To Be A Continue

To Be A Continue
Gejala Tipus



Bik Tina yang mendengar teriakan Chika langsung memanggil Mama Maya dan Mama Ratna yang sedang ngobrol di taman belakang. Mama Maya langsung loncat pergi ke kamar Chika bersama Mama Ratna.


"Chika, Nak" Chika tidak juga terbangun. Mama Maya menyentuh kening Chika.


"Panas Jeng, gimana ya?" tanya Mama Maya.


"Aku hubungi dokter dulu ya" Mama Ratna langsung mengambil ponsel di sakunya dan menghubungi dokter pribadi mereka.


Sambil menunggu dokter datang, Bik Tina mengambil air untuk mengompres kening Chika. Mama Maya dan Mama Ratna menunggu di kamar Chika. Sesekali Chika menyebut nama Theo.


Dokter menjelaskan bahwa Chika mengalami gejala Tipus yang disebabkan karena kelelahan. Di tambah, lambungnya sedang bermasalah yang bisa di sebabkan karena pola makan tidak teratur atau makan minum sembarangan yang dapat menyebabkan lambung infeksi.


Dokter menyarankan agar Chika tidak beraktifitas berat dulu. Sampai kondisinya benar-benar sehat dan tidak boleh makan sembarangan terlebih dahulu.


Mama Ratna yang tadinya sudah menghubungi Papa Ben untuk menjemputnya, kini ia meminta izin ke Papa Ben untuk menginap di rumah Chika. Ia ingin ikut menjaga dan merawat Chika sampai Chika sehat. Ia juga sedih melihat Chika yang masih merindukan anaknya.


Mama Ratna menginap di kamar Chika. Tertidur di samping Chika sambil menggenggam tangannya. Saat tengah malam, Chika terbangun sambil meneriakkan nama Theo. Membuat Mama Ratna ikut terbangun.


"Kamu kenapa nak?" tanya Mama Ratna.


"Theo Ma" Chika memeluk Mama Ratna.


"Sudah yuk, kamu istirahat lagi. Kamu makan ya, dari siang kamu belum makan kan?" tanya Mama Ratna.


"Mama panggil Bik Ela ya untuk antar makanan kamu" Mama Ratna keluar kamar dan memanggil Bik Ela.


Bik Ela yang terbangun dari tidurnya. Langsung ke dapur untuk membuatkan Sup Asparagus untuk Chika. Begitu selesai, Mama Ratna mengantarkan Sup Nya.


"Dimakan dulu yuk Nak" Mama Ratna meniup sesendok sup dan memberinya ke Chika.


***


Sudah tiga hari Chika tidak masuk kerja. Airin sudah sangat merindukan Chika. Sebab Airin lebih dekat dengan Chika selain dengan Rika dan Gita.


Di kediaman keluarga Ebrahim saat sedang sarapan. Airin terlihat murung dan bahkan tidak menyentuh makanannya. Membuat semua orang bertanya-tanya. Biasanya Airin lebih heboh menghabiskan sarapannya dengan sangat lahap.


"Kamu kenapa Rin?" tanya sang Mama.


"Aku kangen Bu Guru. Bu Guru gak masuk-masuk" sambil memajukan mulut kecilnya.


"Bukannya kemarin ada?" tanya Mamanya.


"Bukan Bu Rika dan Bu Gita Ma" jawab Airin.


"Airin gak mau masuk kalo Bu Chika gak masuk" Airin membuang mukanya.


"Kan masih ada Bu Rika sama Bu Gita" sang Mama berusaha membujuknya.


"Hari ini Airin sekolah dulu ya, siapa tahu Bu Chika sudah masuk hari ini" bujuk sang Omah. Airin berpikir sejenak dan menyetujuinya.


Begitu sampai di sekolah, ia tak juga melihat keberadaan Chika. Airin menangis di mejanya. Ia ingin bertemu dengan Chika. Rika dan Gita pun bingung bagaimana cara menghentikan tangisan Airin.


Akhirnya mereka mengantarkannya ke Alvaro. Alvaro yang sedang bekerja sambil melihat kegiatan Karin, menghentikan kerjanya.


"Ada apa ini? Airin, kamu kenapa menangis?" Alvaro mengusap air mata Airin.


"Kalian boleh kembali ke kelas. Biar Airin bersama saya. Terima kasih ya sudah mengantarkan Airin" Alvaro tersenyum ke Rika dan Gita.