
Jantung Chika seakan berhenti secara tiba-tiba. Pertanyaan sederhana tapi terasa sulit untuk di jawab bagi Chika.
"Ya aku sama Pak Alva ya sama kayak kalian. Hanya sebatas atasan sama karyawan" jawab Chika. Tatapan mereka mulai berkurang.
"Gak mungkin sih kalo hanya sebatas itu" jawab Rika.
"Gimana kalo kita pulang sekarang saja? Sebentar lagi acara sudah mau di mulai loh" Chika mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
"Emangnya kamu gak betah disini Chik? tempatnya bagus banget. Pasti mahal nih" Rika melihat ke sekeliling ruangan.
"Mau sebagus apapun kalo namanya rumah sakit tetep aja gak enak" jawab Chika.
Akhirnya Rika dan Gita membantu Chika berjalan keluar ruangan. Masih terasa sakit untuk di buat jalan.
"Kamu tuh kenapa? perasaan tadi gak ada apa-apa" tanya Rika
"Emang sih pas dari pantai aku merasa kurang enak badan. Terus pas tadi pagi aku lemes banget. Gak sengaja terpeleset di dekat kolam. Jadi baru berasa sekarang nih sakitnya" Chika memberikan seribu alasan.
"Ya udah, kamu tunggu disini dulu. Biar aku yang urus administrasi" ucap Gita.
Chika menunggu Gita di ruang tunggu bersama Rika. Setelah beberapa lama, Gita kembali dan berdiri dengan tatapan tajamnya ke Chika sambil melipatkan kedua tangannya.
"Ah, capek lah aku. Berasa lagi main tebak-tebakan aku sama kamu Chik. Tapi aku penasaran banget" tatapan tajamnya berubah menjadi cemberut lalu duduk di samping Chika.
Gita memberikan invoice yang di berikan oleh petugas administrasi tadi. Chika menatap kertas tersebut dan tidak ada namanya melainkan nama Nyonya Alvaro.
Terjawab sudah kenapa kedua sahabatnya tersebut bersikap aneh sejak datang dan yang di maksud oleh Gita adalah administrasi Chika telah di lunasi oleh Tuan Alvaro. Terlihat tanda tangan dan nama Alvaro.
"Bisa kita bicarakan semuanya di mobil saja?" ucap pelan Chika.
Chika menceritakan tentang hubungannya dengan Alvaro. Sontak Gita menginjak rem secara mendadak. Beruntung tidak ada kendaraan lain di belakang mereka.
"Gita! Hampir aja aku meluncur ke depan" Rika memukul jok yang di duduki Gita.
"Jadi, Pak Alva itu mantan kamu Chik?" tanya Gita.
Chika menganggukan kepalanya.
"Terus gimana bisa semua serba nama Pak Alva?" tanya Rika.
"Ah iya, tadi kita tanya ke pendaftaran gak ada nama kamu. Untung aja Rika suka gak jelas. Dia sebutin nama Pak Alva dan ketemulah kamu. Lagi kamu di hubungi gak di angkat" jelas Gita pada Chika.
"Oh itu, Em"
"Udahlah Chik, jujur aja sama kita. Kita gak akan bilang ke siapapun kok. Pusing aku tebak-tebakan sendiri. Tapi aku juga kepo" sambung Gita.
"Jadi, sebenarnya" Chika menghela napas panjang.
"Saat itu aku kondisi udah pusing banget. Seingat aku, terakhir aku berada di lobby hotel. Pas aku bangun, aku udah sampai rumah sakit" jawab Chika.
"So sweet banget sih" ucap Rika.
"Iya so sweet kalo yang nemuin Pak Alva. Kalo orang lain gimana?" timpal Gita.
Setelah mereka sampai hotel, Chika mengganti pakaiannya seragam dengan Gita dan Rika. Dengan dress bernuansa biru muda yang membuat Chika semakin terlihat cantik.
Chika tetap menikmati liburan bersama sahabatnya dan melupakan kejadian yang mengecewakan itu.