
"Theo!" Chika teriak histeris dan menghampiri Theo yang sudah tergeletak di jalan.
"Tolong!" teriakan Chika berhasil membuat orang-orang keluar dari Restoran tersebut.
"Theo! aku mohon bersabarlah. Kamu harus kuat Theo" Chika memeluk Theo yang sudah bersimbah darah. Dress putih Chika tak lagi berwarna putih. Melainkan berwarna merah.
Ambulans pun datang, Chika langsung masuk ke dalam ambulans dan duduk di samping Theo sambil menggenggam tangan Theo yang sudah terasa dingin.
"Putri! Putri" Theo memanggil Chika dengan lirih.
"Iya sayang, aku disini. Kamu kuat ya! kita akan sampai di rumah sakit sebentar lagi" Chika mempererat genggamannya.
"Putri, terima kasih kamu sudah mencintaiku. Sudah menjadi istri terbaikku. Terima kasih hari-hari indah yang kita lalui" ucap Theo dengan nada terbata-bata.
"Kamu kuat Theo! kamu harus bisa bertahan. Aku janji akan menjadi istri yang baik dan menjadi ibu yang baik untuk anak kita" Chika mencium tangan Theo.
"Aku, aku mencintaimu Putri. Lakukan apapun yang membuatmu bahagia" kata Theo sambil tersenyum.
"Maafkan aku, maafkan aku yang tak bisa menemanimu. Aku harus pergi" ucapnya.
"Gak! kamu gak boleh ninggalin aku Theo! aku mencintaimu! aku ingin selalu bersamamu!" Air mata Chika semakin membanjiri wajahnya. Chika memeluk Theo.
"Maaf" Tubuh Theo melemah dan semakin dingin.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, nyawa Theo tidak dapat tertolong. Theo meninggal dalam perjalanan. Chika menangis sambil memeluk tubuh Theo yang sudah tidak dapat bergerak lagi.
"Theo! aku mohon kamu sadar! jangan tinggalkan aku! aku mencintaimu Theo! aku ingin hidup lebih lama bersamamu!" Chika memeluk Theo sambil menggoyangkan tubuh Theo.
"Ma, pa. Theo sudah tidak ada! Theo pergi ninggalin Chika!" Chika tersungkur ke lantai. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Ia tidak menyangka bahwa ini adalah hari terakhir Theo berada di dunia.
"Ma, Pa. Bantu Theo! Bantu dia agar bisa bangun ma! Chika gak mau kehilangan Theo!" ucapnya.
Theo segera di mandikan dan di rapikan langsung oleh petugas rumah sakit. Chika tak kuasa menahannya. Chika jatuh pingsan di pelukan orang tuanya. Sudah beberapa kali Chika jatuh pingsan.
Pagi hari, sinar mentari masuk menembus jendela rumah. Chika masih setia berada di samping Theo yang sudah tidur di dalam peti.
Tiada hentinya Chika menangisi kepergian Theo. Begitupun orang tua Theo. Theo merupakan anak satu-satunya mereka. Ia tidak menyangka bahwa anak mereka lebih dulu pergi.
"Ikhlaskan kepergian Theo ya nak. Biarkan Theo pergi dengan tenang" ucap sang ayah mertua.
Sanak saudara dan kerabat dari Theo juga Chika berdatangan. Gita, Rika dan juga Joshua datang menghadiri ke tempat peristirahatan terakhir Theo.
Usai pemakaman berakhir Chika masih terduduk di gundukan tanah tempat Theo beristirahat.
Seorang anak kecil menghampiri Chika. Mengulurkan tangannya ke arah Chika.
"Bu Guru, jangan menangis lagi ya. Ada Airin yang akan temani Bu Guru" ucap gadis kecil yang berada di depan Chika.
"Terima kasih ya gadis kecil" ucap Chika.
Teman-teman Chika menghampiri Chika dan membantu Chika untuk berdiri dan mengantarkannya pulang.
Di rumah sudah ada kedua orang tua Theo dan juga orang tua Chika. Mereka sudah mengikhlaskan kepergian Theo. Menangis tak akan membuat anak mereka kembali.