To Be A Continue

To Be A Continue
Waduh?



Selama seminggu Chika di sibukkan dengan pekerjaannya. Penggabungan Talent mendiang Papa Ben dengan Talent Chika membuat dirinya sibuk dengan menumpuknya pekerjaan. Chika benar-benar sangat membutuhkan bantuan tenaga kerja.


Chika berinisiatif untuk mengajak sahabatnya. Hanya saja Chika akan merasa tidak enak pada Tuan Ebrahim.


Tok,, Tok,, Tok,,


"Chik, kamu gak makan siang?" tanya Jordan.


"Aku masih kenyang. Banyak sekali yang harus aku kerjakan" jawab Chika sambil membolak-balik kertas.


"Kamu mau apa biar aku bawakan?" Jordan duduk di kursi yang ada di depan Chika.


"Gak usah Jo. Oh iya, mulai bulan depan kamu sudah tour ke berbagai kota ya. Persiapkan diri kamu dan jaga kesehatan. Jangan sampai drop" perintah Chika.


"Jo, tolong panggilkan Gen Band kesini ya. Sekalian sama Manager mereka si Deni" lanjut Chika.


Baru saja Jordan ingin membuka pintu, pintu sudah terbuka lebih dulu. Jordan menunduk hormat.


"Tuan Ebrahim, Nyonya Hani. Silahkan masuk" Chika terkejut dengan kedatangan Tuan Ebrahim dan istrinya.



Chika merapikan meja tamu yang ada di ruangannya. Lalu menghubungi sekertaris untuk membawakan minum untuk tamunya.


"Maaf nih lagi berantakan ruang kerja saya" Chika memberikan berkas-berkas milik mendiang mertuanya pada asistennya Wenda.


"Kami yang minta maaf datang dadakan seperti ini" ucap Tuan Ebrahim.


Sekertaris Chika masuk bersamaan dengan anggota Gen Band. Chika semakin merasa ruwet.


Chika kembali ke mejanya dan berbincang pada semua anggota Gen Band. Chika mengucapkan selamat atas kesuksesan konser mereka. Sebagai hadiahnya, mereka dapat menikmati liburan.


Belum selesai dengan Gen Band, Sekertaris Chika masuk dan mengabarkan berita buruk. Kepala Chika semakin terasa ingin pecah. Seketika emosi Chika meningkat.


"Panggil Manager Vivi untuk menghadap ke saya!" Manager Vivi adalah Manager dari Intan.


Manager Vivi ternyata sudah berada di depan ruangan Chika. Begitu merasa dirinya di panggul Vivi langsung masuk ke ruangan.


"Vivi! Saya tidak mau tahu! Kamu harus menyelesaikan permasalahan Intan bagaimanapun juga!" Melihat keruwetan Chika Tuan Ebrahim dan Nyonya Hani meminta air dingin ke sekertaris Chika.


Setelah semua sudah keluar, Chika meminta Asistennya untuk menggantikannya sementara. Lalu, bergabung bersama Tuan Ebrahim dan Nyonya Hani.


"Lebih baik kamu minum dulu ya Mrs. Chika" Nyonya Hani memberikan segelas air dingin pada Chika.


"Panggil saja Chika Tuan" kata Chika.


"Jadi begini Nak Chika, Jujur saja ya maksud kedatangan saya kesini ingin membicarakan tentang Angela dan Alvaro" seketika jantung Chika seperti berhenti berdetak.


Tuan Ebrahim memberitahu apa yang mereka ketahui dari pengakuan Alvaro. Mereka meminta maaf atas perbuatan Alvaro. Bahkan Nyonya Hani sampai berlutut di hadapan Chika.


"Nyonya, saya mohon jangan seperti ini. Bangunlah Nyonya" Chika mencoba mengangkat tubuh Hani.


"Tidak sepenuhnya ini kesalahan Alvaro Nyonya. Saya yang memutuskan untuk tidak mengatakannya pada Alvaro" jelas Chika.


Chika menjelaskan penyebab kenapa ia tidak ingin memberi tahu Alvaro. Memang ia benci pada Alvaro. Tapi ia benci ketika ia mengingat kejadian dulu saat Alvaro meninggalkan dirinya. Kejadian di Bali juga membuatnya sedikit bertambah kebenciannya. Namun saat Angela lahir, kebencian itu menghilang.


Chika pun mengungkapkan ketakutannya pada Nyonya Hani dan Tuan Ebrahim. mendengar ungkapan Chika Tuan Ebrahim tertawa dan menjelaskan bahwa dirinya siap untuk menerima Chika dan juga Angela.