanya Airin sangat dekat dengan Karin.
"Airin, kamu kenapa nak?" tanya Rika yang saat itu berada di kelas. Sedangkan Gita dan Chika masih berada di Ruang Staf.
Wajah Airin memerah dan Air Matanya berkumpul untuk jatuh. "Airin juga mau punya adik kayak Karin" Airin pun menangis.
Rika menahan tawanya. Betapa lucunya wajah Airin yang menangis karena iri dengan Karin. Tak lama Chika dan Gita datang bersamaan.
"Pagi-pagi udah buat anak orang nangis aja kamu Rika" ucap Gita.
"Dia mah kan kalo belum buat anak nangis belum puas. Hahaha" sambung Chika.
"Ih, kalian datang-datang udah gosip aja. Kemana aja kalian telat banget?" tanya Rika.
***
Bel berakhirnya pelajaran berbunyi. Chika dan teman-temannya keluar bersama dan berjalan menuju Ruang Staf. Sebelum masuk, Gita mengetuk pintu terlebih dahulu.
Terlihat ada Joshua sedang sibuk di depan komputernya dan ada sesuatu di meja Chika. Sudah sebulan ini Chika selalu mendapatkan kotak makan dengan menu yang berbeda-beda dari Joshua.
"Menu apa lagi tuh Chik?" tanya Gita.
"Jo, bawa tuh yang banyak kenapa sih? masa cuma Chika doang" canda Rika.
"Banyak nih, kalian ikut makan sama aku yuk" ajak Chika.
Setelah makan siang bersama teman-teman, Chika pamit pulang lebih dulu. Ia merasa tubuhnya sedang tidak enak badan.
Setelah sampai rumah, Chika memilih untuk mandi terlebih dahulu dan tertidur. Chika menarik selimut tebalnya dan meringkuk di atas kasur.
"Putri" panggil seseorang.
Chika terbangun begitu mendengar seseorang memanggil namanya dengan sebutan Putri. Hanya Theo yang memanggilnya seperti itu.
"Theo, kamu disini?" tanya Chika sambil mencari-cari keberadaan Theo.
Theo datang mendekati Chika. Chika dapat melihat sosok Theo yang semakin tampan. Wajahnya yang selalu tersenyum dan bercahaya.
"Kamu Theo? Theo suamiku?" Chika dapat menyentuh wajah Theo. Lalu memeluknya.
"Aku sangat merindukanmu. Tak bisakah kamu kembali atau reinkarnasi gitu dengan kamu yang utuh seperti ini? Aku bisa menunggumu" kata Chika.
"Lupakan aku Putri, perjalananmu masih sangat panjang. Kamu tak perlu menungguku. Bahagia lah dengan yang lain" ucap Theo sambil tersenyum.
"Tidak, aku masih ingin terus bersamamu" Chika semakin mengencangkan pelukannya.
"Maaf, aku harus pergi Putri. Lupakanlah aku dan bahagia lah bersamanya. Aku akan bahagia jika kamu juga bahagia" ucap Theo.
Semakin lama bayangan Theo semakin menghilang. Chika terus berteriak memanggil-manggil nama Theo.
Bik Tina yang mendengar teriakan Chika langsung memanggil Mama Maya dan Mama Ratna yang sedang ngobrol di taman belakang. Mama Maya langsung loncat pergi ke kamar Chika bersama Mama Ratna.