
"Bagaimana? sudah ada info tentang perempuan ini?" tanya seorang Pria dari balik kursi putarnya yang besar.
"Sudah ada bos. Kami sudah mendapatkan info dan keberadaannya bos" ucap seorang pria tinggi dengan badan yang tidak besar dan juga tidak kecil.
Orang itu menceritakan info yang mereka dapat. Melaporkan segala yang mereka ketahui. Pria yang berada di kursi putar itu tersenyum sinis.
"Kerja bagus! kalian boleh keluar dari ruangan ku" perintah pria itu.
***
Sudah tiga bulan kepergian Theo. Chika masih tinggal di kediaman Theo. Selain orang tua Theo yang memintanya, Itu juga yang terdapat di dalam surat wasiat. Theo menyerahkan rumah dan Cafenya untuk Chika. Seluruh aset yang di miliki Theo jatuh ke Chika.
Tapi itu tidak membuat Chika senang. Chika masih sangat sedih atas kepergian sang suami. Begitu singkat mereka menjalani hubungan pernikahan.
Begitu banyak kenangan yang ada di rumah itu. Membuat Chika tak sanggup hidup tanpa Theo. Bayangannya bersama Theo sejak awal menikah sampai terakhir sebelum Theo pergi.
Orang tua Theo datang ke kediaman Theo. Mama Ratna membawakan makanan untuk Chika.
"Nak, kamu makan dulu ya. Mama membawakan makanan untuk kamu. Kamu harus bisa kembali seperti dulu" ucap sang mama mertua.
"Mama ikhlas, mama terima semua ini. Jadi kamu juga harus bisa kuat dan bangkit lagi. Jangan jadikan kepergian suamimu penunda kebahagiaanmu" lanjutnya.
"Ma, Chika kangen Theo" Chika kembali menangis.
"Sudah, sudah. Kamu harus kuat ya sayang" Mama Ratna memeluk Chika. Mama Ratna sudah menganggap Chika sebagai anaknya.
"Tapi ma, ini terlalu singkat! belum sempat aku membahagiakannya ma!" Chika menangis di pelukan sang mertua.
Bel rumah berbunyi, Bik Tina yang melihat kondisi mereka. Segera lari untuk membukakan pintu. Tanpa melihat layar CCTV, Bik Tina membukanya.
Chika langsung menghampiri Sandara dengan wajah yang masih penuh dengan air mata. Begitu sampai di depan pintu, Sandara mendorong Chika sekeras mungkin.
"Ini semua gara-gara lo! seharusnya lo yang mati! bukan Theo!" Sandara menarik rambut Chika agar berdiri.
"Seharusnya gue sekarang sudah kembali bersama Theo! Karena lo, Theo pergi untuk selamanya!" Rambut Chika kembali di tarik hingga Chika mendapat melihat ke arah luar. Chika terkejut begitu melihat mobil yang menabrak Theo berada di depannya.
"Jadi, kamu yang mencelakakan kita malam itu?" tanya Chika.
"Kalau iya kenapa? demi merebut posisiku kembali." Sandara bertanya kembali.
"Lagi yang seharusnya mati itu lo bukan Theo!" Chika mendorong Sandara sekuat tenaganya.
"Kamu boleh membunuhku! kamu boleh mencekik ku hingga aku mati! tapi, cara mu waktu itu sudah membuat orang yang aku cintai pergi selamanya!" kini Chika tidak dapat menahan emosinya.
"Kamu! telah membunuh orang yang aku cintai!" teriakan Chika membuat Mama Ratna dan Papa Ben keluar menghampiri Chika.
"Kamu sudah membunuh suami aku!"
"Kamu sudah menghancurkan ku!" Chika terjatuh dan menangis kembali.
Mama ratna berusaha membangunkan Chika dan Papa Ben menarik Sandara agar menjauh dari Chika.
Mama Ratna menampar wajah Sandara dengan kencang "Sandara! saya tidak menyangka kamulah yang telah membunuh anak saya! seharusnya kamu sadar diri! kamu yang lebih dulu mencampakkan anak saya!" Mama Ratna mengarahkan jari telunjuknya ke arah Sandara.
"Akan saya bawa kasus ini ke hukum! Saya tidak ingin pembunuh anak saya berkeliaran begitu saja!" ucapnya lagi.