
"Kenapa kamu melakukan ini semua?" tanya Chika dan meletakkan foto-foto yang ia lihat.
"Aku, ingin menebus kesalahan aku pada kamu Chik" jawabnya.
Alvaro kembali duduk di meja kerjanya. Diikuti oleh Chika yang juga di depannya. Alvaro melanjutkan pekerjaannya di temani Chika. Senyuman yang menghiasi wajah Alvaro terlihat sangat manis.
"Aku senang ada kamu disini Chik. Seandainya saja" batin Alvaro.
"Katanya ada yang ingin kamu katakan padaku? apa?" tanya Chika.
"Oh, aku, aku mau nanya gimana perkembangan Airin di sekolah? apakah dia nakal dengan temannya atau bahkan dia yang di bully oleh temannya?" tanya Alvaro sambil tetap bekerja.
"Airin di sekolah sangat baik. Jangankan nakal berteman atau berbaur dengan temannya aja dia gak pernah. Bahkan setiap ada yang mengajaknya main, dia selalu mendorong anak itu" menjelaskan ke Alvaro.
"Sebenarnya dia anak yang penyayang, dia akan sayang banget sama orang yang sudah dekat dengannya. Hanya saja, dia pernah menjadi korban bully. Itu yang membuatnya susah untuk berteman" kata Alvaro lagi.
Alvaro menceritakan lebih jelas mengenai Airin. Kejadian saat Airin menjadi korban bully. Bahkan dulu, Airin orang yang periang. Saat awal mengalami bully Airin tidak menghiraukannya. Airin menganggap itu semua sebagai hal yang biasa. Namun semakin lama hal itu semakin berlebihan dan parah.
Airin pernah di lempari tanah merah, selalu di dorong oleh temannya setiap ia menaiki permainan di taman komplek hingga pernah di ikat dan di putar-putar di mangkuk putar. Setelah di jadikan bahan tertawaan ia di tinggal oleh teman-temannya.
Yang membuatnya dia trauma, dia pernah di dorong hingga terjatuh ke sebuah selokan, dia di tertawa kan oleh teman-temannya lalu, ditinggalkannya begitu saja.
"Aku tidak tahu kenapa mereka melakukan itu ke Airin. Kenapa mereka bisa sejahat itu pada anak yang lebih muda dari mereka. Memang yang mem bully Airin anak seumur lima tahunan" jelas Alvaro.
Alvaro menyelesaikan pekerjaannya. Setelah semua selesai, Alvaro mengajaknya makan malam dan mengantarkan Chika pulang.
"Aku akan lebih sering ke yayasan, Karin sudah ingin masuk sekolah. Tapi usianya belum cukup. Jadi, aku akan membiarkan dia bermain di sekolah" ucapnya.
Alvaro membukakan pintu untuk Chika. Setelah Chika keluar, Chika berterima kasih telah di antar pulang.
"Kamu lagi lihat apa nak?" tanya Mama Maya mengagetkannya.
"Astaga Ma, ngagetin Chika aja" kata Chika sambil mengelus dada.
"Mama udah makan?" tanya Chika.
"Udah tadi, mama makan bareng Bik Ela sama Bik Tina" jawab Mama Maya.
"Loh, papa kemana? belum pulang?" tanya Chika.
"Papa makan sama Pak yanto di taman belakang" kata Sang Mama.
Setelah mengobrol dengan mamanya. Chika masuk ke dalam kamarnya. Lalu, ia membersihkan dirinya yang sudah seharian berada di luar rumah.
Setelah bersantai-santai, Chika tertidur di sofa kamar sambil memegang sebuah buku. Hari ini membuatnya ia kelelahan. Selain kegiatannya di sekolah, Chika menemani Alvaro menyelesaikan pekerjaannya.
***
Di kediaman Tuan Ebrahim, Alvaro langsung masuk ke kamarnya tanpa menyapa orang-orang di rumah tersebut.
"Tumben pulang, biasanya lo langsung ke rumah lo sendiri" tanya sang adik.
"Pengen tau aja lo dek" jawab sinis Alvaro.
Alvaro memang selalu bersikap dingin pada kedua adiknya. Tapi ia sangat sayang pada keponakannya.