
Vian meletakkan sekotak kue Red Velvet ke meja Chika. Lalu ia duduk di kursi depan Chika.
"Tolong ya, yang di sana gak usah ikut-ikutan" teriak Vian.
"Udah-udah. Kalian ini gak pernah akur deh." kata Chika.
"Ada apa nih?" tanya Chika.
"Aku dengar kakak suka sama Red Velvet. Jadi aku bawain Red Velvet terenak di kota ini" kata Vian.
"Oh, terima kasih ya" Chika kembali fokus ke layar komputer.
"Kamu gak pergi rekaman? Kenapa masih disini?" tanya Chika.
"Astaga, basa-basi dulu kek, apa kek. Udah di usir aja." Vian menundukkan kepalanya.
Chika kembali menatap Vian. Ia berkata " Ya udah, ada apa sebenernya?"
Vian tersenyum dan berbisik ke Chika. Membuat dirinya terkejut.
"Apa? Kamu serius? Jangan terlalu buru-buru. Belum tentu hasilnya sesuai dengan harapan kamu" kata Chika.
"Support dong." jawab Vian.
"Aku ada satu lagu yang aku buat untuk nembak dia. Nanti selesai rekaman aku minta saran dari kakak ya." pinta Vian.
Setelah mengatakan itu Vian langsung keluar dari ruangan Chika. Chika hanya bisa menggelengkan kepalanya.
***
Saat jam makan siang, Chika menjemput Angela di sekolahnya. Usai menjemput Angela, Chika pulang bersama ke rumahnya. Ketiga anak mereka berada di rumah bersama sang ayah yang memilih kerja di rumah.
Sampai depan rumah Chika mengambil tas dan menggendong Angela yang tertidur sejak masuk mobil. Kegiatan di sekolahnya semakin padat membuat gadis cantik itu terlelap di dalam mobil.
Begitu ia buka pintu, betapa terkejutnya melihat kondisi rumah yang seperti habis di terjang angin ****** beliung.
"Sst~ Kakak kalian sedang tidur. Bunda ke atas sebentar ya" kata Chika sambil membawa Angela ke kamarnya.
Selesai menaruh Angela di kamarnya. Chika kembali turun dan menemui ketiga anak kembarnya.
"Ayah kemana?" tanya Chika.
"Ayah lagi kerja bunda. Jadi kita main sama Om Rino." jawab Dita.
"Kalau begitu sekarang kalian bantu bunda merapikan mainan kalian yuk" ajak Chika.
Chika memang tidak pernah melarang anak-anaknya bermain bahkan sampai membuat rumah penuh dengan mainan dimana-mana.
Setelah bermain Chika selalu mengajak anak-anaknya untuk merapikannya kembali. Agar kelak ia terbiasa setelah bermain di rapikan kembali.
Usai merapikan mainan bersama anak-anaknya Chika menyibukkan dirinya di dapur. Sesibuk apapun pekerjaan Chika, sebisa mungkin ia tidak akan lupa dengan tugasnya sebagai istri dan ibu dari empat anak.
Sementara Chika memasak, anak-anak menikmati film yang di putar oleh Chika di temani oleh Arin pembantu di rumah.
"Makanan sudah siap." teriak Chika.
"Dita, kamu panggil ayah ya." pinta Chika.
"Zahir, Dami, kamu bangunin kakak kamu ya di kamar." lanjutnya.
"Siap bunda!" ucap mereka bertiga secara bersamaan.
"Arin, ini buat kamu sama Rino. Kamu mau makan di ruang makan, di taman, dimana pun terserah kamu. Asal jangan di ruang TV ya" kata Chika.
"Saya mau bawa pulang aja boleh Bu? untuk makan bersama ibu saya di rumah." kata Arin.
"Oh, boleh-boleh" jawab Chika.
Setelah semua turun, mereka mulai menempati tempatnya masing-masing di meja makan. Chika membiasakan anak-anaknya saat makan tidak ada yang boleh sambil berbicara ataupun bercanda.