
Papa Ben membawa Sandara ke pihak yang berwajib dan Mama Ratna membawa Chika kembali masuk ke dalam.
Tanpa mereka sadar sudah ada dua pasang mata yang sedari tadi mengintai mereka dari kejauhan.
Begitu Chika dan Mama Ratna pergi, kedua orang yang mengintai itu melajukan mobilnya dan pergi.
***
Kedua orang tadi memasuki halaman rumah mewah dan keluar dari mobilnya. Kini mereka melaporkan kejadian yang mereka lihat ke bos mereka.
Setelah melaporkan, mereka berdua kembali keluar dari ruangan tersebut dan pergi entah kemana.
***
Kasus Sandara berjalan dengan cepat dan Sandara berhasil di tahan. Kedua orang tua Theo merasa lebih tenang. Chika menangis terharu begitu Sandara berhasil di tangkap.
Chika pergi ke rumah abadi Theo. Di sana Chika kembali menangisi kepergian Theo. Demi menyelamatkan dirinya Theo harus pergi lebih dulu.
Chika berjalan di lorong pemakaman. Chika berjalan tapi pikiran Chika pun ikut jalan-jalan. Sehingga membuat Chika terpeleset karena tak melihat ada genangan air di depannya.
"Aduh, siapa yang naro air disini? Gak tau apa hati aku lagi sakit. Nambah sakit aja" Chika menangis dan melihat sekeliling. Untung tidak ada orang yang melihatnya.
Chika pulang ke rumah peninggalan Theo. Sudah ada mertua dan orang tuanya yang menunggu Chika.
"Kamu habis dari mana nak?" tanya Mama Ratna.
"Aku habis dari Theo ma" Chika tersenyum.
"Aku ikhlas ma. Semoga Theo bisa tenang di sana" ucapnya lagi.
"Mama juga udah ikhlas, mama tenang pelakunya sudah tertangkap. Tapi" Mama Ratna menghentikan bicaranya.
"Tapi siapa lagi yang bisa merawat mama sama papa kelak ketika kami tua" Mama Ratna merasa sedih mengingat kedepannya sudah tidak ada sang anak yang akan merawatnya nanti.
"Mama sama papa tenang aja ya. Selama masih ada Chika, sampai kapanpun Mama dan Papa juga orang tua Chika yang akan Chika jaga" Chika memeluk Mama Ratna.
"Tapi nanti kalau kamu menikah lagi. Pasti Mama sama Papa akan terlupakan" Mama Ratna merasa sedih lagi.
"Gak lah ma" Chika mempererat pelukannya.
Mama Maya, Papa Heru dan Papa Ben tersenyum melihat keakraban mereka. Mama Maya memang merasa sedih bukan hanya karena kepergian menantunya. Mama Maya juga sedih melihat anaknya kini berstatus janda. Tapi Mama Maya bangga Chika masih tetap bersedia merangkul mertuanya.
"Kita makan bersama yuk. Mama tadi sudah menyuruh Bik Ela masak buat kita" ucap Mama Ratna.
***
Pulang kerja, Chika mampir ke rumah orang tuanya. Chika memasak makanan kesukaan sang Papa. Setelah selesai masak, Chika membantu Mama Maya merapikan meja makan.
Chika dan Mama Maya menanti Papa Heru sambil menonton TV di ruang TV mereka. Terdengar suara pintu pagar terbuka. Mereka bersiap untuk menyambut Papa Heru.
Tiba Papa Heru membuka pintu, Chika dan Mama Maya tertawa menyambut Papa Heru. Tapi tidak dengan Papa Heru. Papa Heru menampakkan raut wajah sedih.
"Papa kenapa? Papa Capek? Chika baru saja memasak makanan kesukaan Papa loh" ucap Chika berupaya untuk membahagiakan hati Papa Heru.
"Papa di PHK ma" ucap Papa Heru.
"Perusahaan Papa gulung tikar ma" lanjutnya.
Chika memeluk Papa Heru. "Sudah, Papa gak perlu sedih kan ada Chika" jawab Chika.
"Tapi, bagaimana cara bayar kontrakan nanti? Sedangkan pesangon Papa juga tidak cukup" Papa Heru merenungkan kondisinya.