To Be A Continue

To Be A Continue
Cinderamata?



Kinerja Fara semakin baik. Ia bahkan berhasil menaikan rating acara yang baru di kembangkan oleh Laras. Semua berjalan dengan sangat lancar. Kekhawatiran Chika terhadap Fara sudah menghilang. Ia percaya Fara tidak akan berbuat licik padanya.


Kini Chika berada di ruangannya. Chika membawa Angela yang sedang libur sekolahnya. Sedangkan ketiga adiknya berada di rumah mertua.


"Iya masuk" Chika meminta seseorang yang mengetuk pintunya untuk masuk.


"Vian" sapa Chika.


"Ada apa Vi?" tanya Chika.


"Kak, itu ada karyawan baru ya?" tanya Vian.


"Karyawan baru? yang mana?" Chika bertanya balik.


"Itu, yang ada di ruang MSM" Vian mendeskripsikan orang yang ia maksud.


"Oh itu, iya. Ada masalah apa sama dia Vi?" Chika mengerti yang di maksud oleh Vian.


"Aku boleh minta biodata dia gak?" Vian nampak mencari tahu tentang Fara.


"Buat apa?" tanya Chika.


"Gak buat apa-apa kak. Aku cuma mau tau aja. Kan satu perusahaan masa gak tau semua karyawan yang ada di sini." perkataan Vian membuat Wenda menoleh ke arahnya. Chika tertawa melihat mereka.


"Wenda gak kamu tau banget sampe minta biodatanya" canda Chika.


"Itu mah beda Kak. Liat tuh Wenda, baru di liat aja udah jutek banget tatapannya. Mana ada yang suka" jawab Vian.


Dari meja tempatnya duduk Wenda berteriak "Vian! Awas Lo ya!".


"Oh, jadi maksud kamu. Kamu suka gitu sama Fara?" tanya Chika sambil melempar senyumannya.


"Astaga kak, jangan gitu ah. Senyuman Kakak tuh bikin hati aku meleleh" masih sempat-sempatnya Vian menggombal Chika.


***


"Boleh ikut gabung?" tanya Vian.


"Oh, boleh banget" jawab salah satu teman baru Fara.


"Hai, aku baru pertama kali liat kamu." Vian mengulurkan tangannya. Namun Fara tidak menanggapinya.


"Far, kita duluan ya" kata salah satu teman Fara.


Suasana masih terasa canggung. Fara masih tidak menanggapi keberadaan Vian. Selesai makan Fara hendak beranjak dari tempatnya. Namun, tangannya tertahan oleh Vian.


"Ngapain sih?" tanya Fara. Fara melirik ke sekitar.


"Boleh kenalan?" Fara tak menyangka ada seorang artis yang ingin berkenalan dengannya.


"Duduk dulu dong" pinta Vian.


Fara pun duduk di kursi depan Vian. Awalnya Fara ragu, namun Vian selalu mencari topik untuk di bahas. Sehingga Fara menjadi mulai terbiasa ngobrol bersama Vian.


***


Sejak saat itu hubungan Vian dan Fara menjadi lebih dekat. Bahkan Vian lebih sering menemui Fara. Bagi Vian, Fara adalah tipe idealnya.


Setiap Vian ada acara di luar kota, ia selalu membawa oleh-oleh untuk Fara. Bahkan yang ia bawakan untuk Fara tidak sekedar cinderamata biasa. Vian selalu mendatangi pusat pembuatan cinderamata di setiap daerah yang ia kunjungi dan ia meminta di buatkan berbeda sesuai keinginan Vian. Terkadang ia juga ikut membuatkan atau mengukir cinderamata untuk Fara.


Vian mendatangi ruangan Chika. Ia membawakan oleh-oleh untuk Chika. Tak seperti biasanya. Chika yang sedang sibuk dengan komputernya menengok heran ke Vian yang datang sambil tersenyum.


"Duh, duh Wen. Liat deh, tumben-tumbenan ada yang datang kesini sambil senyum-senyum bawain kita makanan" canda Chika.


"Ada maunya tuh Bu." balas Wenda yang mengintip dari celah-celah.


"Ada apa?" tanya Chika.