
Keesokan harinya Chika, Mama Maya, Papa Heru, Angela dan seluruh karyawan Papa Ben berdatangan di rumah duka.
Chika tak mampu menahan kesedihannya. Apalagi saat Sang mertua tertimbun oleh tanah. Tubuh Chika merasa sangat lemas. Dari kemarin Chika belum sempat makan.
Kebaikan sang mertuanya masih terlintas di dalam benaknya. Begitu cepat mereka pergi meninggalkan Chika. Yang mampu menerima Chika bahkan saat sang anak pergi untuk selamanya mereka masih menyayangi Chika. Disaat Chika hamil tanpa suami mereka juga bantu merawat dan menghibur Chika dan disaat Angela lahir mereka pun menerima Angela sebagai cucunya dengan sangat baik. Hal itu yang membuat Chika tak kuasa menahan tangis. Chika yang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Karena kebaikan mereka yang membuat Chika sukses seperti saat ini.
Seluruh karyawan dan kerabat telah pergi meninggalkan rumah abadi mertua Chika. Hanya Chika yang masih bertahan. Chika masih belum sanggup untuk pergi meninggalkan mereka.
Ada Rika dan Gita yang menemani Chika. Mereka menunggu Chika dari belakang. Rika mendatangi Chika yang masih menangis di pusaran sang Mertua.
"Sudah yuk Chik, ikhlaskan. Ikhlaskan mereka, mereka sudah bahagia di sana. Bahagia bertemu dengan anaknya" ucap Rika.
"Tapi Rika, aku masih belum sanggup kehilangan mereka. Mereka udah aku anggap seperti orang tuaku. Sama seperti mereka yang sudah menganggap ku sebagai anak mereka. Mereka terlalu baik Rika" ucap Chika.
"Tapi mau sampai kapan kamu disini Chika? Mereka hanya butuh keikhlasan kamu dan doa kamu Chik. Mau kamu sampai nangis darah pun mereka gak akan kembali" kata Gita.
Rika dan Gita membantu Chika untuk bangkit dan membawa paksa Chika. Saat perjalanan ke mobil, Mereka bertemu Alvaro. Rika dan Gita berhenti.
"Chika" sapa Alvaro.
"Pak Alva!" Spontan Gita memanggil Alvaro ketika Chika tiba-tiba jatuh pingsan.
Alvaro membopong Chika masuk ke dalam mobil. Gita membawa mobil di ikuti Alvaro dari belakang. Saat sampai rumah, Alvaro membawanya ke kamarnya.
"Bunda, Aunty bunda kenapa tidur?" tanya Angela.
"Bunda sedang kelelahan sayang. Aunty boleh minta tolong sama Angela?" ucap Rika.
"Apa aunty?" tanya Angela.
Alvaro menatap gadis kecil yang tadi ada di hadapannya. Hingga gadis kecil itu keluar kamar. Mama Maya pun datang ke kamar Chika.
"Rika, Gita. Chika kenapa?" tanya Mama Maya yang panik melihat Chika tertidur.
"Chika tadi pingsan tante pas mau ke mobil" jawab Gita.
"Iya Nak, Chika dari kemarin belum sempat makan sampai sekarang" Mama Maya menatap wajah Alvaro.
"Mamay, Aunty. Ini air putihnya" dengan tangan mungilnya Angela memegang gelas plastik yang berisi air putih.
"Om, mau minum juga?" Angela menawarkan minuman pada Alvaro. Alvaro terpaku mendengarnya.
"Om" panggil Angela.
"Em Pak Alva" Gita berhasil memecahkan lamunan Alvaro.
"Itu, di tanyain dari tadi juga" lanjut Gita.
"Ah, tidak terima kasih gadis cantik" jawab Alvaro.
"Kalau begitu saya mohon pamit" lanjutnya. Mama Maya dan Angela ikut mengantar Alvaro keluar.
Saat sampai di luar Alvaro kembali berpamitan pada Mama Maya.
"Wajah kalian mirip ya" Mama Maya secara bergantian menatap wajah Alvaro dan Angela. Alvaro hanya dapat tersenyum saja. Karena ia belum bisa memastikan apakah itu darah dagingnya atau bukan.