
Seminggu Chika terbaring di rumah. Kini Chika kembali beraktifitas. Mama Ratna sudah kembali di jemput oleh Papa Ben. Pagi ini Chika membuatkan menu sarapan untuk semua.
Chika sampai di sekolah di sambut oleh ketiga temannya. Suasana ruangan menjadi heboh saat kedatangan Chika.
"Chika! ah, kangen banget aku sama kamu. Pokoknya pulang kerja kita wajib ke Cafe Olivier" ucap Gita.
"Chika, kamu tau gak? Joshua tuh bawel banget. Tiap hari gelisah gak liat kamu" lanjutnya lagi.
"Sudah, sudah. Kalian tuh gak ada Chika aja diem. Pas udah ada Chika berisik banget sih" kata Joshua.
Chika beberes dan siap ke kelas bersama kedua temannya. Walaupun kondisinya masih belum sepenuhnya pulih, Chika masih tetap semangat.
Sepanjang pelajaran Chika dan teman-teman selalu memberi keceriaan bagi anak-anak. Itu kenapa kepala sekolah mereka memasangkan ketiganya dan di tempatkan di kelas tersebut.
Tanpa sepengetahuan yang lain, Alvaro sedang memandang Chika yang penuh keceriaan. Meski ia tahu bahwa tempatnya bekerja di pimpin oleh sang mantan. Mantan yang dulu menyakiti hatinya. Chika tetap merasa nyaman dan senang bekerja di tempat itu.
Alvaro kembali ke ruangan. Di dalam ruangan, Alvaro membuka laci di dekatnya dan mengeluarkan sebuah foto. Ia memandangnya sambil tersenyum.
Foto tersebut adalah foto Chika saat sedang bersamanya. Dengan senyuman cerianya dan mengedipkan sebelah matanya. Membuat Chika tampak manis sekali.
Sepulang kerja, Chika bersama kedua temannya pergi ke Cafe miliknya. Begitu sampai, seperti biasa Chika dan temannya di sambut oleh pelayan di sana.
Mereka langsung memesan kue dan minuman. Melihat sang anak datang, Papa Heru langsung menghampiri Chika.
"Teman-temannya Chika ya? Sini, sini. Duduk" Papa Heru membersihkan satu meja untuk Chika dan temannya.
Papa Heru sering membantu seluruh karyawan di sana. Apalagi disaat ramai pengunjung. Papa Heru akan menjadi apa saja yang di butuhkan oleh karyawannya.
"Chik, kayaknya Joshua tuh suka deh sama kamu" ucap Rika.
"Iya Chik, tau gak? pas kamu gak masuk dia itu gelisah banget. Nanti sesekali dia bawa laptopnya terus kerja di tempat kamu" sambung Gita.
"Eh, eh bukannya itu Pak Alva ya?" Gita menunjuk ke salah satu pengunjung.
"Ih, iya. Ngapain ya dia disini?" tanya Rika.
Chika yang tahu Alvaro ada di cafe tersebut hanya merasa biasa saja. Bahkan Chika tidak ikut bergosip sama temannya. Chika hanya menikmati es teh manis yang selalu enak. Es teh manis ini juga yang mempertemukannya dengan mendiang suaminya.
"Eh, besok Joshua ultah loh. Kita buat surprise yuk" ajak Rika.
"Boleh tuh" sentak Gita. Membuat beberapa orang menoleh, termasuk Alvaro.
Alvaro melihat Chika bersama teman-temannya. Lalu, ia menghampirinya. Begitu sudah di meja Chika, Alvaro melambaikan tangannya dan duduk di samping Chika.
"Hai, kalian kesini juga?" tanya Alvaro.
"Iya pak, Chika yang merekomendasi tempat ini" jawab Rika.
"Bapak suka kesini juga?" tanya Rika.
"Gak usah panggil saya Bapak kalo di luar. Usia kita gak jauh beda kok" jawab Alvaro.
"Saya gak terlalu sering kesini. Hanya saat merindukan seseorang saja saya kesini" lanjutnya lagi.
Chika berhenti menyedot es teh manisnya. Dia menatap Alvaro. Apakah yang ia maksud dirinya? tapi bisa saja ada perempuan lain. itulah yang ada di pikiran Chika.