
"Pergilah Alvaro! Aku tidak ingin melihatmu lagi!" ucap lirih Chika.
Alvaro masih menggenggam tangan Chika. Memohon maaf dengan apa yang telah ia lakukan pada Chika. Chika masih membuang pandangannya.
"Chika, aku mohon. Aku akui, aku salah. Aku mohon maafkan aku" Chika menarik tangan yang di genggam oleh Alvaro.
Alvaro pun tidak bisa memaksa Chika. Ia mengerti bahwa kini Chika semakin kecewa pada dirinya dan bahkan Chika semakin membencinya.
Sepanjang perjalanan, Alvaro terus memikirkan noda yang ia lihat saat ia terbangun tadi pagi. Jika Chika terluka pasti ada bekas luka.
***
Di hotel Gita dan Rika sudah khawatir sedari tadi Chika tidak membukakan pintunya dan tidak ada jawaban dari Chika. Berkali-kali Gita menghubungi Chika. Namun ponselnya selalu sibuk.
Di ruang perawatan Chika menghubungi Rika. Setelah berkali-kali tidak di angkat oleh Rika, Chika menghubungi Gita.
"Nah, Chika telepon tuh. Angkat Git" perintah Rika.
"Iya aku juga tau Rika" Gita mengangkat panggilan dari Chika.
Setelah mengangkat telepon dari Chika, Gita langsung menarik Rika dan lari. Gita mengangkat dress birunya.
"Gita? kita mau kemana? acaranya sudah mau di mulai" tanya Rika.
"Chika masuk rumah sakit" Rika kaget mendengarnya. Perasaan tadi malam tidak ada apa-apa.
Gita dan Rika langsung pergi menuju rumah sakit. Chika meminta mereka untuk menjemputnya.
Sesampai di rumah sakit, Gita langsung menghubungi Chika kembali. Namun tidak ada jawaban dari Chika. Gita bertanya ke tempat pendaftaran. Tidak ada yang bernama Chika atau Chika Putri ataupun Putri.
Terlintas satu nama di pikiran Rika. Tak sengaja nama itu keluar dari mulutnya dan perawat langsung mengecek nama tersebut.
Bingo~
"Di ruang Tulip VVIP ya Bu" ucap perawat tersebut.
"Gak tau, kita coba aja yuk tengok" Mereka langsung ke ruang tersebut.
Dan ketika mereka sampai di depan ruang Tulip, Gita membuka pintu sedikit dan mengintip.
"Astaga!"
"Chika!" Gita terkejut saat Chika juga terkejut. Bagaimana tidak kaget? begitu keluar kamar mandi Chika di kejutkan oleh Gita yang sedang mengintip.
"Kamu ngapain begini coba? Masuk sini!" ucap Chika.
Gita dan Rika pun langsung masuk ke dalam. Gita mendorong Chika sedangkan Rika membawakan kantung infus Chika. Mereka seakan ingin menginterogasi Chika.
"Kalian kenapa sih?" Chika heran dengan sikap teman-temannya.
"Ah iya, kalian tunggu cairan infusan ini habis ya. Aku tadi sudah meminta dokter untuk pulang sekarang juga" Gita dan Rika masih sibuk menatap Chika dengan tatapan tajam mereka.
"Kalian ada apa sih?" tanya Gita.
"Maaf aku dadakan. Aku juga gak tau kalau di haruskan di rawat" Chika merasa alasan tersebutlah yang sahabatnya nantikan. Namun ternyata tatapan mereka masih sama.
"Oh, bukannya aku gak mau minta antar kalian. Tapi"
"Tapi sudah keburu di antar oleh Pak Alva?" sambung Gita.
"Loh, kok mereka tahu aku bertemu dengan dia? atau jangan-jangan" batin Chika.
"Bukan gitu Gita. Tadi tuh"
"Tadi pas kamu mau ke rumah sakit udah keburu ketemu Pak Alva gitu? secara tiba-tiba kalian bertemu gitu maksud kamu?" sambung Rika.
"Ah, iya begitu" Chika membenarkan ucapan Rika.
"Tunggu, kok aku merasa bukan seperti itu ya?" Gita meragukan itu.
"Ada hubungan apa kamu sama Pak Alva?" tanya Rika.