
Mama Ratna sedikit cemburu dengan kedatangan Alvaro dan kedua gadis cilik. Airin melihat Mama Ratna memegang semangkuk bubur ayam buatan Bik Ela.
"Omah, omah mau makan ya? Omah makan dulu saja. Airin disini kok nungguin Bu Guru" ucap Airin.
"Oh, ini bubur untuk Bu guru sayang. Bu guru gak mau makan dari tadi" jawab Mama Ratna.
"Omah, Airin boleh suapi Bu guru gak?" tangan Airin sudah menempel di mangkuk putih berisi bubur.
Mama Ratna memberikan mangkuk bubur ke Airin. Alvaro menurunkan Karin dari gendongannya dan membantu Airin memegang mangkuk yang lebih besar dari tangan gadis kecil itu.
"Omah siapkan obat Bu guru dulu ya" Mama Ratna keluar dan menutup kamar Chika.
Saat di bawah, Mama Ratna menghampiri Mama Maya yang sedang menonton di ruang TV. Mama Ratna mendekati Mama Maya dan duduk di sampingnya.
"Kalau Chika nanti sudah menikah lagi dengan yang lain, apa dia akan melupakanku ya jeng?" Mama Ratna memajukan mulutnya.
Mama Maya tersenyum dan menyentuh pundak Mama Ratna. "Chika gak akan melupakan kamu jeng. Dia sudah menganggap mu seperti ibunya sendiri. Sama seperti Chika memperlakukanku" ucap mama Maya.
"Itu siapa ya jeng?" tanya kepo Mama Ratna.
"Setau aku dia itu teman kerjanya. Mungkin bos nya. Sebab, kalau dia guru gak mungkinkan dia gunakan mobil mewah gitu" Mama Maya menunjuk ke arah luar. Seketika Mama Ratna langsung mengintip keluar dan melihat mobil terparkir di halaman.
Di kamar Chika sedang ada Airin yang sedang menyuapi dirinya. Sesekali pandangan Chika mengarah ke Alvaro yang memegang mangkok sambil memangku Karin.
"Apa yang aku rasakan saat ini? mengapa rasa ini bercampur aduk? kenapa aku harus sedih melihat dia sedekat itu pada anaknya? Kenapa aku bahagia melihat dia disini saat aku seperti ini?" tanya Chika dalam hati.
"Bu guru ayo buka mulutnya" celoteh Airin.
"Sini coba biar Uncle yang suapi Bu guru ya" Alvaro mengambil sendok dari tangan Airin.
"Apa sih dia? di depan anaknya berani suapi aku?" batin Chika. Tapi Chika tetap membuka mulutnya.
"Omah, Omah" teriak Airin sambil lari turun tangga.
"Gak lari-lari nak. Omah disini aja kok gak kemana-mana" kata Mama Ratna.
"Omah, obat Bu guru mana?" tanya Airin.
"Oh iya, omah lupa. Yuk kita ke atas kasih obat ini ke Bu guru" Mama Ratna mengajak dua gadis kecil itu kembali ke kamar Chika.
Di kamar Chika merasa canggung. Berbeda dengan Alvaro yang ingin sekali memeluknya. Ia sangat merindukan Chika. Seseorang yang dulu pernah ia tinggalkan.
"Kamu" ucap Alvaro.
"Aku," ucapnya lagi.
"Terima kasih udah jenguk" ucap Chika.
"Padahal gak perlu di jenguk. Besok juga saya sudah masuk kembali" ucapnya lagi.
"Aku, minta maaf ya atas kejadian dulu" ucap Alvaro.
"Itu sudah berlalu. Biarkan menjadi kenangan" balasnya.
"Tapi Chik" belum sempat Alvaro selesai bicara Airin dan Karin sudah membuka pintu.
Setelah meminum obatnya, Chika kembali berbaring. Mama Ratna menyelimuti Chika kembali. Wajah Chika masih tampak pucat sekali.
"Kalau begitu, kami pamit pulang dulu. Bu guru juga harus istirahat" ucap Alvaro.