To Be A Continue

To Be A Continue
Bubur Ayam?



Setelah berhari-hari menikmati buah Strawberry hasil petikannya. Alvaro dapat tidur kembali di kamarnya.


Chika sudah berbalut piyama berwarna birunya. Sedang asik menikmati channel TV favoritnya. Alvaro yang baru selesai mandi mulai mengganggu Chika dengan ciuman manja.


Alvaro melanjutkan pemanasan sebelum berolahraga berat. Chika pun menikmati permainan Alvaro.


"Bun, kangen" Alvaro berubah menjadi sangat manja. Baru saja Chika menganggukkan kepalanya. Alvaro sudah melanjutkan kegiatannya.


Suara nikmat Chika dan Alvaro tertutup oleh suara TV yang masih menyala. Setelah kegiatan itu selesai. Chika dan Alvaro membersihkan tubuh mereka masing-masing. Lalu, Chika tertidur di samping Alvaro yang masih asik menonton siaran balap motor.


Alvaro mengelus kepala Chika dan tersenyum. Lalu, Alvaro mengelus perut Chika yang sudah membesar.


"Anak-anak hebat ayah. Kalian hebat ya gak banyak ngidam. Cukup ngidam Strawberry aja ya Nak" tiba-tiba Chika terbangun.


"Ay, Bun mau makan bubur ayam sekarang!" pinta Chika. Alvaro kaget mendengarnya.


"Astaga Nak, baru aja bapakmu ini ngomong" Alvaro menepuk jidatnya.


"Udah jam 11 malam sayang. Mana ada tukang bubur ayam jam segini?" ucap Alvaro.


"Tapi aku maunya sekarang Ay!" Chika menekankan bicaranya


"Kalo gak mau ya udah. Kamu tidur di luar lagi sana!" ucap Chika.


"Ya udah iya. Biar aku cari dulu ya keluar" jawab Alvaro


"Kacangnya harus ganjil, ayam suwir Nya juga harus ganjil kaldu ayamnya cukup tiga tetesan aja. Aku juga gak mau pakai kecap ya" pesan Chika ke Alvaro.


Alvaro segera mengambil jaketnya dan keluar. Ia meminta Rino untuk menemaninya. Alvaro tertidur selama pencarian bubur. Sudah satu jam Rino memutari kota untuk mencari tukang bubur ayam yang buka.


Alvaro terbangun dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 00:15 WIB. Rino belum juga menemukan tukang bubur.


"Belum bos, tadi saya sempat ketemu. Cuma gak ada sayurnya sama kerupuk" jawab Rino.


"Putar balik! kita ke sana!" perintah Alvaro


"Ke sana mana ya bos?" tanya Rino bingung.


"Ya ke tempat tadi Rino!" Rino segera membanting stir Nya dan tancap gas ke arah tukang bubur yang berada di dekat stasiun.


Alvaro tidak ingin memusingkan dirinya. Ia meminta pada pedagangnya agar toppingnya di pisah satu-persatu. begitupun dengan kuah kaldunya.


Setelah mendapatkan bubur ayamnya. Alvaro kembali tidur hingga sampai depan rumah.


"Terima kasih Rin. Kamu boleh pulang sekarang dan beristirahat. Hari ini saya izinkan kamu untuk libur" kata Alvaro.


Alvaro masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke dapur. Di sana ia menyiapkan mangkuk dan menuangkan buburnya. Ia juga menaburkan kacang dan ayam sesuai permintaan sang istri.



Alvaro membuka pintu, terlihat sang istri yang sudah tertidur pulas. Alvaro meletakkan bubur ayam tersebut di meja bulat yang ada di kamarnya.


Alvaro duduk di samping Chika sambil mengusap lembut rambutnya. Ia tersenyum melihat paras istrinya yang manis dan cantik. Ia mendekati wajah sang istri. Berniat ingin mengagetkan Chika, malah dirinya yang kaget begitu melihat mata Chika terbuka lebar.


"Udah pulang Ay?" wajah Chika menegang melihat wajah Alvaro yang sangat dekat dengannya.


"Mana buburnya?" Chika langsung menagih permintaannya.


Alvaro mengambilkan buburnya dan menyuapi Chika. Tapi, baru saja tiga suapan. Chika menyudahi makannya.


"Udah kenyang Ay" dengan nada manjanya.