
Pandangan mereka saling bertemu. Hanya saja, Chika lebih terkejut dibanding orang yang kini berada di hadapan Chika. Orang itu memberikan senyuman manisnya ke Chika. Seketika Chika tersadar dari lamunannya.
"Hai" orang itu tersenyum ke Chika.
"Kenalkan ini para guru baru kami, Bu Chika sudah satu tahun di sini dan yang di sana ada Bu Rika dan juga Bu Gita. Mereka mengajar di kelas Kinder garten" Kepala sekolah menjelaskan ke Ketua Yayasan.
"Bu Rika, Bu Gita. Saya pinjam Bu Chika sebentar ya. Mari Bu Chika temani saya" kata kepala sekolah.
"Oh, ini yang namanya Chika, yang anda usulkan ke saya" ucap Tuan Ebrahim.
"Iya Pak, kebetulan saat Chika datang ke yayasan ini. Anak-anak langsung menyukai Chika dan cocok dengannya. Mungkin nanti akan menjelaskan macam-macam karakter anak yang ada disini" ucap kepala sekolah.
Mereka kembali berjalan menyusuri lorong kelas dan memasuki satu persatu kelas. Di kelas berikutnya siswa sudah mempersiapkan kreasi Hati yang terbuat dari origami dan di tempel di stik kayu.
Setiap kelas berbeda pemberiannya dan itu masih dengan kreasi siswa masing-masing. Chika masih merasa canggung saat berjalan di samping orang itu.
Ketua Yayasan berhenti sejenak di taman. Pak Ebrahim melihat ke sekeliling taman dan lapangan yang berada berdampingan.
"Tamannya masih terlihat asri ya. Membuat anak menjadi lebih nyaman" ucapnya.
"Ah, Bu Chika. Perkenalkan saya Ketua Yayasan disini. Anda bisa memanggilku dengan sebutan Ahim atau Pak Putra" lanjut Pak Ebrahim.
"Oh iya, saya hampir lupa. Perkenalkan, ini anak saya yang akan menggantikan saya mengurus Yayasan ini. Maklum sudah tidak muda lagi, jadi saya membutuhkan bantuan anak-anak saya. Kenalkan ini anak pertama saya bernama Alvaro Shareef Ebrahim bisa anda panggil dengan sebutan Alva atau Shareef, " jelasnya Pak Ebrahim. Sambil tersenyum.
Pak Ebrahim dan juga istrinya memang di kenal sangat ramah. Itu mengapa seluruh karyawan yang bekerja di Perusahaan miliknya senang dan nyaman dengan sosok Ebrahim.
"Ayah, kami sudah saling kenal" ucap Alvaro pada ayahnya.
"Oh bagus kalau begitu. Jadi kalau ada kesulitan kamu bisa minta tolong ke Bu Chika. Bukan begitu Bu?" Pak Ebrahim tersenyum ke Chika.
"Opa, Arin mau ketemu Airin" gadis mungil yang berada di gendongan Alvaro merengek untuk bertemu sepupunya.
"Yuk, kita ketemu Airin. Bu Chika, boleh saya izin membawa cucu saya Airin?" Pak Ebrahim meminta izin pada Chika selaku guru Airin.
"Jika Airin sudah menyelesaikan tugas belajarnya, maka akan saya izinkan Pak Ahim" jawab Chika.
Mereka kembali masuk ke dalam gedung sekolah dan datang ke kelas Airin. Terlihat Airin sedang mendengarkan arahan dari kedua gurunya.
"Bagaimana Cucu saya saat di kelas Bu?" tanya Pak Ebrahim.
"Airin anak yang periang, dia senang sekali belajar. Apalagi jika pelajaran yang baru ia ketahui. Hanya saja, Airin belum bisa beradaptasi dengan teman-temannya. Sehingga Airin hanya berteman dengan kami para gurunya" jawab Chika.
Pak Ebrahim tersenyum melihat tingkah cucunya. Beliau begitu menyayangi cucu-cucunya.
"Saya dengar, anda baru saja berduka" ucap Pak Ebrahim.
"Saya turut berduka cita ya Bu Chika. Semoga kelak anda akan mendapatkan penggantinya" lanjutnya.