
Alvaro dan Chika sedang menikmati hembusan angin di taman belakang rumah mereka. Chika sudah menyediakan macam-macam buah potong dengan garpu cantik. Sesekali Chika menyuapi Alvaro yang sedang asik baca Novel.
"Udah ah, makan sendiri aja." Chika kesal.
"Kenapa sih sayang?" Alvaro menahan tangan Chika.
"Dari tadi kamu cuma fokus sama ponsel aja." jawab Chika.
"Ini seru loh sayang, Cerita-cerita di novel ini tuh seru-seru banget." sambil menunjukkan ke Chika.
"Eh tapi jangan deh. Kalo kamu baca cerita di novel ini yang ada nanti kamu malah jatuh cinta sama karakter di novel ini." lanjut Alvaro.
"Coba mana sini aku lihat?" Chika mencoba merampas ponsel yang ada di tangannya Alvaro.
"Jangan sayang, apalah aku yang gak seperti mereka. Nanti aku cemburu lihat kamu senyum-senyum sendiri." Alvaro menutup layar ponselnya.
Kini wajah mereka saling berdekatan. Saling tersenyum dan saling menatap satu sama lain.
"Aku beruntung bisa mendapatkan kamu kembali." ucap Alvaro yang berada di atasnya.
"Aku gak menyangka bisa kembali sama kamu lagi. Ternyata rahasia Tuhan tidak ada yang tau." balas Chika.
"Aku rasa Tuhan selalu berpihak padaku. Dia membukakan jalan untukku kembali bersamamu." Alvaro membelai rambut Chika.
"Ayah! Bunda!" teriak salah satu anak mereka.
"Dan dia pemersatu kita." lanjut Alvaro.
Angela yang datang tak mengubah kedekatan kedua orang tuanya. Bahkan sesekali Alvaro mencium Chika di hadapannya.
"Kamu kenapa datang sekarang sih?" Alvaro merapikan bajunya yang sedikit terlipat.
"Ayah, Om Rino kemana sih? Seharian gak datang ke resto. Aku kan jadi repot sendiri." tanya Angela.
"Loh, hari ini kan jadwalnya dia libur nak. Jelas saja dia gak ke Resto." jawab Alvaro dengan santai.
Tak lama ketiga anak kembar mereka datang secara bersamaan. Menambah suasana semakin ramai.
Setelah lulus sekolah, Chika dan Alvaro meminta anak-anak mereka tinggal terpisah dengannya. Anak-anak mereka menempati rumah Chika peninggalan mantan suaminya.
Setiap Minggu secara bergantian mereka mengunjungi rumah orang tua Alvaro dan orang tua Chika. Dan itu wajib di adakan. Sesibuk apapun anak-anak mereka harus menyempatkan waktu untuk kumpul bersama keluarga.
"Bun, Dami ingin merenovasi suasana Cafe boleh gak?" tanya Dami mengajak diskusi bersama sang bunda. Chika pun mengizinkan semua keputusan Dami. Kecuali mengubah nama dan ciri khas dari Cafe tersebut.
Tak lama, Dita yang masih sibuk dengan tabletnya meminta pendapat bundanya sambil menunjukkan isi tabletnya. Sesekali Chika menunjuk ke arah tablet Dita. Rupanya Dita sedang mencari talent baru untuk menggantikan talent senior yang sudah mampu berdiri sendiri.
Setelah selesai, Chika pergi ke dapur untuk mempersiapkan makan malam. Chika di bantu oleh Arin untuk menyiapkan makan malam.
Usai makan malam, keempat anak mereka pulang bersama-sama ke rumah mereka. Rumah pun kembali terasa sepi begitu anak-anak mereka pulang.
"Perasaan tadi ramai ya. Sekarang sudah sepi lagi begitu mereka pulang." kata Chika.
"Gak terasa ya mereka sudah tumbuh dewasa dan mandiri. Perasaan baru kemarin aku gendong-gendong mereka." lanjutnya.
"Terima kasih ya sayang, kamu telah melahirkan anak-anak hebat seperti mereka. Berjuang untuk melahirkan mereka." Alvaro memeluk Chika erat.
"Siapa dulu yang punya bibit?" Lirikan Chika membuat Alvaro menciumnya tanpa henti.