To Be A Continue

To Be A Continue
Kebodohan?



Zoya menghiraukan pertanyaan Alvaro. Ia malah pergi ke dapur dan membuatkan minuman untuk Alvaro.


"Minumlah dulu, hitung-hitung sebagai tanda terima kasihku" kata Zoya.


"Zoya, apa keluargamu di sana tau kamu sedang sakit?" tanya Alvaro.


"Tau atau tidak mereka tetap tidak akan peduli padaku" jawab Zoya.


Alvaro menengguk secangkir teh hijau yang di buat Zoya. Zoya tersenyum melihat Alvaro meminum minuman buatannya.


"Alva" panggil Zoya. Alvaro menengok ke arah Zoya.


"Sepertinya aku harus pulang" Alvaro bergegas untuk berdiri dari tempat duduknya. Namun, Zoya lebih dulu mencium Alvaro.


"Zoya!" Alvaro mendorong Zoya hingga terduduk di sofa.


"Apa yang telah kamu lakukan?" Alvaro terkejut.


"Alva, kita berteman sudah sangat lama. Bahkan kedekatan kita tidak seperti seorang sahabat melainkan seperti sepasang kekasih. Aku mencintaimu Alva" kata Zoya.


"Dan aku yakin kamu juga mencintaiku" sambungnya.


"Gak, kamu salah Zoya. Aku tidak akan mencintai orang lain selain istri dan anak-anakku" Alvaro kembali terkejut dengar ungkapan Zoya.


"Alva kamu gak usah munafik. Katakan saja jika kamu memang memiliki perasaan yang sama padaku" kata Zoya.


"Aku sungguh-sungguh tidak memiliki perasaan apapun sama kamu Zoya. Hubungan kita hanya sebatas teman. Gak lebih"


"Alva, gak ada yang namanya teman dengan lawan jenis tanpa ada perasaan satu sama lain. Begitupun aku, cara kamu perlakukan aku membuat aku nyaman dan cinta sama kamu"


"Jika kamu hanya mencintai istri dan anak-anak kamu. Kamu gak akan ada disini bersamaku. Kamu gak akan langsung menghampiriku saat aku berada di rumah sakit. Sudah jelas kamu mencintaiku Alva!" Alvaro terdiam.


Dulu dia meninggalkan Chika dan bersama Fara hanya sebagai alasan agar dirinya putus dengan Chika dan pergi ke luar negeri. Kini, Dia meninggalkan Chika dan anak-anaknya di pantai hanya karena Zoya masuk rumah sakit.


"Tidak, kamu salah paham Zoya. Aku hanya menganggap mu sebagai sahabat" kata Alvaro.


"Aku hanya membalas kebaikanmu dulu padaku saat aku berada di Singapura. Gak ada sedikitpun perasaanku untukmu Zoya" sambungnya.


"Heh, kamu menyakitiku Alva. Kamu yang membuatku jatuh cinta, kamu membuatku merindukanmu dan kamu yang membuatku kesini hanya untuk bertemu denganmu dan berharap kita benar-benar menjadi sepasang kekasih" kata Zoya.


"Maaf, maafkan aku jika memang aku membuatmu seperti itu. Tapi aku memang tidak memiliki perasaan apapun pada mu Zoya. Aku sudah memiliki keluarga. Aku sangat mencintai istri dan anak-anakku" Alvaro telah kehabisan kata-kata.


Zoya menangis dan membuat Alvaro semakin merasa bersalah. Ia juga mengakui bahwa dirinya bersalah pada Chika.


"Aku harus pulang" Alvaro berjalan keluar.


"Alva! Aku gak akan segan-segan menyakiti diriku! Kamu udah membuatku sakit hati Alva!" Zoya mengambil pisau dari dapur.


"Zoya! Jangan kamu lakukan kebodohan itu!" Alvaro menghentikan langkahnya.


"Kenapa? kamu sudah membuatku sakit hati. Kamu sudah membuatku berharap lebih. Untuk apa lagi aku disini jika nyatanya kamu sudah bahagia dengan yang lain" Zoya mencoba melayangkan pisau tersebut.


Dan Bugh


"Zoya~ hentikan!" Alvaro terjatuh ke lantai.


Zoya menarik pisau tersebut dan terdiam melihat Alvaro bersimbah darah. Zoya menyesal dan langsung membawa Alvaro ke rumah sakit.


"Ku mohon bertahanlah. Maafkan aku!" Zoya menangis sambil menyetir mobil dengan kecepatan tinggi