
Setelah selesai dengan kunjungannya, Ketua Yayasan dan rombongannya pamit pulang. Airin ikut dengan Opanya. Belum sampai rombongan Ketua Yayasan pergi, Chika sudah kembali ke kelas. Baginya tugasnya telah selesai.
Pertemuannya dengan Alvaro membuat luka yang dulu tertutup rapat terbuka kembali. Apalagi Chika melihat seorang anak gadis kecil dalam gendongannya.
Selama jam mengajar Chika melamun saja mengingat pertemuannya dengan Alvaro. Rika dan Gita heran dengan sikap Chika yang tiba-tiba melamun.
"Itu anak kenapa?" tanya Gita.
"Gak tau aku. Perasaan tadi juga biasa-biasa aja" jawab Rika sambil melirik ke Chika.
"Udah, biarkan saja" lanjutnya lagi.
Bel pulang memecahkan lamunannya. Chika melihat ke sekelilingnya dan kembali berdiri di depan bersama kedua temannya.
Perut Chika terasa sakit sekali begitu ia sudah berdiri di depan. Chika menahan sebisa mungkin karena ia sudah tahu pasti itu karena ia melupakan sarapan pagi.
Setelah semua siswa pulang mereka kembali ke ruangan staf. Di meja bulat sudah ada 3 kotak makan yang tertata rapi.
"Wih, apa tuh?" Gita lari menuju meja bulat itu saat ia melihat kotak makan. Sebab Gita dan Rika juga belum sempat sarapan.
"Kalian makan dulu sana. Dari pagi kalian belum makan kan? jadi makan dulu sana" ucap Joshua menghampiri mereka.
"Ih, tumben banget ya Jojo baik sama kita" balas Gita.
"Chik, kamu kok diam saja" Rika menyenggol lengan Chika.
"Hehehe iya, aku lapar banget" memang Chika sudah lapar tapi bukan itu yang membuatnya diam hari ini.
Selesai makan mereka merapikan meja dan membuang kotak makan tadi ke tempat sampah. Setelah rapi dan bersih, mereka pulang bersama.
"Ciye, yang pulang bareng, tadi berangkat juga bareng" canda Gita.
"Ya sudah, kamu antar Gita aja Jo. Aku bisa kok jalan sama Rika" kata Chika.
"Ih, baper deh. Aku cuma becanda Chik. Lagi aku malas kalo sama Joshua bawanya ngebut mulu" Chika tidak merasa Joshua membawanya ngebut. Malah Joshua bawanya pelan dan hati-hati banget.
"Udah ayo Chik, Gita mah udah biasa jalan" Joshua mengajak Chika untuk naik ke motor maticnya.
"Heh, kalian ini ribut mulu. Nanti bisa jatuh cinta loh. Lihat tuh, ada anaknya Ketua Yayasan dari tadi ngeliat kalian ribut" di tengah keributan mereka bertiga ternyata sudah ada orang yang menunggu Chika
"Alvaro" panggil lirih Chika.
"Siapa?" tanya Rika
"Kalo gak salah namanya itu tadi" jawab Chika.
Melihat Chika dan teman-temannya melihat ke arahnya, Alvaro langsung menghampiri mereka berempat. Sambil mengeluarkan senyumannya yang manis.
"Aduh, pengen pingsan aku lihat senyumannya" ucap Gita.
Alvaro semakin mendekat, jantung Chika semakin berdetak kencang. Setelah sekian lama, perasaan berdebar-debar masih sama seperti dulu. Bukankah ia sudah mencintai Theo? seharusnya perasaan itu sudah tidak ada.
"Siang Pak, ada yang bisa kami bantu?" tanya Rika dengan ramah.
"Saya menunggu Bu Chika. Ada kepentingan yang harus saya bicarakan padanya" ucap Alvaro.
"Mengenai apa ya Pak?" tanya Chika.
"Mengenai ponakan saya Airin. Sebab setahu saya Airin lebih dekat pada anda" jawab Alvaro.
"Udah sana Chik. Kita pulang duluan ya. Ayo Jo, antar aku aja" kata Rika.