To Be A Continue

To Be A Continue
Dinner



Hari-hari terindah mereka lalui bersama. Canda tawa telah mewarnai kehidupan rumah tangga mereka. Tak terasa pernikahan mereka menginjak usia satu tahun.


Theo selalu memperlakukan Chika seperti Tuan Putri. Chika merasa sangat bahagia berhasil mencintai Theo dan Theo semakin bahagia telah berhasil membuat Chika cinta padanya.


"Sayang, nanti malam kamu tidak usah masak ya. Love You" pesan Theo saat Chika keluar dari mobilnya. Tidak lupa Theo memberikan kecupan manja di bibir Chika.


Pipi Chika memerah, Chika melambaikan tangannya saat mobil Theo mulai melaju. Baru saja Chika hendak sampai ke pintu gerbang sekolah terdengar suara anak yang tak asing di telinganya.


"Bu Chika!" teriak Airin keluar dari mobil. Airin lari menghampiri Chika.


"Bu guru tunggu aku!" hampir saja Airin terjatuh akibat lari menghampiri Chika. Namun Airin berhasil menyeimbangi tubuhnya hingga tidak terjatuh.


"Airin, kenapa lari-lari? Kan ibu nunggu Airin disini" ucap Chika yang berhasil menangkap pelukan Airin.


"Airin, jangan berlari-lari gitu ah. Nanti kamu bisa jatuh" Mama Airin menghampiri mereka berdua.


"Maaf ya Bu, anak saya memang begitu" kata sang mamanya.


"Tidak apa-apa Mam, namanya juga anak-anak gak bisa di larang" ucap Chika sambil tersenyum.


Lalu Chika mengajak Airin masuk ke dalam sekolah. Tak lupa Airin memberi salam pada kedua orang tuanya.


Sore hari, seorang anak buah Theo mengantarkan paket yang berisi Dress putih yang sangat cantik.


Setelah mandi, Chika membuka kotak tersebut dan mengenakan pakaian yang telah di berikan oleh Theo.


Tak lama ponsel Chika berdering. Terlihat dari layar ponsel nama Theo yang di tulis dengan sebutan "My Love". Chika tersenyum bahagia.


Setelah rapi dengan dress putih dan heels silver yang membuatnya semakin cantik. Chika turun dari kamarnya dan menghampiri supir yang sudah siap mengantarkannya ke tempat yang telah di reservasi oleh Theo.


Chika di antar ke Rooftop resto tersebut. Chika menaiki anak tangga dengan di iringi melodi biola yang di mainkan oleh pelayan khusus di restoran tersebut.



Begitu sampai di atas, Chika melihat seorang yang ia kenal dengan menggunakan setelan jas hitam yang membuatnya semakin gagah dan tampan.


Chika kini berada di depan Theo. Theo segera berlutut di depan Chika lalu, memperlihatkan buket bunga mawar merah yang besar. Setelah Chika mengambil buket bunga yang di beri Theo, Theo mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


"Putri, mungkin ini terlambat. Terima kasih kamu sudah bersedia membuka hatimu untukku dan mencintaiku" ucap Theo sambil memasangkan cincin di jari manis Chika.


Malam ini suasana begitu romantis. Bunga, melodi, cincin dan juga suasana yang romantis. Setelah mereka menikmati makanan, sebelum pulang mereka berfoto ria.



Saat sampai parkiran, Chika merasa sesuatu tertinggal di atas.


"Sepertinya ponselku ketinggalan. Aku ambil dulu ya" sambil merogoh tasnya.


Saat hendak menyebrang, Chika tidak melihat ke jalan. Sinar lampu yang menyorotnya dan suara gas mobil membuat Theo menghampiri Chika.


"Putri awas!" Theo mendorong Chika menjauh.


Bugh~


Theo terlempar jauh akibat dorongan dari mobil hitam yang menabraknya. Chika terkejut melihat Theo.


"Theo!" Chika teriak histeris dan menghampiri Theo.